Setya Novanto Terima Tujuh Persen | suaramerdeka.com

Jumat , 23 Juni 2017

Home » SmCetak » Berita Utama » Setya Novanto Terima Tujuh Persen

Setya Novanto Terima Tujuh Persen

Kesaksian Direktur PT Java Trade Utama

21 April 2017 4:03 WIB Category: Berita Utama, Nasional, SmCetak A+ / A-
SM/Pradita Utama PEMERIKSAAN SAKSI: Sidang lanjutan kasus korupsi E-KTP dengan terdakwa Irman dan Sugiharto di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (20/4), memeriksa 12 saksi yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum.(24)

SM/Pradita Utama
PEMERIKSAAN SAKSI: Sidang lanjutan kasus korupsi E-KTP dengan terdakwa Irman dan Sugiharto di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (20/4), memeriksa 12 saksi yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum.(24)

JAKARTA – Saksi dalam sidang kasus dugaan korupsi pengadaan KTP elektronik mengungkapkan bagian yang didapat oleh mantan Ketua Fraksi Partai Golkar, Setya Novanto, yang saat ini menjadi ketua DPR. ”SN grup benar dapat tujuh persen?” tanya jaksa penuntut umum, Taufik Ibnugroho, dalam sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, di Jakarta, Kamis (20/4).

”SN mau tidak mau itu (kepanjangan dari) Setya Novanto, iya (mendapat tujuh persen),” jawab direktur PT Java Trade Utama Johanes R Tanjaya yang menjadi saksi dalam sidang itu. ”Jadi SN yaitu Setya Novanto mendapat tujuh persen?” tanya Ibnu lagi.

”Iya, saya pernah mendapatkan informasi dari Bobby bahwa untuk SN group tujuh persen,” jawab Johanes. Bobby yang dimaksud oleh Johanes adalah bekas anak buahnya di PT Java Trade Utama yaitu Jimmy Iskandar Tedjasusila. PT Java Trade Utama adalah salah satu anggota konsorsium PNRI yang merupakan pemenang lelang tender E-KTP. PT Java Trade juga pernah mengerjakan proyek Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) di Kemendagri tahun anggaran 2009.

”Saya ngobrol-ngobrol santai dengan Ivan di ruangannya. Dia sempat bicara biaya untuk E-KTP gede banget, berapa besar toh? Tujuh persen dia bilang buat Senayan, tapi itu ngobrol-ngobrol santai sambil menunggu dokumen selesai,” kata Bobby yang juga menjadi saksi dalam sidang itu.

Keponakan Setnov

Sedangkan Ivan yang dimaksud adalah Irvan Hendra Pambudi Cahyo, direktur PT Murakabi Sejahtera yang merupakan keponakan Setya Novanto. Ivan seharusnya juga menjadi saksi dalam sidang kali ini tapi ia tidak memenuhi panggilan jaksa KPK. ”Di BAPSaudara menyebutkan salah satu yang hadir di ruko Fatmawati dari PT Murakabi aedalah Ivan. Ini Ivan siapa?” tanya jaksa penuntut umum KPK Abdul Basir.

”Kenal, saya dapat informasi dari Bobby. Bobby yang kenal, katanya keponakan Setya Novanto. PT Murakabi itu di Menara Imperium,” jawab Johanes. Dalam dakwaan disebutkan bahwa Setya Novanto berperan dalam proyek ini untuk menentukan anggaran KTP elektronik disetujui Komisi II karena Novanto adalah ketua Fraksi Golkar saat itu.

DPR menyetujui anggaran KTP elektronik dengan rencana 2010 senilai Rp5,9 triliun yang proses pembahasannya akan dikawal Fraksi Partai Demokrat dan Golkar dengan kompensasi Andi Narogong memberikan fee kepada anggota DPR dan pejabat Kementerian Dalam Negeri. Peran Irman Johanes kemarin juga mengungkapkan peran terdakwa Irman. Menurutnya, Irman meminta rapat persiapan lelang proyek E-KTP dilakukan di kamar hotel.

Jabatan Irman waktu itu adalah Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri (Dirjen Dukcapil). Saat itu, para pihak termasuk dari sejumlah perusahaan diminta hadir. ”Saat itu saya di Adminduk (administrasi kependudukan) untuk kerjakan SIAK (Sistem Informasi Administrasi Kependudukan). Terus kami ketemu Pak Irman. Dia minta dicarikan tempat untuk dikenalkan seseorang. Akhirnya ketemu satu tempat di Hotel Sultan,” ujar Johanes.

Dia mengaku telah kenal Irman sejak 2007. Pada 2009 dirinya mendapatkan proyek SIAK sehingga setiap hari berada di Adminduk. Johanes menyebut sejumlah orang hadir dalam pertemuan tersebut. Salah satu orang yang dikenalkan dalam pertemuan itu adalah Andi Agustinus alias Andi Narogong.

”Saya, Pak Irman, Pak Sugi (Sugiharto), Pak Husni Fahmi, Andi Narogong,” ujarnya. ”Di kamar hotel? Yang minta dibukakan kamar?” tanya Tim Jaksa KPK. ”Pak Irman (yang minta dibukakan kamar), supaya aman, supaya lebih enak,” jawab Johanes. Menurut dia, saat itu Irman mengenalkan Andi Narogong sebagai pengusaha yang akan ikut proyek E-KTP. Saat itu, proses lelang baru persiapan. ”Saya dikenalkan dengan Andi, terus saya diminta membantu.

Saya dikenalkan dengan orang HP (Hewlett Packard), hardware seperti PC, terus memperkenalkan Oracle,” tegas Johanes. Bobby saat memberi kesaksian menegaskan, dua konsorsium dibentuk untuk tujuan mengawal agar konsorsium Percetakan Negara Republik Indonesia memenangi lelang proyek E-KTP. Saksi dari PT Java Trade Utama ini membenarkan bila tiga konsorsium yang mengikuti lelang proyek E-KTP merupakan satu tim.

”Tiga konsorsium ini kan berasal dari tim yang sama. Ini jadi apakah Astra Graphia dan Murakabi sengaja dibuat konsorsium hanya untuk mendampingi PNRI menang?” tanya Tim Jaksa KPK. ”Ya betul,” jawab Bobby. Dia menjelaskan, awalnya tim mengumpulkan sepuluh perusahaan besar. Kemudian, perusahaan-perusahaan itu dipecah menjadi tiga dan diminta mencari anggotanya. (D3,K32,ant-67)

Comments

comments

Setya Novanto Terima Tujuh Persen Reviewed by on . [caption id="attachment_584541" align="alignleft" width="300"] SM/Pradita UtamaPEMERIKSAAN SAKSI: Sidang lanjutan kasus korupsi E-KTP dengan terdakwa Irman dan [caption id="attachment_584541" align="alignleft" width="300"] SM/Pradita UtamaPEMERIKSAAN SAKSI: Sidang lanjutan kasus korupsi E-KTP dengan terdakwa Irman dan Rating: 0
scroll to top