Foto: suaramerdeka.com / Hendra Setiawan

Jateng Hanya Raih Dua Perak Kejurnas Tinju Senior

Foto: suaramerdeka.com / Hendra Setiawan

Foto: suaramerdeka.com / Hendra Setiawan

SEMARANG, suaramerdeka.com – Kontingen Tinju Jateng harus mengubur mimpinya untuk meraih emas pada Kejurnas Tinju Senior di Lapangan Karebosi, Makassar Sulsel yang selesai akhir pekan lalu. Menempatkan dua petinju di final, semuanya takluk dari lawannya.

Petinju putri di kelas 64 kg yang diandalkan meraih emas, Ari Marsyana belum bisa lepas dari bayang-bayang musuh bebuyutannya Dolince Sanadi asal Papua. Ari kembali takluk dan harus rela membawa pulang medali perak. Dengan hasil itu, dalam tiga kali pertemuan, Dolince selalu menang.

Finalis lainnya, Willys Boy Riripoy juga harus mengakui ketangguhan lawannya, Nasudin asal NTB. Turun di kelas 91 kg, peraih perak PON 2012 itu tak berdaya menghadapi pukulan keras dan cepat dari Nasrudin, sehingga harus rela kembali mendapatkan perak.

Pelatih Tinju Jateng Muhar Sutan tak percaya bahwa Ari gagal memenangi partai final. Menurutnya, anak asuhannya itu lebih produktif melancarkan pukulan. Hanya memang kurang bertenaga dan kurang mematikan.

”Kami tidak tahu apa yang menjadi bahan penilaian hakim. Ari lebih banyak menempatkan pukulan yang mengenai sasaran. Namun, ini sudah terjadi, pemenangnya juga sudah diumumkan,” sambungnya.

Kekalahan Willys dan Ari di final, membuat Jateng harus puas membawa pulang dua medali perak dan satu perunggu, yang disumbangkan oleh Musa Cahyadi. Muhar menambahkan, persiapan minim juga bertampak pada hasil yang kurang maksimal. Untuk mengikuti kejuaraan tersebut, latihan intensif dilakukan kurang dari sebulan. Bila persiapan lebih lama, hasil yang didapat akan jauh lebih baik.

”Untuk mengikuti arena kejurnas, idealnya butuh persialan sekitar dua hingga tiga bulan. Sebenarnya, sejumlah atlet  memiliki kualitas teknik yang sama dengan lawan-lawannya, namun kalah stamina. Kondisi fisik yang lemah, berpengaruh pada kualitas pukulan,” ujarnya.

Hasil ini, membuat Jateng harus berjuang lebih keras bila ingin meloloskan banyak petinju pada Pra-PON Wilayah Tengah 2015 mendatang. Jateng harus bersaing dengan petinju-petinju dari DKI Jakarta, NTB dan Bali Padahal, para petinju dari ketiga provinsi tersebut, mendominasi di arena kejurnas ini. DKI menjadi juara umum dengan menyabet lima medali emas.

(Hendra Setiawan / CN26)

Comments

comments