Produksi Anjlok, Petani Jeruk Diambang Kerugian | suaramerdeka.com

Sabtu , 27 Mei 2017

Home » SmCetak » Produksi Anjlok, Petani Jeruk Diambang Kerugian

Produksi Anjlok, Petani Jeruk Diambang Kerugian

Oleh Teguh Hidayat A

21 Maret 2017 0:07 WIB Category: SmCetak, Suara Banyumas A+ / A-
SM/Teguh Hidayat Akbar DARI LUAR : Sejumlah pedagang buah di wilayah Kecamatan Karangpucung, Cilacap, menyediakan stok jeruk dari luar daerah karena produksi jeruk okal anjlok. (33)

SM/Teguh Hidayat Akbar
DARI LUAR : Sejumlah pedagang buah di wilayah Kecamatan Karangpucung, Cilacap, menyediakan stok jeruk dari luar daerah karena produksi jeruk okal anjlok. (33)

TAHUN 2017 rupanya bukan tahun yang membahagiakan bagi para petani jeruk di wilayah Kecamatan Karangpucung, Cilacap. Bagaimana tidak, produksi jeruk di wilayah itu anjlok, seiring cuaca yang tidak menentu.

Ya, pertanian jeruk di wilayah itu telah dikembangkan kisaran 1980-an. Sudah rutin pula, momentum bahagia terpancar dari wajah-wajah petani, setiap kali musim panen, Juli- September tiba.

Namun, belum juga memasuki bulan Juli, kemerosotan produksi sudah terlihat. Mayoritas tanaman jeruk tidak berbuah.

Merujuk data Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Karangpucung, dari Dinas Pertanian Cilacap, perkebunan jeruk di wilayah itu luasnya ratusan hektare. Pada lahan seluas itu, dikembangkan 109.000 tanaman. Dari total itu, pohon jeruk yang berbuah saat ini tidak sampai separuhnya.

”Pohon yang berbuah itu, paling-paling sekitar 40 persen saja,” kata Koordinator Penyuluh Pertanian Kecamatan Karangpucung, Darsim, Senin (20/3). Menurut dia, kemerosotan produksi jeruk dipicu kondisi cuaca yang tidak menentu, berupa kemarau basah pada 2016.

Kondisi itu membuat pohon jeruk umumnya tidak berbunga, sehingga tidak terjadi proses pembuahan untuk saat ini.

”Pohon jeruk itu umumnya mulai berbunga, saat peralihan musim kemarau menuju ke musim hujan. Tapi karena 2016 lalu terjadi kemarau basah, banyak pohon jeruk yang saat ini tidak berbuah,” paparnya.

Kondisi itu membuat petani jeruk berada dalam ambang kerugian. Sebab, jumlah produksi yang baru akan dihasilkan, nantinya dikhawatirkan tidak sebanding dengan biaya produksi yang dikeluarkan.

”Kebanyakan, tanaman jeruk tidak berbuah. Jadi kemungkinan nantinya, akan merugi,” kata Suparjo, seorang petani jeruk di Desa Karangpucung. Kondisi serupa juga dialami Sumono, petani jeruk lainnya.

Perkebunan jeruk miliknya yang berjumlah 200 tanaman, mayoritas tidak berbuah. ”Jadi untuk musim panen nanti, hampir dipastikan merosot sekali,” kata dia.

Walau demikian, para petani berusaha untuk tetap bersemangat dalam bertani. Sebagaimana ombak, pertanian jeruk ada pasang surutnya. Berpikir positif mereka, membandingkan dengan momentum manis, pada musim panen jeruk tahun sebelumnya.

Pada saat itu, satu tanaman jeruk menghasilkan sekitar 30 kilogram. ”Tahun lalu kami bisa untung, walaupun sekarang kondisinya seperti ini.

Tapi, begitulah yang namanya bertani, ada pasang surutnya. Diharapkan bisa menjadi pelajaran, untuk bisa meraih hasil yang lebih maksimal lagi ke depannya,” tutur dia. (33)

Comments

comments

Produksi Anjlok, Petani Jeruk Diambang Kerugian Reviewed by on . [caption id="attachment_563341" align="alignleft" width="300"] SM/Teguh Hidayat AkbarDARI LUAR : Sejumlah pedagang buah di wilayah Kecamatan Karangpucung, Cilac [caption id="attachment_563341" align="alignleft" width="300"] SM/Teguh Hidayat AkbarDARI LUAR : Sejumlah pedagang buah di wilayah Kecamatan Karangpucung, Cilac Rating: 0
scroll to top