Seni Mengekspresikan Keragaman dan Perdamaian | suaramerdeka.com

Kamis , 25 Mei 2017

Home » SmCetak » Bincang-Bincang » Seni Mengekspresikan Keragaman dan Perdamaian

Seni Mengekspresikan Keragaman dan Perdamaian

Pamungkas Wahyu Setiyanto

14 Mei 2017 3:28 WIB Category: Bincang-Bincang, SmCetak A+ / A-
SM/Agung PW

SM/Agung PW

Oleh Agung PW

Perbincangan soal gerakan radikal terus bergulir. Muncul dugaan, ajaran radikal sudah berlangsung sejak sekolah dasar sampai ke kampus. Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta menolak tegas aliran radikal. Kenapa? Berikut perbincangan dengan salah seorang penggagas seni sebagai ekspresi keragaman dan perdamaian, Pamungkas Wahyu Setiyanto SSn MSn.

Mengapa mengangkat isu keragaman dan perdamaian?

Karut-marut kepentingan individu dan kelompok seakanakan telah mengabaikan kita sebagai manusia berbudaya. Keadaan itu membuat kami prihatin dan wajib menyikapi secara kritis. Isu itu bahkan menjadi tema dies natalis berdasar fenomena di Indonesia dan hampir di seluruh dunia. Setiap waktu berbagai informasi tentang pertikaian dan perselisihan selalu kita terima. Setiap waktu informasi tentang krisis saling menghormati dan toleransi selalu kita terima. Seakan-akan semua lebih mengedepankan ego dan superioritas ketimbang kebersamaan dan perdamaian.

Dari mana harus memulai gerakan perdamaian?

ISI Yogyakarta sebagai lembaga pendidikan seni yang menghasilkan produk seni, yaitu karya kajian dan penciptaan seni, serta insan-insan seni, menganggap seni dan insan seni berpotensi sebagai penggerak gerakan saling menghargai, menghormati demi menjaga keragaman. Perbedaan bukanlah untuk diperdebatkan, melainkan untuk dihargai dan dihormati sehingga terwujud kehidupan yang plural dan damai. Pepatah mengatakan, seni lebih tajam daripada pedang. Jadi sesungguhnya seni memiliki kekuatan untuk mengajak setiap orang menjaga pluralitas dan perdamaian. Atas dasar fenomena di masyarakat dunia dan potensi yang dimiliki seni itulah kami mengangkat pluralitas dan perdamaian.

ISI satu-satunya kampus yang berani beraksi menyikapi gerakan radikal. Mengapa?

Itu bukan masalah berani atau tidak berani, melainkan tentang sikap dan ideologi bangsa. Begini, kami adalah lembaga pendidikan yang berkiprah dalam ilmu seni, sehingga memiliki pemikiran yang cukup sederhana, yaitu bagaimana berusaha tetap menjaga kebebasan berekspresi di bidang seni. Tentu kebebasan berekspresi di bidang seni atau kebebasan berkesenian juga mempunyai kaidah atau normanorma yang harus kita jalani. Norma dan kaidah itu bagi kami sudah jelas, yaitu berdasarkan ideologi negara.

Berikutnya, kelompok apa pun namanya bila sudah meresahkan bagi sivitas akademika ISI Yogyakarta, tentu lembaga pasti mengambil sikap. Apalagi tingkatannya sudah masuk sampai ke sendi-sendi kurikulum pembelajaran. Nah, ISI Yogyakarta merupakan lembaga yang menjunjung tinggi nilai-nilai pluralitas untuk mewujudkan ekspresi berkesenian. Jadi apa yang kami hasilkan bukan kepentingan kelompok tertentu, melainkan hasil universal baik produk sumber daya manusia.

Dalam hal ini, sarjana dan seniman atau produk karya seni dan produk penelitian seni. Itu semua didukung sivitas akademika, alumni. Saya kira itulah yang menjadi alasan kuat mengapa kami mengambil sikap tegas atas keberadaan kelompok radikal di kampus.

ISI jauh-jauh hari sudah mengantisipasi hal itu?

