Foto: suaramerdeka.com / Hendra Setiawan

Tradisi Medali Emas dari Sirkuit Sepatu Roda

Foto: suaramerdeka.com / Hendra Setiawan

Foto: suaramerdeka.com / Hendra Setiawan

MEMBACA peta persaingan di cabang sepatu roda PON XIX Jabar, tampaknya tak akan terhindarkan duel para roller dari Jawa Timur, DKI Jaya, Jawa Tengah, Jawa Barat dan kalaupun ada daerah lain yang bisa menyusup,  paling hanya Kalimantan Timur dan Papua.

Karena itu, sangat wajar sejak awal strategi sudah harus disiapkan para pelatih, dan itu bagi Jateng menjadi kunci untuk mempertahankan medali emas di sirkuit sepatu roda.

Sebagian besar tim-tim tangguh sudah menetapkan target medali PON. Jateng misalnya, walau berpotensi merebut lima medali emas, namun hanya memasang target tiga emas saja di PON. Jayanto Arus Adi, ketua Perserosi Jateng menyebutkan, terjadi perubahan aturan lomba di PON yang berdampak berkurangnya peluang Jateng.

Sudah siapkan tim sepatu roda Jateng menghadapi persaingan di PON nanti? Inilah yang dibahas SMNetwork secara live di TVKU, Kamis (1/9) mulai pukul 16.30 – 17.30 bersama narasumber Ketua Pengprov Perserosi Jayanto Arus Adi, Manajer Tim Sri Rahayu, dan Pelatih Arief Rahman.

Dia menyebutkan, Allan Chandra Mujino yang spesialis di nomor jarak pendek seperti ITT 300 meter  dan 500 meter tak bisa tampil. Dia justru harus turun 10.000 meter dan 15.000 meter. ‘’Kalau soal target saya kira ini yang paling realistis dengan tiga medali emas, ini karena terjadi perubahan aturan pertandingan di PON,’’ katanya.

Jateng sendiri sudah melakukan persiapan yang cukup serius untuk para atletnya. Bahkan para roller menjalani pelatihan di Taiwan. Saat ini pelatda sepatu roda diisi Allan Chandra Mujino,  M Arif Rachman,  M Bagus Laksmendra, Viero Abimanyu, Aditya Kusuma, Enrico Devin P, Ajeng Anindya Prasalita, Denta iswara K, Rizky Adian P, Benita Triana, Abigail Nimas. Mereka ditangani pelatih Arif Rachman Rahardjo, Hendrawan Wibisono, Novita Setianti.

Jika kita mengacu hasil kualifikasi PON yang berlangsung di Sirkuit Saparua Bandung, Desember tahun lalu, jelas pesaing yang terkuat bagi Jateng adalah DKI Jakarta.

Kontingen ibukota yang keluar sebagai juara umum babak kualifikasi dengan meraih lima emas, tiga perak, dan enam perunggu dengan total 14 medali. Jateng kalah tipis, sama-sama meraih lima emas dan tiga perak. Perunggu Jateng hanya dua keping sehingga total mengumpulkan 10 medali. Peringkat ketiga Jawa Timur yang meraih empat emas, tiga perak dan satu perunggu.

Ambisius

Walau tak banyak diperhitungkan, tim tuan rumah memang cukup ambisius di cabang ini dengan menargetkan lima emas, tiga dari kelompok putra dan dua putri. Mereka mengincar gelar juara dari nomor-nomor jarak pendek sesuai dengan pengalaman selama ini. Tampaknya ini sesuai dengan kekhawatiran Jateng, ketika Allan tak bisa tampil di nomor jarak pendek, Jabar justru fokus di nomor itu.

Apakah ini bagian dari strategi tuan rumah untuk melemahkan lawan? Entanlah, yang pasti di lapangan nanti menjadi pembuktian.

Jabar akan menurunkan 16 atlet dalam cabang ini. Beberapa roller-nya menjalani  beberapa waktu lalu sudah menjalani pelatihan di Gyeongangbukdo, Korea Selatan. Dari pantauan catatan waktu, mereka juga mengalami peningkatan yang signifikan.

Sementara Jatim juga menggebu-gebu mempersiapkan atlet. Seperti halnya Jateng, para roller Jatim juga try out dan training center di Taiwan.

Dari sembilan atlet yang disiapkan, enam di antaranya dikirim ke Taiwan yakni Niko Amrullah, Oki Andrianto, Reza Oktafrianto, Yossi, Dela Olivia Silviana dan Aulia. Jatim sangat sadar, tiga daerah yang jadi penjegal langkahnya, yakni  DKI Jakarta, Kaltim, dan Jateng.

(I Nengah Segara Seni / CN26)

Comments

comments