Senin , 1 Mei 2017

Home » Pringgitan » Budaya jawa » Wayang Klithik Riwayatmu Kini

Wayang Klithik Riwayatmu Kini

7 November 2016 17:55 WIB Category: Budaya jawa, Pringgitan, Tradisional Dikunjungi: kali A+ / A-
Foto: kratonpedia.com

Foto: kratonpedia.com

Saat ini, wayang klithik masih secara rutin dipergelarkan setahun sekali di Desa Wonosoco tepatnya di Sendang Dewot. Ritual yang mengikutsertakan wayang klithik ini dipercaya untuk memperlancar sumber pada mata air tersebut. Saking sakralnya, sampai-sampai penduduk desa setempat tak pernah alpa menggelarnya.

JAGAT budaya Jawa memang kental dengan produk keseniannya. Dan itulah yang paling menonjol dari tujuh unsur kebudayaan universal di dalamnya. Dan satu dari sekian wujud kesenian yang bisa ditemui di tanah leluhur ini adalah kesenian wayang. Namun seiring bergulirnya waktu, beberapa jenis wayang ini ada yang tak mampu menahan gempuran modernisasi zaman. Jika wayang purwa dengan cerita Mahabharata dan Ramayana masih dapat dijumpai hingga kini, beda cerita dengan wayang beber, wayang jemblung, dan yang akan dibahas kali ini adalah Wayang Klithik.

Wayang Klithik adalah Wayang yang terbuat dari kayu dan pertama kali diciptakan oleh Pangeran Pekik Adipati Surabaya. Dalam riwayat lain juga disebutkan jika wayang klithik diciptakan oleh Sunan Kudus pada kurun abad 16-17 dan dipergunakan sebagai sarana dakwah Islam. Riwayat kedua ini juga bisa dipertanggungjawabkan sebab sampai hari ini, wayang klithik yang masih bertahan berasal dari Desa Wonosoco, Undaan, Kudus.

Selain disebut wayang klithik wayang ini disebut juga dengan wayang Krucil karena wayang ini bentuknya kecil. Cerita yang dipakai dalam wayang klithik, pada umumnya mengambil dari zaman Panji Kudalaleyan di Pajajaran hingga zaman Prabu Brawijaya di Majapahit. Jadi bisa dibilang pagelaran wayang klithik mengambil cerita Panji dan Damarwulan. Sementara bunyi “klithik, klithik” yang ditimbulkan setiap pementasan diyakini sebagai asal mula istilah penyebutan wayang klithik.

Di Jawa Tengah wayang klithik memiliki bentuk yang mirip dengan wayang gedog. Tokoh-tokohnya memakai dodot rapekan, berkeris, dan menggunakan tutup kepala tekes (kipas). Sementara di Jawa Timur tokoh-tokohnya banyak yang menyerupai wayang purwa, raja-rajanya bermahkota dan memakai praba. Di Jawa Tengah, tokoh-tokoh rajanya bergelung Keling atau Garuda Mungkur saja. Adapun gamelan yang dipergunakan untuk mengiringi pertunjukan wayang ini amat sederhana, berlaras slendro dan berirama playon bangomati (srepegan). Ada kalanya wayang klithik menggunakan gending-gending besar.

Saat ini, wayang klithik masih secara rutin dipergelarkan setahun sekali di Desa Wonosoco tepatnya di Sendang Dewot. Ritual yang mengikutsertakan wayang klithik ini dipercaya untuk memperlancar sumber pada mata air tersebut. Saking sakralnya, sampai-sampai penduduk desa setempat tak pernah alpa menggelarnya. Pernah suatu ketika penduduk desa tidak melaksanakan upacara yang digelar untuk memperlancar sumber mata air tersebut. Akibatnya, penduduk di sekitar pun sempat mengalami musibah. Bahkan dalang-nya pun bukan sembarang dalang. Dalang yang berhak ndhalang dalam ritual tersebut adalah keturunan Ki Sumarlan, sang dalang wayang klithik pertama di Wonosoco.

Penasaran? Tak ada salahnya Anda berkunjung ke sendang yang keramat itu, sekaligus merasakan keluhuran budaya yang masih dijunjung tinggi oleh penduduk sekitar.
(Fadhil Nugroho/CN41/SMNetwork)

Wayang Klithik Riwayatmu Kini Reviewed by on . [caption id="attachment_194633" align="alignnone" width="400"] Foto: kratonpedia.com[/caption] Saat ini, wayang klithik masih secara rutin dipergelarkan setahun [caption id="attachment_194633" align="alignnone" width="400"] Foto: kratonpedia.com[/caption] Saat ini, wayang klithik masih secara rutin dipergelarkan setahun Rating: 0