Muhammad Ja’far: Indonesia bak Gadis Cantik yang Sedang Dipinang | suaramerdeka.com

Kamis , 30 Maret 2017

Home » SmCetak » Bincang-Bincang » Muhammad Ja’far: Indonesia bak Gadis Cantik yang Sedang Dipinang

Muhammad Ja’far: Indonesia bak Gadis Cantik yang Sedang Dipinang

5 Maret 2017 1:44 WIB Category: Bincang-Bincang, SmCetak A+ / A-

Oleh Saktia Andri Susilo

SM/Pradita Utama

SM/Pradita Utama

KUNJUNGAN kenegaraan Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Azis al Saud ke Indonesia jadi perbincangan khalayak ramai. Sejumlah pihak menaruh harap atas kedatangannya. Lalu, bagaimana implementasi dari kunjungan itu? Berikut perbincangan dengan Ketua Pusat Kajian Strategis Hubungan Indonesia-Timur Tengah Muhammad Jaífar.

Raja Salman berkunjung beserta rombongan jumbo. Apa signifikansi kunjungan tersebut?

Kunjungan difokuskan pada agenda-agenda ekonomi. Karena, Indonesia memang sedang berusaha mempercepat pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, Indonesia sedang berusaha membuka kerja sama dengan banyak negara di berbagai kawasan, yakni Timur Tengah, Eropa dan Amerika. Tentu dengan catatan, sepanjang sesuai dengan prinsip politik luar negeri kita yang bebas aktif dan win-win solution.

Indonesia juga harus memberi perhatian kepada negaranegara lain di Timur Tengah. Sebab, Indonesia juga memiliki nilai strategis, baik politis maupun ekonomis. Kabarnya, dalam waktu dekat ini Qatar juga akan berkunjung ke Indonesia. Demikian pula Irak, meskipun tercabik konflik, kini sedang gencar membangun infrastruktur. Indonesia bisa berkenalan lebih dekat dengan mereka.

Selama ini, bagaimana kerja sama ekonomi Indonesia dan Saudi?

Bila melihat ke belakang, ada stigma kurang positif terhadap kerja sama ekonomi dengan Saudi. Sebab, beberapa kali terbangun komitmen, tetapi realisasinya sangat lemah. Dalam persoalan kilang minyak Cilacap, misalnya. Sampai saat ini, proyek itu belum terwujud juga. Padahal, sudah beberapa kali presiden berganti.

Saudi beralasan realisasi kerja sama terkendala oleh dua hal. Pertama, soal pembagian keuntungan yang tidak pernah cocok.

Saudi selalu minta angka yang tinggi, sedangkan Indonesia berpatokan pada regulasi yang ada. Kedua, Saudi merasa birokasi Indonesia terlalu ribet dan banyak pintu. Persoalan lain, saat itu Saudi sangat terpikat pada Amerika Serikat dan Eropa. Namun belakangan negaranegara mitra Saudi itu juga melemah dan justru menoleh ke Asia Pasifik dan Asia Tenggara.

Bagaimana seharusnya menyikapi hal itu?

Sudah seharusnya Indonesia bersikap nothing to loose. Karena, posisi Indonesia seperti gadis yang sedang dipinang dan diminati beberapa orang sekaligus. Para ”peminang” itu adalah beberapa negara Timur Tengah, Amerika Latin, Afrika, dan Eropa.

06EM05C17MGUJadi sejauh ”pinangan” itu sesuai dengan prinsip politik luar negeri bebas aktif dan saling menguntungkan, mengapa tidak menerima? Kalaupun setelah ”meminang” realisasinya tersendat, Indonesia tidak terlalu rugi. Masih banyak negara lain yang sangat berminat kepada Indonesia.

Saat ini, Asia Pasifik dan Asia Tenggara sedang ditoleh oleh Amerika dan Eropa. Jadi tergantung pada Indonesia dalam memformulasikan peluang politik dan ekonomi dengan baik dan positif. Bila Saudi merepetisi pola-pola seperti dulu, negara itu akan kehilangan peluang.

