Minggu , 25 Juni 2017

Home » Liputan Khusus » Laporan » Tertolong Lima Ratus Ribu Rupiah

Tertolong Lima Ratus Ribu Rupiah

Kisah Ikut Kojai

10 Juni 2017 22:57 WIB Category: Laporan, Liputan Khusus Dikunjungi: kali A+ / A-
MENATA BARANG: Yatmini menata barang dagangannya di Pasar Jamu Nguter, Desa Nguter, Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo, Sabtu (10/6). (suaramerdeka.com/Asep Abdullah Rowi)

MENATA BARANG: Yatmini menata barang dagangannya di Pasar Jamu Nguter, Desa Nguter, Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo, Sabtu (10/6). (suaramerdeka.com/Asep Abdullah Rowi)

JIKA teringat masa lalu saat beberapa tahun pertama membuka usaha di Pasar Jamu Nguter, Yatmini hanya bisa mengelus dada. Bahkan perempuan 75 tahun itu, sempat berpikiran menutup usahanya.

Namun niatnya yang menjurus pada keputusaan itu, pudar. Meskipun kala itu Mbah Yatmi sapaan akrabnya, kesulitan modal untuk mengembangkan usaha peralatan jamu gendong atau cenik. Maklum sejak membuka usaha kecil-kecilannya itu, dia seorang diri. Saat itu tahun 1991-1992, suaminya Ngadimen (76) masih merantau ke Ibu Kota Jakarta untuk mencukupi kebutuhan keluarga. “Rumiyin modalnya alit (dulu modalnya kecil),” tutur dia dengan bahasa campur Jawa-Indonesia, Sabtu (10/6).

Di dalam kiosnya di pasar yang terletak sekitar lima ratus meter dari Bengawan Solo, Desa Nguter, Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo itu, Mbah Yatmi berkali kali menghela nafas panjang. Bahkan raya syukur yang meluncur dari mulutnya, hingga tidak terhitung jumlahnya. Salah satunya karena pinjaman modal Rp 500 ribu saat pertama masuk menjadi anggota Koperasi Jamu Indoensia (Kojai) tahun 2000. “Dari pinjaman itu, saya melanjutkan nafas dan kembangkan usaha,” celetuknya.

Bagi ibu dua anak, Sunarmi dan Suparjo itu, pinjaman Rp 500 ribu memang tidak besar. Namun dia menceritakan, dengan nominal tersebut, menjadi titik awal usaha cenik dari bambu itu, menjalar ke bahan baku utama jamu. Diantaranya untuk membeli kunir, jahe, kapulaga dan kencur yang kemudian dijual kembali di kiosnya yang berukuran 2×2,5 mter. “Setelah lunas setahun, saya beranikan pinjam lagi. Alhamdulillah diberi Rp 10 juta. Beberapa tahun kemudian diberi lebih lagi Rp 30 juta,” kata dia.

Warga RT 1 RW 4 Desa Nguter itu pun tidak menyangka, jika usahanya kian besar. Sesekali mengingat perjuangan yang dirintis 26 tahun silam, Mbah Yatmi pun berkaca-kaca. Bahkan pinjaman lebih besar tidak disia-siakan. Saat ini dia memiliki dua kios cukup besar. Bahkan dia mulai mengajak puterinya, Sunarmi untuk membantunya. “Sakniki kula gadah kaleh panggenan (saya punya dua kios). Saya juga buat jamu sendiri, dan menjualkan produk orang lain. Saya sangat bersyukur ada koperasi,” akunya.

