Foto: suaramerdeka.com / Setyo Wiyono

Indonesia Tertangguh di Kejuaraan Dunia Pencak Silat

Foto: suaramerdeka.com / Setyo Wiyono

Foto: suaramerdeka.com / Setyo Wiyono

SOLO, suaramerdeka.com – Raihan sembilan medali emas, tujuh perak dan tiga perunggu membawa kontingen Indonesia sebagai tim tertangguh dalam Kejuaraan Dunia Pencak Silat 2014 yang digelar di Thailand, 7-16 Januari lalu. Empat emas direbut dari arena tanding, sementara lima lainnya digenggam dari ajang seni (tunggal, ganda, regu/TGR).

Peringkat kedua peraih emas terbanyak adalah Vietnam (tujuh emas), disusul tuan rumah Thailand (empat emas), Malaysia (tiga emas) dan Singapura dengan sekeping emas. ”Hasil tersebut melampaui target, karena awalnya kami membidik delapan emas dari total 24 emas yang diperebutkan,” kata pelatih tim pencak silat Indonesia, Indro Catur di Solo, Selasa (20/1).

Empat emas dari nomor tanding disabet atlet asal Sulsel Awaludin dari kelas A putra, Wewey Wita (C putri/Jabar), Selly A (D putri/Jabar) dan Maryati (F putri/NTB). Sementara emas produk TGR diperoleh dari nomor tunggal putra (Sugianto/DKI Jakarta), ganda putra (Hendi dan Yola Primadona/DKI Jakarta), beregu putra (Anggi Faizal, Nono Nugraha dan Asep/Jabar), ganda putri (Eka Ardiana dan Anggraini/DKI Jakarta), serta regu putri (Ni Luh Putu, Kadek Ratna Dewi dan Dayu Candra Pratiwi/Bali).

Para pesilat Jateng yang turut memperkuat tim Merah-Putih gagal membawa pulang emas. Sri Rahayu yang bertarung di kelas A putri mendapatkan perak, sementara dua atlet putra Sapto Purnomo (D putra) dan Tegar Ananda (J putra) meraih medali perunggu.

”Sebenarnya Sri Rahayu dan Sapto berpeluang besar menyabet medali emas, tetapi akhirnya gagal akibat persoalan nonteknis saat menghadapi pesilat tuan rumah,” tutur Indro Catur yang juga pelatih pencak silat Jateng.

Dia mengungkapkan, Rahayu didiskualifikasi saat pertandingan final kelas A putri karena salah satu pukulannya mengenai muka lawan hingga jatuh. Kala itu, sang rival yang merupakan atlet Thailand skornya sedikit unggul.

”Lawan sebenarnya bisa melanjutkan pertandingan karena hanya sedikit lecet, tapi berlagak luka parah hingga partai itu dihentikan dan Rahayu kena diskualifikasi. Kalau Sapto, sebenarnya skornya sudah unggul telak di semifinal tetapi wasit memberikan banyak teguran sampai ada pengurangan nilai,” ungkap Catur.

Menurutnya, persaingan dalam kejuaraan dunia itu sangat ketat karena diikuti sekitar 600 pesilat dari 45 negara. Meski demikian, para pesilat Indonesia tetap bisa menunjukkan kemampuan lebihnya dalam ajang dua tahunan itu.

(Setyo Wiyono/ CN26)

Comments

comments