Bagi kami, itulah yang seharusnya kami lakukan. Kami cukup bersyukur mempunyai hubungan ekual ketika berada di komunitas seni. Jadi aturan-aturan birokrasi bisa kami lepas untuk membangun dunia kesenian. Dalam forum seperti itulah alumni dan lembaga ISI Yogyakarta bersinergi dan saling memberikan masukan dan kritik. Ketika keuniversalan kami terusik, kami akan secepatnya bergerak dan membicarakan untuk mengambil langkah yang tepat untuk mengantisipasi.

Bagaimana menjaga pluralitas, toleransi, dan perdamain di kampus yang menjadi gudang ide, gagasan, dan pemikiran?

Kami selalu menyampaikan kepada siapa pun, seluruh sivitas akademika, seni merupakan karya universal yang dilandasi estetika dan kaidah-kaidah ilmu seni. Jadi ketika berekspresi kesenian, kami menanggalkan semua kepentingan individu, kelompok, atau apa pun namanya. Semua kami curahkan untuk satu, yaitu seni. Sikap idealis itulah yang kami coba dan kami terus berusaha menanamkan kepada mahasiswa. Dampaknya, sampai hari ini kami tidak merasa ada perbedaan. Bagi kami, ISI Yogyakarta adalah keluarga besar yang menghasilkan insan seni berideologi yang sudah disepakati seluruh rakyat Indonesia, Pancasila. Bukan untuk individu atau kelompok tertentu yang hanya menumpang untuk mencapai sesuatu yang bukan cita-cita ISI Yogyakarta.

Bagaimana ISI menanggapi arus deras radikalisme di sekolah dan perguruan tinggi?

Ke dalam, secara organisasi jelas kami di bawah koordinasi rektor, kemudian mengevaluasi organisasi dan merevitalisasi kepengurusan. Secara umum sebenarnya kami terbuka: kami lembaga pemerintah yang mempunyai asas dasar langkah gerak, yakni Pancasila. Jadi siapa pun yang mencoba masuk ke ISI Yogyakarta dengan membawa asas atau paham yang tidak sesuai dengan Pancasila, pasti kami hadapi dengan sikap tegas.

Bagaimana pluralitas selama ini di ISI?

Puralitas nggak ada masalah. Kami selalu menerima mahasiswa dari seluruh wilayah Republik Indonesia dari ujung barat sampai ujung timur. Itu sebagai bentuk kebinekaan kami. Pemimpin kami pun tidak didominasi kelompok atau suku tertentu, sehingga sentimen primordial tidak ada di kampus kami. Dalam hal keagamaan, kami hidup rukun, saling menghargai dan menghormati. Setiap kegiatan keagamaan selalu kami rembuk agar tidak terjadi benturan atau saling mengganggu.

Bagaimana bentuk ekspresi seni yang bisa menjaga pluralitas dan perdamaian ke depan?

Ekspresi seni yang bisa menjaga pluralitas dan perdamaian adalah seni yang mampu berinteraksi dengan masyarakat. Maksud saya, seni sekarang bukanlah barang sakral yang harus disterilkan atau hanya dinikmati kalangan tertentu. Seni harus diapresiasi oleh semua kalangan karena bersifat universal. Makin banyak orang bisa menikmati seni, pluralitas dan perdamian kian terjaga. Pepatah mengatakan, seni lebih tajam daripada pedang. Saya kira pepatah itu tepat.

Seni bergerak, mengalir, memasuki sendi-sendi kehidupan dengan damai dan tidak melihat siapa yang menikmati. Namun apa yang mereka berikan untuk dinikmati. Seni lebih ampuh untuk mengingatkan kita betapa penting nilai pluralitas dan perdamaian ketimbang memaksakan kehendak melalui kekerasan. (44)

Comments

comments

Seni Mengekspresikan Keragaman dan Perdamaian Reviewed by on . [caption id="attachment_597398" align="alignleft" width="300"] SM/Agung PW[/caption] Oleh Agung PW Perbincangan soal gerakan radikal terus bergulir. Muncul duga [caption id="attachment_597398" align="alignleft" width="300"] SM/Agung PW[/caption] Oleh Agung PW Perbincangan soal gerakan radikal terus bergulir. Muncul duga Rating: 0
scroll to top