Foto: suaramerdeka.com / Setyo Wiyono

Pendekar Jateng Memburu Tiga Medali Emas

Foto: suaramerdeka.com / Setyo Wiyono

Foto: suaramerdeka.com / Setyo Wiyono

MELIHAT hasil babak kualifikasi PON XIX, pencak silat sepertinya menjadi salah satu cabang harapan untuk menyumbangkan medali emas bagi kontingen Jateng. Dengan kekuatan 17 pendekar yang akan tampil di arena pesta olahraga nasional itu, pengurus Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) sangat serius  mempersiapkan diri.

Dalam gemblengan para pelatih di Padepokan Pencak Silat Jateng di Kartasura, Ketua IPSI Jateng, Harry Nuryanto Sudiro bersama unsur pengurus lain dan pelatih memotivasi para pesilat secara penuh agar di PON nanti mampu mencapai peak performace.

Dengan modal  enam emas, delapan perak dan dua perunggu saat babak kualifkasi PON, para pendekar hanya dibebani target tiga medali emas oleh KONI Jateng. Apakah peluang itu mampu terealisasi, dan seperti apa kondisi para atlet yang masih dalam pemantapan kemampuan di pemusatan latihan?

Inilah yang akan diperbincangkan secara live di TVKU dalam Spirit PON Jateng. Acara yang digelar Kamis (11/8) pukul 16.30 – 17.30 menghadirkan narasumber Ketua Harian Pengprov IPSI yang juga sebagai Komandan Pelatda, Darmadi SPd, SH, MH, Wakil Ketua Bidang Organisasi Edy Pramono SPd dan pelatih Indro Catur Haryono SPd MPd.

Para pendekar Jateng adalah dibagian putra: Muhammad Iqbal yang bertanding di kelas C, Sapto Purnomo (D), Slamet Riyadi (E), M Rizky Adi Wijaya ((F), Widiyanto (G), Tegar Ananda (H), Bagaskoro Sulistyo W (I), Linggar Uji Nugraha (Seni Tunggal). Kemudian di bagian putri masing-masing Sri Rahayu (A), Nadia Haq Umami N (B),  Anissa Pangestika (C), Mega Mushlia (E), Mega Mustika (E), Suhastian (F), Hanif Adila, Ulvya Kurniawati dan Alvika Candra Puspita (Beregu), Hanif dan Alvika (Seni Ganda).

Mereka ditangani Indro Catur H sebagai kepala pelatih dengan anggota Haris Nugroho, Rony Syaifullah dan Tuti Winarni serta Sigit Infantoro sebagai asisten pelatih. Tim ini berada di bawah manajer Pelatda, Darmadi MH.

Jika melihat data secara nasional, persaingan di cabang olahraga warisan budaya bangsa ini sangat ketat, baik dari tim-tim Jawa  maupun luar Jawa seperti Bali, Kalsel, Kaltim dan juga Sumsel serta Sumbar. Bali sebagai juara umum cabang ini di PON XVIII Riau selain memperhitungkan Jabar sebagai tuan rumah, juga Jatim dan Jateng yang cukup bagus di arena kualifikasi PON.

“Saya kira faktor tuan rumah perlu dijadikan perhatian khusus dengan tim Jabar. Kekuatan sekarang cukup merata, tetapi fokus dengan tuan rumah layak dilakukan,” kata pesilat Bali, Sang Ayu Ketut Sidan Wilantari yang pernah menjadi juara dunia nomor seni ganda pada 2010 dan 2012.

Jabar memang tidak main-main mempersiapkan diri. Selain melakukan pelatihan intensif, tim tuan rumah sudah berulang kali menjalani uji coba, baik di luar negeri, luar daerah maupun di kandang sendiri.

Ferry Hendarsin, pelatih tim silat tuan rumah menyebutkan, optimistis dapat memenuhi target minimal lima medali emas yang dibebankan KONI Jabar. “Kali masih perlu memantapkan full power dalam teknik kuncian dan bantingan, meski secara teknik dan mental kami sudah siap,” katanya.

Sementara DKI Jaya yang menjadi yang terbaik dalam babak kualifikasi PON lalu, juga tak bisa dianggap ringan. DKI memiliki sejumlah pesilat nasional, salah satunya adalah M Yachser Arafa. Saat ini dia adalah penghuni pemusatan latihan nasional, Indonesia Prima. Ini artinya, kemapuannya tentu berada di atas rata-rata pesilat daerah.

Terpenting bagi Jateng adalah fokus untuk meraih medali emas, perak maupun perunggu. Karena kesempatan untuk menjadi juara PON hanya datang dalam empat tahun sekali. Artinya, sekarang adalah peluang bagi para pendekar untuk menjadi yang terbaik nasional.

(I Nengah Segara Seni / CN26)

Comments

comments