SMASH: Paralimpian Sella Dwi Radayana melepas smash dalam pelatnas NPC di kompleks Manahan, Solo. Dia menjadi salah satu tumpuan Indonesia dalam ASEAN Para Games Singapura 2015. (suaramerdeka.com/Setyo Wiyono)

444 Atlet Ikuti Turnamen Tenis Meja Wikanta Cup

SMASH: Paralimpian Sella Dwi Radayana melepas smash dalam pelatnas NPC di kompleks Manahan, Solo. Dia menjadi salah satu tumpuan Indonesia dalam ASEAN Para Games Singapura 2015. (suaramerdeka.com/Setyo Wiyono)

Foto: suaramerdeka.com/dok

JAKARTA, suaramerdeka.com – Sebanyak 444 atlet akan bersaing pada Turnamen Tenis Meja International Wicanta Cup 2016 di Jakarta, 28 April – 1 Mei mendatang. Ajang ini bersifat independen karena tidak berafiliasi pada federasi tenis meja yang saat ini terjadi dualisme antara Lukman Edy dan Oegroseno.

Panitia yang disokong PT Surya Semesta Internusa Tbk tersebut hanya meminta restu pada Kemenpora.

Ketua panitia pelaksana, Eddy P Wikanta mengatakan, turnamen ini digelar untuk mengembalikan kejayaan tenis meja Tanah Air. Pihaknya merasa terenyuh melihat kondisi pertenismejaan Indonesia yang saat ini mengalami konflik tak berujung.

“Pada SEA Games 1993 di Singapura, kita sapu bersih medali emas. Sedangkan pada SEA Games 2015, kita hanya mendapat satu perunggu. Sekarang prestasi kita tertinggal jauh dari negara lain. Melalui kejuaraan ini diharapkan muncul atlet-atlet yang bisa mengimbangi petenis meja luar negeri,” kata Eddy P Wikanta didampingi Deputi III Bidang Pembudayaan Olahraga Kemenpora Raden Isnanta, Staf Ahli Menpora Yuni Poerwanti dan atlet difabel David Jacob di Kantor Kemenpora, Jakarta, Rabu (27/4).

Wikanta Cup dijadikan title turnamen untuk mengenang sosok Wikanta, seorang petenis meja asal Ambarawa. Wikanta selalu mengajarkan sportivitas dalam olahraga tenis meja. Karena itu, semasa Wikanta masih eksis, Ambarawa menjadi gudang munculnya atlet tenis meja Tanah Air.

Sesuai rencana, turnamen dengan hadiah total Rp 190 juta ini mempertandingkan beberapa kategori, yaitu kadet putra, yunior putra dan putri, beregu putra dan putri, invitasi putra dan putri serta veteran (usia 55 tahun ke atas).

Untuk peserta, lanjut Eddy, tak hanya dari Indonesia, tapi juga Tiongkok, Thailand, Singapura dan Malaysia. Peserta dari Tiongkok merupakan atlet lapis dua pelatnas, sedangkan Malaysia mengirim petenis meja terbaiknya, yaitu Mohamad Sakirin.

“Dari Tiongkok, itu rata-rata pemain yang bertanding di liga A tenis meja negara sana. Jadi atlet-atlet kita cukup bersemangat untuk mengikuti turnamen ini,” jelas Eddy yang juga menjabat Wakil Presdir PT Surya Semesta Internusa.

Deputi III Kemenpora Raden Isnanta mengapresiasi penyelenggaraan turnamen yang diinisiasi keluarga dari Wikanta tersebut. Menurut dia, ajang ini berdampak positif karena di Indonesia selama ini kekurangan event tenis meja internasional.

“Apalagi ajang ini digelar tanpa APBN. Kalau semua bahu membahu untuk membangun olahraga, pemerintah, dunia usaha dan masyarakat tentu bersemangat,” terang Isnanta.

(Arif M Iqbal/CN39/SM Network)

Comments

comments