Presiden NPC Indonesia Senny Marbun (bertopi) saat pelepasan atlet menuju Paralympic Games Rio de Janeiro 2016 di Solo, beberapa waktu lalu. (suaramerdeka.com/Setyo Wiyono)

NPC Tunggu Keputusan Prima

Presiden NPC Indonesia Senny Marbun (bertopi) saat pelepasan atlet menuju Paralympic Games Rio de Janeiro 2016 di Solo, beberapa waktu lalu. (suaramerdeka.com/Setyo Wiyono)

Presiden NPC Indonesia Senny Marbun (bertopi) saat pelepasan atlet menuju Paralympic Games Rio de Janeiro 2016 di Solo, beberapa waktu lalu. (suaramerdeka.com/Setyo Wiyono)

SOLO, suaramerdeka.com – National Paralympic Committee (NPC) Indonesia menunggu keputusan dari pihak Prima berkait kasus doping dalam Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) XV/2016 di Jabar. Senny Marbun, Presiden otorita olahraga difabel nasional itu, menyatakan telah memberikan penjelasan secara detail kepada Prima.

‘’Kami telah berikan counter kepada Prima mengenai doping yang menjerat Adyos Astan dan Cucu Kurniawan. Tapi kalau ternyata memang keputusannya mereka kena sanksi skorsing, tentu kami tak akan melawan,’’ kata Senny, Rabu (11/1).

Adyos Astan merupakan atlet Maluku dan Cucu Kurniawan dari Jabar. Aston meraih dua medali emas dan sekeping perak dari arena tenis meja, sementara Cucu bersaing di lintasan atletik pada pesta olahraga difabel empat tahunan di Jabar.

Adyos menyatakan, saat Peparnas itu dia terserang flu. Dia tidak mengetahui bahwa obat flu yang diminumnya ternyata mengandung unsur-unsur yang termasuk kategori doping. ‘’Jadi, jujur saya benar-benar tidak tahu. Mestinya, NPC atau panitia memberikan daftar mengenai unsur-unsur apa saja dalam obat yang termasuk doping,’’ ujarnya.

Dinamika

Senny menjelaskan, sebenarnya pihak NPC sudah sering mengingatkan dan memberikan daftar doping. ‘’Cuma para atlet biasanya tidak mengetahui secara detail, unsur-unsur apa saja di dalamnya. Makanya, semua harus hati-hati,’’ tandasnya.

Menurut pria yang saat muda berkecimpung dalam olahraga angkat berat itu, menyebut kasus doping yang muncul di arena Peparnas dan PON 2016 tersebut merupakan sebuah dinamika. Terlepas dari berbagai konsekwensi yang mesti terjadi, dirinya justru memberikan apresiasi terhadap penerapan tes terhadap zat-zat yang tidak diperbolehkan digunakan atlet dalam sebuah kejuaraan tersebut.

‘’Bagi kami, ini sebuah perhatian tinggi terhadap kalangan NPC. Jadi ada penerapan hal yang setara antara atlet-atlet difabel dan atlet umum,’’ ujarnya.

Lalu, bagaimana seandainya nanti ada sanksi skorsing terhadap atlet NPC yang terjerat doping? Senny menandaskan, pihaknya tidak akan sakit hati. ‘’Kalau memang kena sanksi skorsing, ya atletnya diparkir. Tapi selama tidak ada sanksi, Adyos tetap berada dalam pelatnas untuk menghadapi ASEAN Para Games (APG) 2017,’’ tegas dia.

(Setyo Wiyono/CN39/SM Network)

Comments

comments