Foto: suaramerdeka.com / Setyo Wiyono

Motoprix Solo Rancang 10 Kelas di Kejurnas Balap Motor

Foto: suaramerdeka.com / Setyo Wiyono

Foto: suaramerdeka.com / Setyo Wiyono

SOLO, suaramerdeka.com - Total 10 kelas dirancang digelar dalam rangkaian kejurnas balap motor Motoprix di Sirkuit Manahan, 22-23 Oktober mendatang. Rinciannya, terdapat empat kelas wajib, dua kelas pendukung wajib, serta empat kelas terbuka yang juga jadi pendukung.

“10 kelas tersebut masih bersifat rancangan, tetapi khusus kelas MP1 hingga MP6 sudah pasti digelar,’’ kata Ketua Pengkot Federasi Olahraga Balap Motor (FOBM) Solo, Lilik Kusnandar, Senin (10/10).

Kelas-kelas wajib dalam rangkaian seri kejurnas tersebut adalah MP1 (150 cc tune up seeded), MP2 (125 cc tune up seeded), MP3 (125 cc tune up pemula) dan MP4 (110 cc tune up pemula). Sementara dua kelas pendukung namun juga bersifat wajib adalah MP5 (125 cc standar) dan MP6 (110 cc standar) merupakan kelas pendukung.

“Batasan kelas MP1 dan MP2 antara lain usia pembalap 20-30 tahun. Usai peserta boleh melebihi 30 tahun bagi mereka yang masuk peringkat 15 besar Motoprix musim sebelumnya,” jelas Lilik.

Sementara batasan usia MP3 dan MP4 menurutnya 18-20 tahun. Selanjutnya peserta MP5 berusia 18-20 tahun, serta MP6 maksimal 16 tahun. Biasanya, peserta dua kelas terakhir adalah para pembalap pemula yang masih berusia sangat muda.

Pria yang juga menjabat Kabid Olahraga Motor Roda Dua pada Pengprov Ikatan Motor Indonesia (IMI) Jateng itu menambahkan, di antara kelas pendukung yang akan digelar dalam rangkaian event tersebut adalah kelas khusus wanita. Tujuannya, memacu munculnya bibit-bibit atlet putri di ajang adu kebut itu.

“Di wilayah Jabar dan DKI Jakarta, sebenarnya cukup banyak digelar balapan kelas khusus wanita. Tetapi di luar wilayah itu memang relatif jarang, apalagi di Jateng,” ujar Lilik.

Lelaki asal Rembang tersebut menambahkan, sepengetahuannya saat ini hanya ada seorang atlet putri di Jateng yang cukup aktif  di arena balap motor, yakni Diana Crystal Lukmawati asal Karanganyar. “Diana aktif terjun di berbagai kejuaraan, tetapi di Jabar dan DKI, karena memang di dua wilayah itu yang sering menggelar kelas khusus wanita,” jelas Lilik.

(Setyo Wiyono / CN26)

Comments

comments