TERBANG: Atlet paralayang Solo Dewanto "Bolot" Basuhendro terbang di kawasan bukit Kemuning, Karanganyar, beberapa waktu lalu. Dia kini bersiap ikuti latihan bertama di Batu, Jatim. (suaramerdeka.com/Setyo Wiyono)

Paralayang Jeda Sejenak Usai Even Batu

TERBANG: Atlet paralayang Solo Dewanto "Bolot" Basuhendro terbang di kawasan bukit Kemuning, Karanganyar, beberapa waktu lalu. Dia kini bersiap ikuti latihan bertama di Batu, Jatim. (suaramerdeka.com/Setyo Wiyono)

TERBANG: Atlet paralayang Solo Dewanto “Bolot” Basuhendro terbang di kawasan bukit Kemuning, Karanganyar, beberapa waktu lalu. Dia kini bersiap ikuti latihan bertama di Batu, Jatim. (suaramerdeka.com/Setyo Wiyono)

SOLO, suaramerdeka.com – Sejumlah atlet paralayang Solo dan sekitarnya jeda latihan sejenak usai mengikuti event di Jatim, akhir pekan lalu. Mereka baru saja berbaur dengan para atlet dari daerah lain untuk mengikuti latihan bersama di kawasan Gunung Panderman, Batu, Jumat-Minggu (3-5/6).

“Awal Ramadan seperti sekarang biasanya teman-teman rehat sejenak dari latihan. Tetapi penjagaan performa tetap dipertahankan,” kata atlet sekaligus ketua Pengkot Paralayang Solo, Dewanto “Bolot” Basuhendro, Rabu (8/6).

Jika biasanya nomor yang digelar ketepatan mendarat (Ktm), namun pada event latihan bersama di Batu tersebut bukan lagi menggelar akurasi pendaratan. “Di Batu, latihan bersama khusus untuk nomor cross country atau XC jarak terbatas yang juga disebut race to goal,” tambah dia.

Tak banyak atlet yang berangkat. Hanya dia sendiri, atlet asal Kota Bengawan yang mengikuti latihan bareng itu. Lainnya, beberapa atlet dari sekitar Solo. Alasannya, antara lain karena ajang tersebut bukan merupakan kejuaraan resmi.

Nomor di PON

Padahal nomor race to goal juga akan dilombakan pada PON Jabar 2016. Nomor lain pada pesta olahraga empat tahunan nanti adalah KTM dan XC open distance (jarak terbuka).

“Karena itu, banyak juga atlet yang memanfaatkan latihan bersama di Batu untuk pemanasan sekaligus menjaga performa terbang. Mereka yang datang antara lain dari DKI Jakarta, Jatim, Bali dan Kaltim,” tutur dia.

Even nasional terakhir paralayang adalah Paragliding Trips of Indonesia (Troi) seri pertama yang dilombakan di bukit Kemuning Kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar, 19-22 Mei lalu. Pada ajang di lereng Gunung Lawu yang juga menggelar Ktm itu, atlet-atlet Kota Bengawan tidak ada yang meraih medali.

“Saya masuk sepuluh besar perorangan. Sedangkan di kelas tandem, saya dan Daru Widhiharto terlempar dari peringkat sepuluh besar,” ujar Bolot.

(Setyo Wiyono/CN39)

Comments

comments