MENGEMAS JAMU: Pekerja tengah mengemas jamu yang berada di bawah naungan Kojai di Desa Nguter, Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo, Sabtu (10/6). (suaramerdeka.com/Asep Abdullah Rowi)

MENGEMAS JAMU: Pekerja tengah mengemas jamu yang berada di bawah naungan Kojai di Desa Nguter, Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo, Sabtu (10/6). (suaramerdeka.com/Asep Abdullah Rowi)

Tidak Hanya Simpan Pinjam

Tidak jauh berbeda dengan Tuti. Pedagang jamu 46 tahun yang baru masuk pasar pada 2002 itu berinisiatif ikut Kojai yang berada di bawah naungan Paguyuban Perajin Jamu Nguter. Bagi ibu tiga anak, bernama Angga (17), Sofyan (13) dan Fira (8), koperasi menjadi wadah. Meskipun dia pernah menikmati program simpan pinjam senilai Rp 1 juta untuk tambahan modal usaha. Lebih-lebih bunganya cukup kecil. “Bagi saya koperasi tidak hanya simpan pinjam semata. Ttapi wadah,” jelas dia.

Menurut Tuti yang juga menjadi bagian dari tulang punggung keluarga itu, selama 15 tahun menjadi anggota koperasi, cukup mengesankan. Karena setiap saat mendapatkan update informasi, pelatihan atau bimbingan teknis soal inovasi produk jamu, pengurusan perizinan dan juga menjalin silaturahmi. “Banyak manfaatnya. Dengan beberapa program yang tidak hanya berupa simpan pinjam itu, bisa mendorong kemajuan setiap waktu. Karena ada pembinaan secara masif bagi anggotanya,” harapnya.

Ketua Kojai, Moertedjo membenarkan, selama 1995 berdiri, koperasi yang beranggotakan 75 orang dari pedagang dan perajin jamu Nguter itu, tidak hanya terpaku dalam satu program berupa simpan pinjam. Tetapi ada beberapa program kreatif untuk anggota. Diantaranya yang paling dibutuhkan anggota yakni pengurusan izin produk jamu ke Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) serta sosialisasi. “Soalnya jamu rawan, jadi izin harus jelas. Maka kami bantu semua tahapannya,” paparnya.

Bu Moer sapaan akrabnya menerangkan, dari 75 anggota, ada 60 orang yang memanfaatkan simpan pinjam untuk permodalan. Yakni 90 persen pedagang dan perajin yang masuk ketegori mikro. Sementara bagi mereka yang usahanya kian besar, disarankan mencari modal ke bank. “Kami melayani pedagang dan perajin kecil dahulu. Kami dorong agar mereka bertambah besar. Bahkan simpanan wajibnya saja tidak berat loh, hanya Rp 5-10 ribu. Simpanan pokok Rp 100 ribu per orang,” terang dia.

Terpisah lanjut Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Kabupaten Sukoharjo, Sutarmo menambahkan, di Kota Makmur ada sekitar 840 koperasi. Namun 300-380 diantaranya tidak aktif, sehingga dievaluasi dan dibubarkan. Sementara untuk koperasi yang aktif, benar-benar menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat di setiap daerah. Diantaranya seperti Kojai di Nguter.

Dengan keaktifan pedagang dan perajin jamu tersebut, maka pada 2015 lalu Menteri Koordinator Bidang Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Puan Maharani dan beberapa kementerian lainnya, mengukuhkan Kota Makmur menjadi Kabupaten Jamu di Indonesia. “Kami dorong koperasi inovatif. Seperti Kojai. Contoh koperasi yang maju dari daerah lain, diambil programnya, kemudian divariasi sesuai kebutuhan yang ada saat ini,” jelasnya.

(Asep Abdullah Rowi)

Tertolong Lima Ratus Ribu Rupiah Reviewed by on . [caption id="attachment_1070592" align="alignnone" width="400"] MENATA BARANG: Yatmini menata barang dagangannya di Pasar Jamu Nguter, Desa Nguter, Kecamatan Ng [caption id="attachment_1070592" align="alignnone" width="400"] MENATA BARANG: Yatmini menata barang dagangannya di Pasar Jamu Nguter, Desa Nguter, Kecamatan Ng Rating: 0