Foto: suaramerdeka.com / Hendra Setiawan

Persiapan Minim, Jateng Gagal Masuk Tiga Besar

Foto: suaramerdeka.com / Hendra Setiawan

Foto: suaramerdeka.com / Hendra Setiawan

KONTINGEN Jateng gagal memenuhi target tiga besar pada gelaran PON Remaja I Jatim 2014. Ini menjadi catatan pahit bagi KONI Jateng maupun Dinpora Jateng. Mereka merupakan pihak-pihak yang memiliki andil penting atas sukses tidaknya Jateng di ajang PON Remaja tersebut.

Jateng hanya menduduki peringkat keempat di bawah tuan rumah Jatim, DKI Jakarta dan Jabar, serta ditempel ketat oleh Sumatera Barat. Untuk urusan perolehan medali, terlalu jauh bila harus dibandingkan dengan posisi dua besar.

Jateng yang ngos-ngosan sejak awal pelaksanaan hanya membawa pulang tujuh emas, sembilan perak dan 14 perunggu. Sementara Jatim yang keluar sebagai juara umum menggenggam 36 emas, 29 perak, 16 perunggu. Atau DKI Jakarta dengan 34 emas, 22 perak dan 18 perunggu.

Jateng terpaut lebih dari 15 medali emas dari dua provinsi yang tampil dominan di ajang pesta olahraga untuk atlet-atet usia remaja itu. Bahkan untuk predikat tim fair play, Jateng kalah dari Sumatera Barat yang secara mengejutkan, sempat menyalip Jateng dalam perolehan medali.

Dari 15 cabang yang dipertandingkan, Jateng hanya dominan dan menjadi juara umum di cabang anggar dengan satu emas, satu perak dan satu perunggu.

”Sebenarnya target kami dua emas di cabang anggar. Meski gagal memenuhinya, anak-anak sudah berjuang sekuat tenaga dan kami keluar sebagai juara umum di cabang anggar,” kata Ketua Umum Ikasi Jateng Kukuh Birowo.

Regenerasi

Sementara itu, Komandan Kontingen Jateng Sukahar menyatakan, persiapan yang minim menjadi salah satu faktor, atlet-atlet Jateng gagal menempati posisi tiga besar. Sejak lolos PraPON di 15 cabang yang dipertandingkan, atlet-atlet Jateng hanya diberi waktu kurang dari 20 hari untuk pemusatan latihan.

”Selain persiapan yang minim, banyak cabang-cabang andalan Jateng yang tidak dipertandingkan. Karenanya, hasil yang dicapai para atlet sudah maksimal,” Kata Sukahar yang juga Wakil Ketua Umum I KONI Jateng.

Dengaan demikian, kemungkinan besar Jateng hanya akan menggelar cabang-cabang yang berpotensi meraih banyak medali pada PON Remaja II 2017 mendatang, seperti taekwondo, anggar, dan sepatu roda. Cara lain yang selayaknya patut ditempuh adalah membenahi pembinaan dan regenerasi atlet.

Rencananya Jateng akan mempertandingkan 22 cabang olahraga di PON Remaja 2017. Kegagalan ini sekaligus menjadi cambuk bagi stakeholder di Jateng untuk lebih intensif memperhatikan perkembangan olahraga.

Pada 2016 mendatang, Jateng harus kembali tampil pada ajang PON XIX yang akan berlangsung di Jabar. Bila tak segera membenahi kekurangan yang masih ada, kegagalan di PON Remaja pun dapat kembali terulang.

(Hendra Setiawan / CN26)

Comments

comments