Foto: istimewa

Penyalaan Obor PON Bertema Estafet Prestasi

Foto: istimewa

Foto: istimewa

SELAMA dua jam, atraksi pembukaan ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX/2016 yang bernuansa merakyat, sederhana, dan meriah bakal berlangsung di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) Kota Bandung, Sabtu (17/9). Selain atraksi berupa tarian kolosal, panitia juga menjanjikan prosesi penyalaan obor di cauldron bakal menawarkan nuansa lain.

Presiden Jokowi bahkan dilibatkan dalam tahapan tersebut, kendati pada akhirnya penyulut api sebagai simbol bergeloranya semangat bertanding atlet itu dilakukan atlet belia berusia 11 tahun yang merupakan juara dunia karate 2015. Berdasarkan penelusuran, peraih juara dunia pada cabor tersebut adalah Lala Diah Pitaloka. Dia merupakan siswa sekolah dasar negeri Wiragati, Kecamatan Palasah, Kabupaten Majalengka.

Dia menjuarai kategori perorangan pada kejuaraan International Banzai Cup Open Karate Championship 2015 di Berlin, Oktober lalu. Dia merebut emas dengan menyingkirkan karateka dari 33 negara. “Penyulutnya Pitaloka,” kata Sekum PON XIX, Ahmad Hadadi. “Atlet muda itu asal Majalengka,” timpal Kabid Upacara, Nunung Sobari pada Jumat kemarin.

Menurut keduanya, pemilihan Lala tersebut tak terlepas dari tema besar yang ingin diusung panitia. Ajang PON harus menjadi persemaian bibit-bibit unggul. Bahwa ada legenda olahraga merupakan pembuka bagi kejayaan di masa mendatang. Karenanya, kecenderungan bahwa satu di antara legenda itu kerap melakukan penyulutan api PON tak menjadi pilihan.

Inilah kejutan itu, disamping atraksi yang ingin dikenang sebagai yang terbaik dalam sepanjang pembukaan ajang multi event empat tahunan itu digelindingkan. Skenario penyalaan cauldron itu memang melibatkan peran para legenda olahraga. Sebagian di antara mereka sudah hadir di Bandung seperti Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat hingga peraih medali emas Olimpiade Rio de Janeiro 2016, Tantowi Ahmad, Eko Yuli Irawan dan Sri Wahyuni.

Ketujuh legenda yang dipersiapkan akan membawa obor api PON pada saat memasuki tahapan pembukaan. Mereka akan menyerahkannya ke Jokowi. Penyerahan kepada RI-1 akan menimbulkan kesan api cauldron akan disulut mantan mantan Wali Kota Surakarta itu. Sebelum kemudian, sang atlet putri itu tampil dan memecahkan ketegangan dalam moment krusial itu.

“Kehadiran legenda itu sebagai simbol apresiasi atas prestasi mereka, mereka telah membawa nama baik bangsa di tingkat dunia, ketika penyulut diserahkan ke Lala ini sebagai pesan bahwa mereka menitipkan agar prestasi di masa mendatang menjadi lebih cemerlang lagi,” kata Nunung Sobari.

Dia menegaskan bahwa pemilihan karateka berusia 11 tahun itu tak sampai menimbulkan perdebatan panjang. Terlebih, opsi itu di luar arus mainstream. “Tak sampai alot keputusannya. Karena kita memang ingin berbeda, dan pesannya juga kuat, regenerasi,” katanya.

(Setiady Dwi / CN26)

Comments

comments