Foto: Istimewa

PON XIX, Momen Kebangkitan Wushu Jateng

Foto: Istimewa

Foto: Istimewa

SEMANGAT Ketua Umum Pengprov Wushu Indonesia (WI) Jateng, Ivan Setiawan Soegiarto, layak ditiru cabang olahraga lain dalam menyiapkan atlet menuju PON XIX, 17 – 29 September 2016 di Jabar.

Betapa tidak? Dengan segala upaya, dia dan pengurus lain bahu membahu untuk ‘membangunkan’ prestasi para atlet yang dalam beberapa waktu terakhir agak ‘tertidur’.  Kala pertama ikut PON XV di tahun 2000, tim Jateng berhasil merebut lima medali emas. Setelah itu merosot, di PON XVI hanya tiga emas, kemudian PON XVII dan XVIII hanya sekeping emas.

Saat ini, tekad untuk bangkit diwujudkan dengan menyiapkan sembilan atlet sanda dan 16 taolu yang telah lolos ke pesta olahraga nasional itu. Tujuh atlet sanda menjalani latihan dan mencari lawan tanding di China sebagai asal olahraga ini, dan ada pula yang akan melakukan try out di dalam negeri seperti ke Jatim dan Yogyakarta.

Pengprov WI Jateng memang berusaha menyiapkan pasukan PON secara maksimal di bawah gemblengan tujuh pelatih dan sejumlah asisten. Bukan hanya itu, tim Jateng sejak setahun yang lalu mendapat supervisi teknis dari pelatih asal China, Gao Dhezen.

Sejauh mana persapan tim wushu Jateng untuk menuju PON XIX? Hal inilah yang akan dibahas SMNetwork dalam program Spirit PON Jateng secara live di TVKU, Kamis 21 Juli 2016 mulai pukul 17.30 – 18.30.

Narasumber yang akan hadir dalam acara ini adalah Sekum Pengprov WI Jateng merangkap Komandan Pelatda Dr Heny Setyawati MSi, pelatih nomor sanda M Slamet dan Sutantyo Purnamajaya yang menangani nomor taolu.

Persiapan para atlet wushu Jateng ini memang tidak secara tiba-tiba. Diawali dengan inventarisasi atlet selepas PON XVIII/2012 di Riau. Fokusnya adalah dengan lebih memberdayakan potensi yang dimiliki  serta menerapkan skala prioritas dalam kebijakan penanganan atlet.

Dengan perkembangan yang ada saat ini misalnya dari hasil di beberapa kali kejuaraan nasional, WI Jateng sangat optimitis menatap PON XIX.  Bukan itu saja, dalam babak kualifikasi PON, Jateng berhasil merebut dua emas, tiga perak dan tiga perunggu.

Bahkan Yusuf Widiyanto dan Puja Riyaya pernah dipercaya oleh PB WI untuk mewakili Indonesia dalam Kejuaraan Dunia Wushu di Istora Senayan, November 2015 di Istora Senayan. Yusuf menjadi atlet sanda Indonesia pertama dalam sejarah yang berhasil meraih medali emas kejuaraan dunia.

Dalam persiapan menghadapi PON XIX ini, seperti juga dirasakan sebagian besar cabang olahraga yang lain, Pengprov WI juga menghadapi berbagai persoalan teknis dan nonteknis. Paling menonjol adalah perizinan atlet dari sekolah dan tempat
kerja.

Akibatnya, mereka tidak bisa menjalani pemusatan latihan sentralisasi di Wisma Wushu Jateng di Jl Marina Semarang. Kendala lain adalah para atlet sangat sulit mendapatkan lawan latih tanding di Semarang. Melalui berbagai upaya dan perjuangan keras, WI Jateng berharap bisa memberikan yang terbaik untuk Jateng dan menjadikan PON XIX sebagai momen kebangkitan prestasi wushu.

Tim Wushu Jateng menuju PON

Atlet Sanda: Yusuf Widiyanto (56 kg pa), Puja Riyaya (70 kg pa), Ratih Erliana (56 kg pi), M Bagus Hanafi (60 kg pa), Bayu Peni (48 kg pi), Nina Puji Safitri (60 kg pi), Yusuf Susilo (65 kg pa), Ayu Utami Sari (52 kg pi) dan Catur Tri Gangga (75 kg pa).

Atlet Taolu: Dessy Wulandari (changquan dan pedang tombak pi), Ida Bagus Setiawan (changquan dan golok toya pa), Devi Indaryanti (changquan dan golok toya pi), Alexandra Calista (taijiquan taijijian pi), Ervina Yulia Sari (golok toya pi), Manna Darunafisa (duillian dan nanquan nandao pi), Salwa Darunafisa (duillian dan nanquan nandao pi), Yulia Widya Novita (dullian pi), Budhi Krisdiyantoro (duillian dan taijiquan taijijian pa), Imaz Ardzi Maulana (changquan pa), Bismantoko Sudrajat (jianshu qiangshu pa), Edo Widyananda (jianshu qiangshu pa), Ati Saidatul Ulfa (jianshu qiangshu), Nicholas Andrian Raharjo (nanquan nangun dan duillian pa), Arief Wiyarta Prakarsa (daosgu gunshu pa) dan Tjong Ellen Maygita (taijiquan taijijian pi).

Pelatih – Asisten: M Slamet SPd, Sutantyo ST, Eko Sapuan, M Shokib, Billy Erdianto, Marten Pratama, Santoso Harjanto, Rullix Desvariandi, Septiana Naumy, Gao Dhezen.

(I Nengah Segara Seni / CN26)

Comments

comments