Tourism Halalan Thayyiban | suaramerdeka.com

Sabtu , 27 Mei 2017

Home » SmCetak » Bincang-Bincang » Tourism Halalan Thayyiban

Tourism Halalan Thayyiban

GAYENG SEMARANG

12 Maret 2017 1:02 WIB Category: Bincang-Bincang, SmCetak A+ / A-

19Oleh Abu Su’ud

ASSALAMU’ALAIKUM warahmatullahi wabarakatuh. Dalam bahasa Indonesia, tourism tak lain merupakan rangkaian kegiatan melihat keindahan alam, seperti pantai, lereng gunung, air terjun, atau jeram dan gua-gua — yang disebut juga pariwisata. Pari berarti keliling dan wisata berarti bertamasya. Dan, jangan lupa juga makan-makan di luar atau disebut juga piknik. Kita mengenal pula wisata religi, yang intinya mencari kepuasan batin dengan berkunjung atau berziarah ke makam para wali atau masjid-masjid kuno.

Sebetulnya wisata religi sudah terjadi sejak zaman Hindu dan Buddha di Indonesia. Setiap penobatan raja pada masa kerajaan Hindu dan Buddha, dilakukan ”ziarah kubur”, yaitu upacara srada. Sampai sekarang srada masih berlangsung dengan nama nyadran atau melakukan srada. Anehnya, nyadran dilakukan menjelang bulan puasa, meski mereka sudah memeluk Islam atau Nasrani. Kalau dilakukan di luar bulan puasa atau menjelang bulan puasa, biasa disebut wisata religi.

Di kalangan umat Islam juga ada peribadahan yang disebut berhaji atau umrah. Ritus itu dilakukan dengan menziarahi kedua tempat suci umat Islam, Makkah dan sekitarnya serta Madinah dan sekitarnya, serta ziarah ke makam Rasul dan para sahabat di kedua tempat suci umat Islam (Haramain). Sampai kini pengelolaan wisata religi terbesar di dunia di kedua tempat suci itu dipercayakan kepada Kerajaan Arab Saudi.

***

INDONESIA baru saja menerima kunjungan kenegaraan resmi dari Pemerintah Arab Saudi, yang disambung kunjungan wisata lima hari di Bali — yang terkenal sebagai lokasi pariwisata terbaik di Indonesia. Ternyata rombongan wisatawan Arab Saudi sangat puas, sehingga menambah waktu kunjungan dua hari. Sungguh mati, saya masih selalu bertanya-tanya soal kunjungan wisatawan mancanegara terbesar di Bali itu.

Pastilah para wisatawan mancanegara dari Arab, yang rajanya merupakan pelayan dua kota suci bagi umat Islam yang menjadi pusat ibadah haji dan umrah, puas benar sehingga memperpanjang waktu kunjungan. Namun, apakah konsep klasik tourism berlaku dalam kunjungan mereka? Sejauh ini saya dengar kunjungan mereka adalah menikmati laut (sea), pasir (sand), dan matahari (sun).

Menikmati sepuas-puasnya karena keamanan mereka dijaga Angkatan Laut Indonesia. Bagaimana pula dengan faktor keempat dalam konsep tourism, yakni kepuasan sex? Pastilah tak terjadi pelayanan seks bebas pada para tamu mancanegara seperti saat Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung pada masa lalu. Konon, pelayanan faktor keempat dalam tourism bagi para utusan ke KAA, termasuk dari Arab, diselenggarakan panitia hospitality committee, panitia keramahtamahan.

Pastilah pada rombongan dari Saudi Arabia di Bali tidak diselenggarakan hospitality committee karena kita tidak akan menyelenggarakan tindakan ”kurang ajar” pada rombongan Raja Salman, sang pelayan dua tempat suci umat Islam atau hadam kharomain. Namun bagaimana mereka memenuhi kebutuhan yang biasa disebut ”nafkah rohani” itu? Piye jal? Jika kita perhatikan, para penguasa dari negara-negara Arab ketika bepergian cukup lama ke luar negeri biasanya membawaharem atau keputrian.

Itulah para istri penguasa Arab sesuai dengan syariat Islam yang senantiasa tak lepas dari kehidupan keluarga bangsa Arab. Lalu, di manakah para harem dari rombongan besar Raja Salman yang katanya kurang-lebih 1.500 orang itu? Selama ini, dalam setiap tayangan rombongan Raja Salman tak pernah terlihat para wanita. Apakah mereka tidak disertakan dalam rombongan? Lalu bagaimana ceritanya ya? Kalau ternyata mereka tetap membawa harem sebagaimana tradisi para bangsawan Arab, pantas sekali kunjungan wisata ke Indonesia dan beberapa negara lain di Asia disebut tourism halalan thayyiban.

Mudahmudahan dugaan saya benar. Itu berarti tak hanya melakukan kunjungan wisata yang memenuhi kriteria thayyiban dalam menikmati semua aspek tourism — 4S: sea, sand, sun, sex. Namun juga memenuhi kriteria halalan. Tahu toh, ngerti toh, paham toh apa yang saya maksud? Selamat jalan rombongan turis akbar ke berbagai negara Asia, sebagai kunjungan muhibah. Semoga sampai di negeri Arab dengan selamat. Amin.

Wassalamuíalaikum warahmatullahi wabarakatuh. (44)

Comments

comments

Tourism Halalan Thayyiban Reviewed by on . Oleh Abu Su’ud ASSALAMU’ALAIKUM warahmatullahi wabarakatuh. Dalam bahasa Indonesia, tourism tak lain merupakan rangkaian kegiatan melihat keindahan alam, sepert Oleh Abu Su’ud ASSALAMU’ALAIKUM warahmatullahi wabarakatuh. Dalam bahasa Indonesia, tourism tak lain merupakan rangkaian kegiatan melihat keindahan alam, sepert Rating: 0
scroll to top