RAKER: Ketua Umum Asprov PSSI DIY dr Hadianto Ismangoen (kiri) berbicara di mimbar saat Rapat Kerja (Raker) Asprov PSSI DIY di Monumen PSSI, kawasan Baciro, Kota Jogja, Minggu (29/1). (suaramerdeka.com/Gading Persada)

Asprov DIY Rencanakan Hidupkan Lagi Piala Asprov

RAKER: Ketua Umum Asprov PSSI DIY dr Hadianto Ismangoen (kiri) berbicara di mimbar saat Rapat Kerja (Raker) Asprov PSSI DIY di Monumen PSSI, kawasan Baciro, Kota Jogja, Minggu (29/1). (suaramerdeka.com/Gading Persada)

RAKER: Ketua Umum Asprov PSSI DIY dr Hadianto Ismangoen (kiri) berbicara di mimbar saat Rapat Kerja (Raker) Asprov PSSI DIY di Monumen PSSI, kawasan Baciro, Kota Jogja, Minggu (29/1). (suaramerdeka.com/Gading Persada)

YOGYAKARTA, suaramerdeka.com – Sudah absen cukup lama, Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI DIY kembali akan menghidupkan lagi turnamen sepak bola Piala Asprov. Hal ini mengemuka selama digelarnya rapat kerja (raker) tahunan Asprov PSSI DIY di Monumen PSSI, kawasan Baciro, Kota Jogja, Minggu (29/1).

“Kalau memang ada kesempatan kenapa tidak digulirkan kembali. Terpenting ada dukungan dari pihak lain, termasuk pemerintah setempat,” tutur Ketua Umum (Ketum) Asprov PSSI DIY, dr Hadianto Ismangoen, siang tadi.

Keinginan menggulirkan kembali Piala Asprov DIY tidak terlepas dari tantangan yang dikemukan Ketum PSSI Letjen TNI Edy Rahmayadi yang menginginkan bahwa setiap asprov dapat mengirimkan satu pemain di tingkat nasional. Jika itu terealisasi maka dari 34 provinsi yang ada di Indonesia aka nada 34 pemain untuk bisa memperkuat tim nasional (timnas).

Menurut dokter Antok (sapaan Hadianto-red) kompetisi di internal Askab dan Askot di bawah Asprov PSSI DIY belum berjalan sempurna. Terbukti hampir tiga tahun Piala Asprov PSSI DIY vakum digelar. Dari tiap Askab dan Askot perlu instrospeksi untuk disusun kembali program kompetisi internal. Dicarikan penyelesaiannya dan bisa melihat dampak jika kompetisi mandek.

“Ada yang tidak selesai mengadakan kompetisi internal. Kompetisi tidak berjalan baik. Tapi semangat untuk menghidupkan lagi (Piala Asprov) harus tetap ada,” papar dia.

Dia pun berharap selanjutnya organisasi harus berjalan sehat. Disamping perhatian dari pemerintah daerah setempat untuk perkembangan pesepakbolaan. Selanjutnya, pengurus perlu memiliki totalitas untuk bekerja menjalankan organisasi.

“”Kalau kendalanya pendanaan sudah menjadi masalah klasik. Namun bukan berarti tidak bisa dicarikan solusi lain,” ungkap dia.

Raker sendiri dihadiri seluruh pengurus serta anggota komite eksekutif (exco) PSSI DIY. Termasuk perwakilan dari KONI DIY.

Adapun Ketua umum KONI DIY GBPH Prabukusumo mengatakan, seperti yang telah dikerjakan di KONI DIY, untuk menghasilkan sesuatu yang baik, diperlukan program yang sempurna. Efisiensi anggaran dan sarana prasarana yang komplit.

“”Dari Rp 6,3 M, Rp 2,5 M dialokasikan untuk peralatan olahraga. Dari PON sebelumnya 119 atlet, pada PON Jabar 323 atlet. Peningkatan atlet 3 kali lipat,” tuturnya.

Selanjutnya untuk meningkatkan kualitas atlet, KONI pun akan mengirim atlet ke luar negeri, untuk berlatih dan bertanding. Agar banyak menimba pengalaman dan bisa mengukur kemampuan. “Disamping mempunyai percaya diri karena lawannya tidak hanya dari dalam negeri,” tandas Gusti Prabu (sapaan GBPH Prabukusumo-red).

(Gading Persada/CN39/SM Network)

Comments

comments