Foto: suaramerdeka.com / Hendra Setiawan

Zahra Akhirnya Dapat Emas Kejurnas Catur

Foto: suaramerdeka.com / Hendra Setiawan

Foto: suaramerdeka.com / Hendra Setiawan

SETELAH menanti enam tahun, Zahra Chumaira akhirnya meraih medali emas di Kejurnas Catur. Pecatur kelahiran Kudus, 11 Januari 1998 dan besar di Semarang itu membawa pulang satu emas dan satu perak, saat tampil dalam Kejurnas Catur di Makassar, belum lama ini.

Emas didapatkan dari nomor catur cepat kelompok umur B (16-17), sementara perak dari nomor catur klasik di kelompok umur yang sama. Zahra yang juga siswa kelas 12 SMA 5 itu berhasil menyisihkan puluhan atlet dari berbagai daerah di Indonesia.

”Akhirnya saya berhasil meraih emas di kejurnas. Ini menjadi tahapan penting yang dilewati untuk dapat menjadi andalan Indonesia di kancah dunia,” kata gadis yang lahir dari keluarga pecatur itu.

Keikutsertaan dalam kejurnas sudah dimulai sejak 2008 lalu. Karena baru pertama kali, dia gagal menembus 10 besar pada kejurnas yang saat itu digelar di Bandung. Kegagalan itu membuatnya sempat patah semangat sehingga tak tampil di kejurnas 2009.

Semangatnya kembali tumbuh dan kembali mewakili Jateng pada Kejurnas 2010 di Manado dan masuk 10 besar. Adapun pada kejurnas 2011 di Palembang meraih perak. Dua kali berturut-turut pada Kejurnas di Jakarta, 2012 dan 2013 hanya meraih peringkat enam dan empat.

Dengan tekun berlatih dan banyak bertanding, putra pasangan Zaenal dan Antin Yohana itu berhasil mewujudkan mimpinya mendapatkan emas di kejurnas pada tahun ini. Selain Zahra, dua atlet lain asal Semarang Jateng juga meraih medali. Shanti Nur Abidah dengan satu perak dan satu perunggu, kemudian Nuh Hakim dengan satu perunggu.

Perjuangan Zahra mendapatkan emas tidak semudah membalikkan telapak tangan. Setiap malam, dia berlatih di pinggir jalan inspeksi Kali Semarang, Kampung Sumeneban Kauman. Tepatnya di dekat, bekas bangunan replika Kapal Cheng Ho. Tempat tersebut sering disebut Warung Catur dan dulu jadi tempat berlatih Perkumpulan Catur (Perca) Damar.

Setiap hari, para caturmania silih berganti datang menyambangi tempat itu dari pagi hingga larut malam. Mereka tak hanya warga setempat, tetapi juga warga kampung sekitarnya, bahkan dari kota-kota lain. Nyamuk yang menggigit kaki, tangan dan wajah menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga konsentrasi.

Zahra pun dapat beradu taktik dengan pecatur-pecatur dari daerah lain yang lebih senior dan berpengalaman. Karenanya, bakat dan kemampuannya terus berkembang. ”Meski banyak nyamuk, tetapi selalu ramai di setiap malam. Banyak pecatur yang bertanding di sana. Saat akan berangkat kejurnas, hampir tiap malam bertanding di sana. Tetapi saat akan ujian sekolah, dikurangi dan tidak sampai larut malam,” tandas Zahra.

(Hendra Setiawan /CN26)

Comments

comments