Perjuangan Sunyi Kartini-Kartini Masa Kini | suaramerdeka.com

Sabtu , 22 Juli 2017

Home » SmCetak » Berita Utama » Perjuangan Sunyi Kartini-Kartini Masa Kini

Perjuangan Sunyi Kartini-Kartini Masa Kini

21 April 2017 4:07 WIB Category: Berita Utama, Nasional, SmCetak A+ / A-
SM/Irawan Aryanto, Surya Yuli, dok

SM/Irawan Aryanto, Surya Yuli, dok

DAN jiwaku terbang bersama desiran suara-suara itu,” ungkap Kartini setelah mendengarkan Ginonjing, gending yang disebut dalam surat tertanggal 13 Januari 1900, ”suara gamelan, ke langit biru, melewati awan tipis, menerpa sinar gemintang – bunyi gong bergaung keras membawaku ke lembah gulita, ke jurang yang dalam, melewati belantara yang tidak terjamah manusia! Dan jiwaku gemetar ketakutan, kesakitan, dan perih!”

Ungkapan Kartini saat mendengarkan gamelan itu, menurut ST Sunardi dalam ”Ginonjing”, adalah metafor untuk menunjukkan betapa Kartini risau menghadapi masa lalu dan masa depan.

Kartini goyah akan tetapi ia tetap harus menghadapi segalanya dengan tawakal, dengan tanpa ketakutan. Dalam kata-kata Kartini sendiri pada 6 November 1899, ”Barang siapa tidak berani, tidak mendapatkan apa-apa.” Jauh sebelum itu, kepada Stella, pada 25 Mei 1899, ia menulis tentang kemungkinan kemunculan ”perempuan modern dan independen, yang melangkah dengan percaya diri dalam hidupnya, ceria dan kuat, antusias dan punya komitmen, bekerja bukan untuk kepuasan dirinya namun juga memberikan dirinya untuk masyarakat luas, bekerja untuk kebaikan sesamanya.” Kartini saat itu tidak sedang meramal. Namun, kita sekarang tahu, segala sesuatu yang diobsesikan oleh kartini telah muncul. Jika masih hidup, paling tidak ketika melihat sepak terjang perempuanperempuan Jawa Tengah semacam desainer Anne Avantie, feminis Dewi Candraningrum, penggerak ekonomi nelayan Masnunah, penyanyi tradisi Endah Laras, dan peneliti Ina Hunga, Kartini bisa jadi akan bilang ”Karena kita berani, kita mendapatkan apa-apa. Kita mendapatkan Anne, Dewi, Masnuah, Endah, dan Ina.”

Anne dan Saluran Berkat

Apa yang didapatkan dari Anne Avantie? Rancangan-rancangan kebaya indah (antara lain dikenakan para Miss Universe) yang melambungkan namanya di seluruh pelosok Tanah Air dan mancanegara? Bukan. Bukan sekadar itu. Sepanjang 28 tahun berkarya, Anne menganggap kehebatan di dunia rancang kebaya hanyalah bonus.

”Anugerah indah yang saya miliki adalah: kesempatan memenuhi panggilan hidup untuk melayani sesama secara terus-menerus. Tak putus-putus,” kata perempuan kelahiran Semarang, 20 Mei 1954 itu. Panggilan hidup itulah yang membentuk Anne sebagai penulis bukubuku rohani piawai, pemprakarsa pendirian Wisma Kasih Bunda yang mengurusi penderita hydrocephalus, aster ani, tumor, labiopalataschisis, dan penderita penyakit lain.

Tak hanya itu, ia juga mengajak warga dan pelajar berlatih menjahit. Malah tak tanggung-tanggung, ia juga membuat sekolah telenta anak berkebutuhan khusus bekerja sama dengan YPAC. Yang terkini berbendera AnneAvantieMall.com, penerima penghargaan filantropis Asia-Pasifik, membantu para pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) memasarkan produk-produk mereka ke mal-mal besar.

Jadi, tidak perlu heran, jika pada 2004, 2005, dan 2008, Anne mendapatkan penghargaan ”Kartini Award” dan ”Wanita Indonesia Bisa”. Meskipun begitu, Anne menyatakan, ”Menjadi perempuan itu masalah kelahiran, sedangkan menjadi bijak itu pilihan.” Ini berarti tak semua perempuan bisa jadi hero atau pahlawan.

