Unen-Unen Jawa | suaramerdeka.com

Sabtu , 27 Mei 2017

Home » SmCetak » Bincang-Bincang » Unen-Unen Jawa

Unen-Unen Jawa

Gayeng Semarang

19 Maret 2017 0:00 WIB Category: Bincang-Bincang, SmCetak A+ / A-

Oleh Mudjahirin Thohir

UNEN-UNEN (wise words) Jawa, termasuk paribasan (peribahasa), sanepa (ungkapan), jarene-jare (rumor), pepesthen atau gugon tuhon, merupakan tradisi lisan yang hidup dan dilestarikan dalam kehidupan masyarakat Jawa, terutama di perdesaan. Tradisi kelisanan itu pada batas tertentu menjadi pola sekaligus pedoman bagaimana orang Jawa memandang dunia. Dunia kehidupan yang digagas (local knowledge) dan tindakan (behavior) yang diwujudkan. Dari sinilah muncul tipologi wong Jawa(kudune) sing njawani.

Untuk menginjakkan kaki pertama ke bumi, misalnya, seorang anak manusia Jawa ditetah (dituntun) ke dunia simbolik lewat upacara tedhak siten. Dalam alam simbolik itu, seorang anak Jawa dimasukkan dalam “rumah imajiner” berupa kurungan. Dia dalam kurungan itu tersedia sejumlah angan-angan di balik benda, seperti pena, buku, uang, dan perabot rumah tangga.

“Siapa memegang apa, itulah angan uga pepesthen dirinya.”

Kalau tangan anak menggapai pena, misalnya, keluarga yang menyaksikan “pertunjukan” itu meramalkan anak itu kelak jadi priayi. Kalau buku yang terpegang, dibayangkan suka berprofesi sebagai guru. Namun kalau memegang uang, dibayangkan si anak kelak jadi pedagang.

Kenapa ketika anak pegang uang tidak diramalkan kelak tertarik jadi anggota DPR? Mungkin karena uang di dalam kurungan itu terlalu kecil? Wallahu’alam.

Setelah diketahui (yang diprediksikan) si anak ingin jadi apa, lantas dikeluarkan dari kurungan, ditetah, dan kedua kakinya diinjakkan ke talam berisi bubur coco yang dilapisi kertas koran atau plastik transparan. Mengapa bubur coco (baca: bur coco)? Banyak maknanya. Namun bunyi kata “coco” itu, bagi orang Jawa, mirip dengan cocok (sesuai dengan keinginan) atau cocok dalam arti duri yang menusuk kaki. Arti pertama menjadi pertanda bagi orang tua agar mendidik anak ke arah cita-cita anak. Arti kedua, pertanda dalam kehidupan nyata (riil), banyak hambatan dan rintangan. Jadi jika tidak hati-hati berjalan akan tersandung duri (Jawa: kecocok-cocok). Karena itu, selamatan tedhak siten dengan membagibagikan bubur coco dimaksudkan sebagai untuk menghindari atau counter attacks menurut bahasa antropologi.

Duri tidak selalu menyakitkan. Bisa juga terlalu mengenakkan. Duri bisa berarti godaan menggiurkan, seperti uang fee atau gratifikasi ketika kelak jadi priayi atau pejabat tinggi atau kerja di legislasi.

Kalau “keenakan” diamsalkan seperti “menanam sperma” ke tubuh perempuan yang bukan istri, pepesthen- nya soal menunggu waktu. Jika didramatisasi, bisa dikatakan, “Waktu itu enak sih.”

Namun dalam perjalanan waktu, sang sperma berkenalan dengan kromosom, lalu mewujud diri menjadi janin yang ingin melihat wajah orang tuanya. Si anak ingin meminta tanggung jawab “yang membuat” karena sebagai perantara kelahirannya ke bumi yang penuh rekadaya.

Sayang, atau memang tidak ingat lagi, di mana “perempuan pembawa janin jadah” itu bertempat tinggal. Itu merupakan akibat dari dogma “tidak ada kawan berkencan abadi, kecuali kepentingan itu sendiri yang abadi”.

Para penabung spermatosoid itu tampaknya lupa unen-unen yang dulu selalu didendangkan simbok ketika dia layuplayup mau tidur di pangkuan. Taklela-lela ledhung, suk gedhe dadiya priyantun agung Lakumu kudu alon-alon asal kelakon Aja nggege mangsa supaya ora nista Lamun sira kesengsem raja brana Lir kadya isa njupuk iwake, aja nganti buthek banyune.

***

PEREMPUAN yang mengandung “anak jadah” itu sudah tidak diketahui lagi tempat tinggalnya. Sementara laki-laki penanam janin tidak lagi punya dokumen kopi katepe. Meski dia mencatat berapa produksi katepe. Bahkan nomer hape perempuan itu pun sudah di-delete. Alias no registered dari hp canggihnya. Sebuah nama dan nomor yang tidak terdaftar. Artinya, calling atau SMS-nya boleh diabaikan. Paling-paling seperti “Mama minta pulsa”.

Apa yang terjadi kemudian? Rupanya simbok dulu memang lupa menuturkan satu baris unen-unen yang amat dikeramatkan. Itulah ngundhuh wohing pakarti. Sapa nandhur, bakal panen. Sementara dia hanya ingat ana rupa, ana rega. Ada posisi ada harga gratifikasi.

Akhirnya perempuan yang dulu menampung spermatosoid yang kini mulai ada tandatanda melahirkan, tidak memilih oknum dukun bayi atau oknum dokter yang mau membantu aborsi. Atau, mungkin karena tidak ada lagi dukun bayi atau dokter yang mau diajak menggugurkan janin manusia.

Di antara rumor alias jare-jarene atau gugon tuhon dalam memori kognitif orang Jawa, sing salah seleh, yang datang dan mendatangi “perempuan, pengandung janin jadah” itu justru orang-orang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Mereka getol mengupayakan si calon janin lahir ke bumi secara normal.

Kalau sudah begitu, simbok berseru, “Banjur piye?”. Dia, yang merasa melahirkan anaknya yang sekarang digunjingkan, penuh gundah. “Piye ya?” “Mbohlah!” (44)

Comments

comments

Unen-Unen Jawa Reviewed by on . Oleh Mudjahirin Thohir UNEN-UNEN (wise words) Jawa, termasuk paribasan (peribahasa), sanepa (ungkapan), jarene-jare (rumor), pepesthen atau gugon tuhon, merupak Oleh Mudjahirin Thohir UNEN-UNEN (wise words) Jawa, termasuk paribasan (peribahasa), sanepa (ungkapan), jarene-jare (rumor), pepesthen atau gugon tuhon, merupak Rating: 0
scroll to top