Senin , 1 Mei 2017

Home » Pringgitan » Budaya jawa » Unjuk Pengharapan Dalam Batik Banyumasan

Unjuk Pengharapan Dalam Batik Banyumasan

2 Oktober 2016 17:33 WIB Category: Budaya jawa, Pringgitan, Tradisional Dikunjungi: kali A+ / A-
Foto: industri.bisnis

Foto: industri.bisnis

SIAPA yang tak kenal batik? Kain dengan beragam motif itu telah merambah ke seantero nusantara. Seolah menjadi ‘identitas fashion nasional’, batik dikukuhkan sebagai warisan budaya intangible (tak benda).

Dalam perjalanannya, batik terbagi menjadi beragam corak. Ada batik Surakarta dan Yogyakarta yang terkenal dengan batik kraton, ada pula batik pesisiran yang berkembang di pantai utara Jawa. Namun, tahukah Anda jika ada pula batik dari wilayah Banyumas?

Batik Banyumasan memilik dua motif, yakni batik kraton dan batik petani. Motik batik pengaruh kraton adalah motif-motif batik yang dikembangkan mempunyai kesamaan dengan motif-motif batik dari Kraton Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Sebut saja motif parang, ayam puger, kawung, truntum, sidomukti, sidoasih, babon angrem, sawat lar, dan semen latar ireng.

Sementara batik petani adalah motif-motif batik yang dikembangkan dari motif-motif yang berasal dari lingkungan sekitar, dan sebagian besar bermotif dedaunan, bunga, binatang, misalnya motif lumbon, jahe serimpang, jahe lumbon, serayon, kopi pecah dan sebagainya.

Menurut catatan sejarah, perkembangan batik Banyumas yang berpusat di daerah Sokaraja dibawa oleh pengikut-pengikut Pangeran Diponegoro pasca peperangan tahun 1830. Mereka kemudian menetap di wilayah Banyumas. Budaya membatik yang mereka lakukan pun lama kelamaan merambah pada masyarakat di Sokaraja.

Konon salah seorang pengikut Pangeran Diponegoro yang bernama Najendra berperan penting dalam pengembangkan batik celup di Sokaraja. Bahan mori yang dipakai berasal dari tenunan sendiri. Warna-warna batik diperoleh dari pohon tom, pohon pace dan mengkudu yang memberi warna merah semu kuning.

Pendapat lain mengatakan, batik Banyumas dibawa oleh pengungsi-pengungsi dari daerah Solo ketika di Kerajaan Mataram terjadi perang saudara sekitar tahun 1680.

Maka tak heran jika batik Banyumasan khas dengan warna soga coklat kekuning-kuningan, atau warna antara batik Surakarta dan Yogyakarta. Adapun makna filofis dari setiap motif batik Banyumas, antara lain dipengaruhi oleh kepedulian masyarakat Banyumas terhadap alam lingkungannya, serta sebagai doa, pujian dan pengharapan yang diwujudkan dalam sebuah gambar.
(Fadhil Nugroho – Dari berbagai sumber)

Unjuk Pengharapan Dalam Batik Banyumasan Reviewed by on . [caption id="attachment_791645" align="alignnone" width="361"] Foto: industri.bisnis[/caption] SIAPA yang tak kenal batik? Kain dengan beragam motif itu telah m [caption id="attachment_791645" align="alignnone" width="361"] Foto: industri.bisnis[/caption] SIAPA yang tak kenal batik? Kain dengan beragam motif itu telah m Rating: 0