LIHAT MOBIL: Pengunjung sedang melihat-lihat mobil terbaru saat pameran otomotif di Mal Ciputra, belum lama ini. (suaramerdeka.com/Fista Novianti)

Penjualan Industri Otomotif Melambat

LIHAT MOBIL: Pengunjung sedang melihat-lihat mobil terbaru saat pameran otomotif di Mal Ciputra, belum lama ini. (suaramerdeka.com/Fista Novianti)

LIHAT MOBIL: Pengunjung sedang melihat-lihat mobil terbaru saat pameran otomotif di Mal Ciputra, belum lama ini. (suaramerdeka.com/Fista Novianti)

SEMARANG, suaramerdeka.com – Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi pada 1 April lalu diyakini dapat memperlambat laju penjualan industri otomotif.

“Penjualan mobil memang ada perlambatan saat kenaikan harga BBM. Hal ini biasa terjadi saat pemerintah menaikkan harga BBM. Namun, hal ini tidak akan berlangsung lama. Sekitar dua sampai tiga bulan, pasar otomotif akan kembali bergairah,” tutur Area Manager Astra Daihatsu Jateng-DIY, David Gunawan belum lama ini.

Berkaca pada pengalaman sebelumnya. Laju penjualan mobil sedikit terkoreksi saat kenaikan harga BBM. Konsumen memilih menunda pembelian sembari menunggu situasi perekonomian Indonesia kondusif.

Ia berharap pemerintah segera memberikan kepastian agar bisnis otomotif tetap kondusif. Selain kenaikan harga BBM, melambungnya nilai tukar dolar AS terhadap rupiah belakangan ini membuat harga mengalami peningkatan karena sebagian komponen merupakan barang impor.

Kenaikan harga BBM ini membuatnya konsentrasi pada penjualan mobil murah ramah lingkungan (low cost green car/LCGC). Penjualan Ayla, kata dia, diyakini masih prospektif karena konsumen lebih memilih mobil yang irit BBM.

Sepanjang 2015 ini, ia optimistis penjualan Astra Daihatsu mencapai 22 ribu unit atau naik 20% dibanding tahun lalu sebanyak 17 ribu unit. Selama ini, penjualan terbanyak masih didominasi Grand Max hingga 40%, Xenia dan Ayla 40%. Kota Semarang merupakan penjualan terbanyak hingga 28% disusul Solo dan Yogyakarta.

Samuel Wawan Branch Manager Mitsubishi Sun Motor, mengatakan, kenaikan harga BBM dipastikan akan memengaruhi kinerja dari industri otomotif, tapi para pelaku bisnis di sektor otomotif memastikan kalau pengaruhnya tak akan berlangsung lama dan tak mengganggu penjualan mobil.

Jika kenaikan harga BBM dilakukan pada waktu yang tepat, sudah bisa dipastikan kalau pengaruhnya ke industri otomotif tak akan terlalu besar. “Biasanya, pengaruh kenaikan harga BBM bersubsidi hanya terjadi di awal saja, setelah itu akan kembali lagi berjalan dengan normal,” ujarnya.

Para Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM), kata dia, memastikan kalau kenaikan harga BBM hanya akan memengaruhi angka penjualan sekitar satu hingga tiga bulan ke depan, karena para konsumen akan menghitung ulang kembali pengeluarannya.

Menurut dia, konsumen bukannya batal membeli kendaraan, melainkan hanya menundanya. Mereka menyesuaikan terlebih dulu prioritas utama sebelum membeli kendaraan. Pihaknya tidak terlalu mengkhawatirkan dampak kenaikan harga BBM. Setelah adanya penyesuaian, maka segala sesuatunya akan kembali berjalan normal dalam waktu beberapa bulan.

(Fista Novianti/CN39)

Comments

comments