Foto: istimewa

Tiga Atlet PON XIX/2016 Jateng Positif Doping

Foto: istimewa

Foto: istimewa

BANDUNG, suaramerdeka.com – Tiga atlet Jateng yang turun pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX/2016 Jabar dinyatakan positif menggunakan doping. Dua di antaranya merupakan peraih medali emas yang otomatis langsung dicopot pasca hasil tersebut.

Mereka termasuk ke dalam barisan 12 atlet pengguna zat terlarang tersebut pada sepanjang pelaksanaan pesta olahraga multievent empat tahunan itu. Selain PON, dua atlet Peparnas XV juga disebutkan positif doping. Total atlet yang terlibat doping dari dua event besar itu mencapai 14 orang.

Mereka berasal dari empat cabang dengan dominasi binaraga (delapan atlet), menembak (dua), dan berkuda dan angkat berat masing-masing satu. Kepastian itu merujuk pada hasil laboratorium yang dirilis PB PON XIX/2016 di Bandung, Senin (9/1) kemarin. Seluruh sampel doping PON yang diambil secara acak berjumlah 476 buah sedangkan Peparnas 130 buah. Pemeriksaan dilakukan di laboratorium terakreditasi di New Delhi, India.

“Hasil lab ini merupakan fakta nyata adanya konsumsi doping. Konsekuensinya, medali yang diperoleh dicabut, bonus juga tak jadi diberikan, ini keputusan Jabar,” tandas Ketua Umun PB PON XIX, Ahmad Heryawan.

Ketiga atlet asal Jateng itu adalah Mualipi dan Mheni (binaraga) dan Jendri Turangan (berkuda). Mualipi yang turun di kelas fly weight abive -60 Kg dan Jendri di kelas A terbuka jarak 1300 meter (open) mampu menggondol emas.

Jendri juga tercatat sebagai peraih perak pada nomor yang sama namun untuk jarak 2200 meter (open). Medali perak juga menjadi pencapaian terbaik Mheni saat tampil di welter weight above 70-75 Kg. Dalam sampel urin Mualipi dan Mheni terkandung zat 3-OH-Stanzolol dan 16-b-OH-Stanzolol. Untuk Jendri, zat terlarang yang berada dalam urinenya adalah furosemide dan diuretic.

Atlet lainnya yang tersandung doping berasal dari Jabar. Jumlahnya sebanyak lima orang. Mereka adalah peraih emas Roni Romero dan Iman Setiaman, peraih perak Zainal (binaraga), dan Agus Waluyo (menembak) serta peraih emas atletik Peparnas, Cucu Kurniawan.

Kemudian atlet lainnya yang kena doping dari cabor binaraga peraih perak I Ketut Gde Arnawa (Bengkulu), Rahman Widodo (Di Yogyakarta), Kurniawansyah (Babel), dan atlet menembak Riau Safrin Sihombing peraih dua emas, dua perak, dan dua perunggu, dan peraih emas angkat berat, Awang Latiful Habir (Kaltim).

Satu atlet lainnya yang terjerat doping dari ajang Peparnas adalah Adyos Astan. Petenis meja asal Maluku itu mengoleksi dua emas plus satu perunggu. Menurut Ahmad Heryawan, mereka berkesempatan mengajukan banding mengingat ada sample B yang belum diteliti. Untuk melakukan banding, prosesnya ditanggung seluruhnya oleh pengaju.

“Kami juga tegaskan, bahwa kami tak menelusuri motif atlet yang menggunakan doping saat bertanding, sanksinya sementara adalah pencabutan medali dan bonus yang tak diberikan,” jelasnya.

Wakil Ketua Umum II KONI Pusat, K Inu Nugroho yang juga turut hadir menyatakan bahwa hasil lab doping bersifat mutlak, kendati bagi atlet, langkah pembelaan masih bisa dilakukan melalui dewan tersebut. Satu hal yang tak bisa dibantah adalah bahwa hasil doping itu merupakan dasar otomatis bagi pengambilan langkah diskualifikasi hasil pencapaian atlet yang terlibat.

“Dewan disiplin akan mengurusi sisi subjektifnya apakah doping itu merupakan kesengajaan, kealpaan, kelalaian, atau sabotase. Beban pembuktiannya ada di atlet. Sanksi yang siap menanti atas pemakaian doping adalah skorsing empat tahun, kalau pun ada keringanan tak kurang dari setengahnya,” katanya.

(Setiady Dwi / CN26)

Comments

comments