BERTARUNG: Judoka Banyumas, Lisda Moris (kanan) saat bertarung dengan judoka Kabupaten Banyumas Dea Zukhrufurrahmi di kelas -52kg putri U-25 di BP Dikjur Jateng, Semarang. (suaramerdeka.com/Hendra Setiawan)

Optimisme Judoka Jateng Menggapai Target PON

BERTARUNG: Judoka Banyumas, Lisda Moris (kanan) saat bertarung dengan judoka Kabupaten Banyumas Dea Zukhrufurrahmi di kelas -52kg putri U-25 di BP Dikjur Jateng, Semarang. (suaramerdeka.com/Hendra Setiawan)

Foto: suaramerdeka.com/Hendra Setiawan

MENDAPAT sentuhan teknik dari pelatih asal Jepang, Tsuneo Sengoku, optimisme para pejudo cukup tinggi dalam mengejar target medali yang dibebankan KONI Jateng di  PON XIX Jabar.

Target dua medali emas diyakini bisa diraih, bahkan menurut analisa kekuatan lawan oleh tim ofisial yang saat ini menangani para atlet, kemungkinan raihan itu bisa bertambah, mengingat perkembangan fisik dan teknik pejudo selama menjalani pelatda sangat bagus.

Memang, untuk mengejar target itu tidak mudah, butuh perjuangan ekstrakeras karena lawan, khususnya daerah yang selama ini mendominiasi di cabang ini juga melakukan persiapan sangat matang. Menurut catatan SMNetwork, selama ini DKI, Bali, Jatim, dan kini Jawa Barat merupakan kekuatan baru yang luar biasa di tingkat nasional dalam cabang olahraga asal Jepang ini.

Apapun yang terjadi dan siapapun yang harus dihadapi, itu adalah sebuah kompetisi untuk mencari pemenang. Maka tugas para judoka Jateng adalah berjuang memenangkan pertandingan. Sudah siapkah mereka? Hal inilah yang akan dibahas  SM Network di TVKU, Sabtu (10/9) pukul 16.30 – 17.30 dengan narasumber Sekretaris Pengprov PJSI Nurohmad, pelatih Sugiarto atau Lita Theresia dan atlet Christian Hadi S.

Yang pasti, melihat keras dan ketatnya pengawasan terhadap para atlet saat menjalani pemusatan latihan daerah (Pelatda) PON di Batalyon Infanteri 400/Raider (Banteng Raiders) Semarang, kemudian dari hasil  try out maupun mengikuti turnamen selama persiapan, memang memberi optimisme kepada tim judo Jateng untuk mencapai hasil positif di arena pesta olahraga nasional itu.

Pelatda yang ditangani pelatih Tsuneo Sengoku,  Lita Theresia, Sutarto, Dimas dan Djainudin ini mempersiapkan Christian Hadi S, Sudoyo Hermawan, Kumi Noviawati, Maria Ince, Vera Saraswati, Muji Leksani, Desi Yudianti, Sintya Kusuma yang bertanding di nomor perorangan. Sementara untuk nomor kata diisi Lie Grace Nathalia dan Cynthia Trubus (juno kata), Eko Mulyanto dan Dewa Made Akar Putu Jagad (nageno kata).

Kemudian Kumi, Maria dan Desi akan turun di nomor beregu putri. Kematangan mereka sudah teruji, baik dalam melakukan ukemi (teknik jatuhan), kansetsu-waza (mengunci persendian siku lawan), shime-waza (mencekik leher lawan), osae-komi-waza (menahan lawan dalam suatu posisi tertentu), ma-sutemi-waza  (melempar dengan menjatuhkan badan sambil berbaring) maupun ashi-waaza (menyerang  lebih mengutamakan kaki).

Taktik – Strategi

Setelah kematangan teknik didapat, kini tinggal menyiapkan taktik dan strategi bagi Christian Hadi dkk dalam menghadapi gaya permainan lawan. Di sini yang penting bagaimana pelatih pendamping di lapangan nanti memiliki daya analisa yang tajam untuk meredam keistimewaan tenik lawan.

Dengan demikian, delapan judoka yang akan di nomor tarung dan empat di nomor kata (juno kata, nageno kata dan kata berpasangan) benar-benar matang fisik, teknik, mental di atas tatami. Ketatnya persaingan di arena PON XIX memang tak terhindarkan, melihat peta kekuatan yang ada di cabang judo ini makin merata.

Kalau melihat hasil babak kualifikasi PON, tuan rumah Jabar memang menjadi yang terbaik dengan raihan lima emas, empat perak dan enam perunggu. Kemudian DKI Jaya dengan empat emas, tiga perak dan lima perunggu. Empat kekuatan di bawahnya merata, yakni Jateng, Jatim, dan Bali dan Kaltim sama-sama merebut dua emas.

Namun itu terjadi setahun lalu. Kini setelah semua atlet PON menjalani pelatihan yang terencana, bisa saja kekuatan berubah di arena pertandingan. Persiapan masing-masing daerah sangat ketat, mulai dari pemusatan latihan, mendatangkan pelatih asing, bahkan banyak pula pejudo yang dikirim ke luar negeri untuk mencari sparring partner yang memadai.

Jabar misalnya untuk menggembleng kesiapan atletnya sempat kedatangan para pejudo dari Korsel, dan menjalani latih tanding selama sebulan di Bandung, Karawang dan Bogor. DKI dan Kaltim juga demikian, tak kalah semangat mempersiapkan diri.

Sementara PJSI Bali melalui pelatih Made Antika Kowara juga sangat optimistis di PON nanti. Dengan kekuatan 16 judoka putra dan putri mereka sudah menetapkan kelas-kelas yang diincar di atas matras nanti. “Dari babak kualifikasi sudah tergambar peta kekuatan lawan, kini kami tinggal fokus di sejumlah kelas untuk bisa meraih prestasi lebih baik dari Pra-PON itu,’’ katanya.

(I Nengah Segara Seni / CN26)

Comments

comments