Peringatan Agama Kok Libur? | suaramerdeka.com

Minggu , 28 Mei 2017

Home » SmCetak » Berita Utama » Peringatan Agama Kok Libur?

Peringatan Agama Kok Libur?

GAYENG SEMARANG

7 Mei 2017 4:13 WIB Category: Berita Utama, Bincang-Bincang, SmCetak A+ / A-

Oleh Abu Su’ud

06em07e17mgu-02ASSALAMU’ALAIKUM warahmatullahi wabarakatuh. Tolong Anda lihat kembali kalender April 2017. Berapa kali tercantum hari libur yang berkait dengan peristiwa agama? Tanggal 14 April tertulis peringatan wafatnya Nabi Isa. Sepuluh hari kemudian peringatan Isra Mikraj.

Pada kalender Mei ini, bangsa Indonesia menikmati berkah hari libur dari peristiwa keagamaan: kenaikan Nabi Isa. Itu kan berati semacam peristiwa mikraj Nabi Isa bertemu Tuhan. Bedanya, Nabi Muhammad setelah mikraj (peristiwa kenaikan) kembali ke dunia untuk meneruskan tugas kenabian berikutnya, seperti melaksanakan ibadah shalat.

Wah, sepintas agama yang diturunkan untuk manusia betul-betul rahmatan lil ‘alamin atau kedamaian di dunia. Betapa tidak? pada hari-hari itu orang Indonesia, khususnya nasrani dan muslim, mendapat kesempatan tidak bekerja. Biasanya hari Sabtu, para pemeluk agama Yahudi mendapat libur sesuai dengan tradisi Tuhan, yaitu tidak bekerja lagi pada hari Sabtu, setelah enam hari menciptakan jagat raya. Lalu, Allah ”beristirahat” di singgasana atau Arsy-Nya.

Sementara itu, pengikut Nabi Isa menetapkan hari Ahad atau Minggu sebagai hari libur (tidak bekerja). Konon, kata ”minggu” berasal dari kata ”domingo” yang berasal dari bahasa Portugis (dalam bahasa Latin dies Dominivus, yang berarti dia do Senhor atau ”hari Tuhan kita”). Dalam kalender orang Yahudi, pantas jika hari itu libur karena ada pelaksanaan ibadah ritual di rumah ibadah yang bernama sinagog.

Hari pertama untuk bekerja kembali dalam satu pekan (minggu) disebut Monday, setelah berlibur pada Sunday. Sementara orang Islam memulai hari kerja baru pada hari Minggu dengan nama Ahad. Berikutnya hari kedua bernama Isnaen atau Senin. Diteruskan dengan Tsalasa (Selasa), lalu Arba’a (Rabu) hari keempat. Khamis (Kamis) hari khomsa atau kelima, berakhir pada hari berhimpun melaksanakan shalat jumat yang berasal dari kata ”Jama’”. Jadi tak disebutkan secara eksplisit kapan hari berlibur.

Lalu, kapan orang Islam mendapat libur mingguan? Sabtu? Tidak Minggu? Iya dan tidak. Lalu sebagian umat Islam memilih Jumat sebagai hari libur.

***

PADA peristiwa yang berkenaan dengan agama Kristen seperti kenaikan Isa Almasih, wafatnya Isa Almasih, terutama pada libur Natal, wajar mereka mendapat libur karena hari itu mereka melaksanakan upacara ritual agama. Penganut Islam dengan demikian hanya patut mendapat libur pada peristiwa Idul Fitri dan Idul Adha, karena pada hari itu mereka melakukan ritual shalat id pada pagi hari.

Akan tetapi tampaknya orang Islam ingin juga mendapat libur pada setiap peristiwa keagamaan, meski tak melaksanakan ritual agama pada pagi dan siang hari. Ya, begitulah berkah dari peristiwa keagamaan. Adapun peringatan peristiwa agama seperti Maulid Nabi Muhammad saw, Isra Mikraj, dan Hijrah Nabi dalam Islam bisa diperingati pada malam hari dan tak harus pada tanggal tersebut.

Sepintas lalu berkesan orang mencantumkan peristiwa agama untuk bisa berlibur. Sementara itu pada setiap hari besar agama Hindu, Buddha, dan Konghucu, para pemeluk masing-masing juga melaksanakan acara keagamaan di rumah ibadah, seperti candi dan vihara. Jadi pantas pula mereka mohon diliburkan pada hari agama masing-masing.

Sepantasnya peristiwa bagi umat Islam dalam sepanjang sejarah tak perlu hari libur. Namun orang Islam merasa belum disamakan dengan pemeluk agama lain jika tak menikmati libur pada hari peringatan itu.

Tulisan ini tak bermaksud merombak hari libur seperti tertera dalam kalender. Namun hanya mengingatkan, bukankah lebih baik memperingati peristiwa keagamaan secara lebih produktif dalam beramal sosial?

Terakhir, semua agama yang dianut orangorang di dunia dan di Indonesia sebelum mengenal Islam, mengajarkan perayaan pergantian tahun. Ajaran Hindu merayakan tahun baru Saka. Orang Buddha merayakan Waisak. Orang Konghucu memiliki tahun baru Imlek atau gong xi fa cai. Orang nasrani mempunyai tahun baru Masehi.

Lalu, orang Islam menentukan tahun baru Islam yang disebut tahun baru Hijriah yang dimulai pada 1 Muharram. Ceritanya sih banyak, tetapi yang lebih menarik, orang Islam Indonesia, terutama di Jawa, menyebut bulan Muharram sebagai bulan Sura. Ada apa ya? Konon, masyarakat Jawa juga tak boleh merayakan pernikahan pada hari itu. Ya mboh ya. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. (44)

Comments

comments

Peringatan Agama Kok Libur? Reviewed by on . Oleh Abu Su’ud ASSALAMU’ALAIKUM warahmatullahi wabarakatuh. Tolong Anda lihat kembali kalender April 2017. Berapa kali tercantum hari libur yang berkait dengan Oleh Abu Su’ud ASSALAMU’ALAIKUM warahmatullahi wabarakatuh. Tolong Anda lihat kembali kalender April 2017. Berapa kali tercantum hari libur yang berkait dengan Rating: 0
scroll to top