Foto: suaramerdeka.com / Setyo Wiyono

Pelatnas Atletik NPC Digelar Terbuka

Foto: suaramerdeka.com / Setyo Wiyono

Foto: suaramerdeka.com / Setyo Wiyono

SOLO suaramerdeka.com - Pelatnas atletik guna menghadapi ASEAN Para Games (APG) VIII/2015 digelar secara terbuka di Solo. Menurut pelatih kepala atletik Waluyo, pemusatan latihan di Solo sejak beberapa hari lalu itu tidak hanya diikuti 55 paralimpian (atlet difabel) yang dipanggil National Paralympic Committee (NPC). Paralimpian yang tak masuk daftar panggil juga dipersilakan bergabung.

”Namun mereka yang tidak mendapatkan panggilan, harus menggunakan biaya sendiri dalam pelatnas. Saat ini sudah ada dua paralimpian asal Riau yang sudah turut bergabung. Ini pelatnas terbuka,” kata Waluyo usai memimpin latihan di Stadion Sriwedari, Kamis (5/2).

Model tersebut diharapkan dapat memberi kesempatan bagi para atlet potensial yang selama ini tak terpantau badan otorita olahraga cacat nasional itu. Dia menjelaskan, para atlet nonpanggilan punya peluang yang sama untuk masuk tim inti jika memiliki kemampuan lebih bagus, serta diprediksi mampu menembus tiga besar pada APG 2015.

”Belum ada kuota pasti dalam atletik. Kuotanya akan didasarkan pada jumlah atlet yang diperhitungkan minimal meraih medali perunggu, serta nomor-nomor yang digelar pada multievent di Singapura nanti,” jelas dia.

Sayang, technical hand book pesta olahraga difabel se-Asia Tenggara yang rencananya diselenggarakan di Singapura, Desember mendatang, belum juga diterbitkan. Karena itu, persiapan paralimpian atletik diasumsikan pada nomor-nomor yang digelar pada ajang serupa di Myanmar, awal 2014 dan Asian Para Games 2014 di Incheon, Korea. ”Pada APG di Myanmar, tim atletik Indonesia diperkuat 45 paralimpian dengan raihan 30 medali emas,” ungkap Waluyo.

Dia menambahkan, para atlet yang mengikuti pelatnas tersebut mencakup nomor-nomor lari, lempar, tolak dan lompat. Paralimpian yang turut membela tim Merah-Putih di Incheon dipastikan kembali digembleng. Hanya pelari Oja Firmansyah yang dipastikan absen, karena terhadang masalah klasifikasi kecacatan saat akan berlomba di Incheon, tahun lalu.

Padahal, Oja menyumbang dua emas dari nomor sprint 100 meter dan 200 meter T44 di Myanmar. ”Berdasarkan standar klasifikasi, perbedaan tinggi tungkai antarkaki pada kelas T44 minimal 7 cm. Namun Oja hanya selisih 6,5 cm. Maka kami khawatir kalau dia nanti di-blacklist akibat urusan klasifikasi kecacatan itu,” tutur Waluyo.

(Setyo Wiyono/ CN26)

Comments

comments