”Saya tak peduli mau jadi pahlawan atau tidak. Saya hanya ingin menjadi saluran berkat bagi siapa pun. Saya juga ingin jadi kabel Tuhan agar orang bisa mendapatkan cahaya dari Tuhan.” Hanya dengan cara seperti itulah Anne yang merasa mendapatkan kunci kesuksesan dari suami, akan menjadi pohon rindang bagi siapa pun yang ingin berteduh.

”Jika sudah bisa menjadi pelindung bagi siapa pun, saya kira, saya akan bisa ikut memperjuangkan pemartabatan perempuan. Pemartabatan perempuan itu bukan hanya masalah emansipasi. Emansipasi itu cuma sambal dari perjuangan Kartini yang lebih besar,” tutur pemprakarsa Anne Avantie Voice, lembaga yang memberi edukasi bagi kebangkitan perempuan itu.

Dewi dan Dokumen Rahim

Kartini juga akan bangga berhadapan dengan Dewi Candraningrum. Dewi adalah doktor lulusan Universitaet Munster Jerman (2008), sedang Master diperoleh dari Monash University Australia (2004), dan S-1 dari UMS. Karya dan risetnya berkaitan dengan Pendidikan dan Sastra Perempuan, Pembangunan Berkelanjutan, Kajian Ekologis dan Kajian Gender.

Hanya, bukan itu yang membuat ia bermakna bagi orang lain. Selain aktif berjuang bersamasama dengan ”Para Kartini Kendeng” menolak pembangunan pabrik semen di Rembang, Dewi ”mendokumentasikan” luka-luka sejarah umat manusia lewat lukisan wajahwajah para jugun ianfu, perempuan- perempuan 65, korbankorban perkosaan 1998, dan serial Kartini-Kartini Kendeng.

”Saya menjual lukisan-lukisan untuk membiayai perjuangan. Jangan sekadar melihatnya sebagai karya seni. Karya yang saya beri nama Dokumen Rahim ini harus dipahami nilainilai perjuangan keseteraan gendernya. Juga kecintaan pada lingkungan dan perlawanan pada kekerasan seksualnya,” kata perempuan kelahiran Boyolali 12 September 1975 itu. Mengapa Dewi berbuat semacam itu?

Ia merasa ”kecintaan Kartini pada pengetahuan” belum tersebar dengan baik. Itu yang menyebabkan impian mengenai keadilan juga belum dipahami oleh banyak perempuan. ”Jadi, jika harus meneruskan perjuangan Kartini, yang paling ingin saya lakukan adalah memberi penghayatan pengetahuan kepada para perempuan.

Kelak jika mereka sudah paham, maka para perempuan akan memiliki keberpihakan yang tinggi, terutama pada keadilan. Keadilan bagi siapa pun. Bukan keadilan hanya untuk perempuan,” tutur dosen yang disibukkan oleh aktivitas sebagai pelukis, penulis dan peneliti ini.

Endah dan Lagu Kehidupan

Siapa lagi yang akan jadi pujaan Kartini? Ia adalah Endah Laras. Penyanyi yang senantiasa berkebaya di panggung ini, dalam lima tahun terakhir getol menularkan bagaimana mengemas keroncong dan seni tradisi Jawa kepada generasi muda. Ia tidak ingin generasi muda kehilangan akar, kehilangan kejawaan. Tak hanya itu.

Agar orang bisa meyakini betapa seni tradisi bisa mendunia dan berguna bagi kehidupan modern, Endah Laras pun berkolaborasi dengan siapa pun. Ia jadi penyanyi dalam film Soegija garapan Garin Nugroho dan bermain dalam film Finding Srimulat.

Selain itu ia berkolaborasi dengan Ki Enthus Susmono main wayang di Prancis, jadi bintang dalam Opera Jawa Tusuk Konde (Garin Nugroho), bermusik bareng pemusik Indonesia, Thailand, dan Korea, serta menjadi bagian dari pementasan Akiko Kitamura dan pertunjukan Yasuhiro. Endah tak hanya berkutat sebagai praktisi. Pada saat lain, ia juga menjadi dosen terbang di Chinese University of Hong Kong dan guru di Junior High School UWCSEASingapore. ”Aktivitas ini biasa-biasa saja.

Tak perlu dibesar-besarkan. Ini perjuangan sunyi saya sebagai seniman. Perjuangan meneruskan cita-cita Kartini: menebarkan kebaikan kepada siapa pun,” kata perempuan yang pada 2015 memperoleh penghargaan ”Kartini Masa Kini” itu. Hanya itukah perjuangan Endah? Tidak. Ia juga memperkenalkan teks-teks Indonesia ke berbagai belahan dunia.

Ia antara lain membacakan ”Kisah Malang Sumirang” di Frankfurt Book Fair 2015 dengan menyanyikan teks itu. Malah ia juga berkolaborasi dengan Elisabeth Inandiak membabar Babad Ngalor Ngidul. ”Inilah kegelisahan kreatif saya. Saya ingin terus bermakna bagi siapa pun di bidang seni apa pun. Ini yang bisa saya lakukan,” jelas perempuan kelahiran 3 Agustus 1976 dalam nada teramat pelan.

Masnuah dan Martabat Istri Nelayan

Kartini pasti kagum pada perempuan yang hanya tamat SD ini. Sebab, kecuali disebut sebagai ìKartini bagi Istri-Istri Nelayan Demakî, Masnuah telah berhasil memprakarsai pendirian Kelompo Usaha Puspita Bahari yang memungkinkan para istri nelayan berdaya dan berpenghasilan paling tidak Rp 1,5 sebulan. ”Saya tak puas pada pencapaian ini,” kata perempuan yang tak mau menyebutkan aneka penghargaan yang telah diperoleh itu.

Karena tak puas, Masnuah mulai beraktivitas juga dalam pemberdayaan penyandang disabilitas, petani, dan kaum marginal lain. Ia menjadi pelopor pemberian pelatihan keterampilan dan penyadaran betapa pengetahuan itu sangat penting. ”Saya kemudian bersama teman-teman mendirikan Sekolah Pelopor Keadilan. Ini kami gunakan untuk menyadarkan siapa pun agar berjuang menegakkan keadilan.” Apa yang sebenarnya dirindukan Masnuah?

”Istri nelayan belum bermartabat. Mereka masih menjadi objek, belum diposisikan sebagai subjek. Karena itulah, saya mencoba meyakinkan pemerintah agar orang-orang marginal pun dilibatkan dalam aneka program. Berat. Namun tak ada alasan untuk tak melakukan. Ini agar ada habis gelap terbitlah terang di dunia istri nelayan,” ujar perempuan yang kini juga ditunjuk sebagai Sekjen Persaudaraan Perempuan Nelayan Indonesia ini.

Ina dan Suara Keadilan

Akan jalan tetapi jalan untuk menuju kemartabatan dan keadilan masih jauh dan mungkin agak gelap. Karena itulah, Kartini, jika masih hidup, membutuhkan sosok sekelas Ina Hunga yang mampu memberikan aneka pendidikan kritis dan pengenalan ekofeminisme. Kedua hal itu perlu ditularkan agar antara lain warga bisa melakukan perlawanan terhadap kekerasan, human trafficking, kemiskinan, dan memunculkan kepemimpinan perempuan.

Tak hanya itu. Ina juga bergerak di bidang penguatan pengetahuan perempuan untuk perdamaian. ”Ini yang akan kami laksanakan, antara lain dalam bentuk seminar internasional,” kata perempuan bernama lengkap Doktor Arianti Ina Restiani Hunga, Ketua Pusat Penelitian dan Studi Gender Universitas Kristen Satyawacana, Salatiga, itu.

Tak bergerak di wilayah teori saja, Ina juga melakukan pendampingan kepada para pembatik Jateng, menjadi pemprakasa pusat kreativitas pengolahan sampah, mendidik pemilih perempuan, dan mendayagunakan seluruh pengetahuan untuk mengelola Parahita Foundation.

”Hanya dengan ini saya bisa meneruskan cita-cita Kartini yakni membentuk kepemimpinan perempuan yang kritis dan menentang feodalisme,” ujar perempuan kelahiran Semarang 19 November 1965 itu. Berhasilkah? Masih harus dibuktikan. Perjalanan (sunyi) telah dilakukan dan pantang dihentikan. (Triyanto Triwikromo-33)

Comments

comments

Perjuangan Sunyi Kartini-Kartini Masa Kini Reviewed by on . [caption id="attachment_584545" align="alignleft" width="300"] SM/Irawan Aryanto, Surya Yuli, dok[/caption] ”DAN jiwaku terbang bersama desiran suara-suara itu, [caption id="attachment_584545" align="alignleft" width="300"] SM/Irawan Aryanto, Surya Yuli, dok[/caption] ”DAN jiwaku terbang bersama desiran suara-suara itu, Rating: 0
scroll to top