Sebaliknya, Indonesia juga harus realistis membangun hubungan dengan negara-negara lain dan tidak boleh jumawa. Jadi harus melihat, apakah ìpinanganî itu bisa berlanjut ke tingkat lebih tinggi, yaitu implementasi, atau tidak.

Mengapa Indonesia diperebutkan?

Tren negara-negara Amerika, Eropa, dan Timur Tengah saat ini memang sedang melirik ke Asia Tenggara dan Asia Pasifik. Maka, mau tidak mau, Saudi harus melakukan hal yang sama. Namun jangan memahami bahwa Saudi akan menjadi rival Amerika Serikat.

Asumsi akan ada poros Saudi- Indonesia tidak tepat. Karena, bagaimanapun hubungan Amerika Serikat dan Saudi tetap positif dan konstruktif, bahkan bisa meningkat. Bagaimanapun mereka harus meningkatkan hubungan dengan negara lain.

Bagaimana posisi Saudi di bawah kepemimpinan Raja Salman?

Secara umum, terlihat ada penurunan dan tidak seperti pada era 1990-an hingga 2000-an. Saat itu, Saudi sangat dominan di Timur Tengah. Ketika muncul problematika terorisme di Timur Tengah, Saudi mencoba mengaktualisasikan dominasi dan hegemoni politik. Namun itu menyita energi Saudi sangat besar, terutama anggaran militer yang mencapai ribuan triliun. Antara lain digunakan untuk mendukung program militer di Suriah, Mesir, Libya, dan Yaman.

Kas Saudi menyusut, sementara APBN mereka goyang untuk membiayai obsesi militernya. Melemahnya pengaruh Saudi di Timur Tengah juga memengaruhi pengaruhnya di kancah global. Lalu, diliriknya negaranegara di Asia Tenggara dan Asia Pasifik, menjadi momentum bagi Saudi untuk memperluas pengaruh yang melemah itu.

Apakah Saudi masih menguntungkan bagi Indonesia?

Dari sisi ekonomi, arus investasi yang diharapkan riil dan cukup besar akan masuk ke Indonesia. Hal itu bisa menggenjot perekonomian Indonesia. Secara politis, posisi Indonesia menjadi lebih strategis.

Adapun aspek kerugian, bisa dilihat dari seberapa jauh Indonesia bisa mengelola ketegangan negara-negara Timur Tengah yang bersengketa. Misalnya, Saudi dan Iran. Padahal, Indonesia dekat dengan kedua negara itu.

Ada irisan yang tidak positif antara Iran dan Saudi sejak dahulu. Hal itu pula yang mungkin membuat Saudi cepat-cepat bekerja sama dengan Indonesia dan tidak mau ketinggalan dari Iran.

Apa yang dilakukan dengan kondisi seperti itu?

Indonesia harus bisa mengelola arsiran positif dengan mengantipasi ketegangan negatif. Idiom Islam di Indonesia yang moderat, damai, inklusif, demokratis, dan kultur sosial kita yang sangat toleran menjadi kunci untuk mengelola potensi dan mengantisipasi ketegangan.

Indonesia harus menarik mereka ke horizon kita. Jangan sampai sebaliknya, Indonesia yang tertarik ke horizon ketegangan mereka.

Mereka mendekat karena melihat kelebihan Indonesia. Selain itu, Indonesia dianggap netral dengan tidak masuk putaran konflik di Timur Tengah.

Saudi tentu mempertimbangkan varian integral antara jumlah muslim di Indonesia dan potensi ekonomi yang besar. Keislaman mayoritas penduduk Indonesia dianggap menjadi daya tarik khusus dan mempercepat kerekatan hubungan kedua negara.

Indonesia dan Saudi saling mengistimewakan. Karena itu, nota-nota kesepahaman yang dibawa juga menyertakan aspek sosial keislaman. Antara lain pertukaran ulama dan pendidikan.

Berarti tak ada masalah bila ada afiliasi organisasi kemasyarakatan atau keagamaan antara kedua negara?

Itu juga menjadi maksud saya menyatakan Indonesia harus bisa menarik mereka ke dalam horizon kita. Jangan sampai sebaliknya. Karena, hal itu menjadi bagian dari mengelola dengan baik ketegangan antara Saudi dan Iran.

Jangan sampai menimbulkan friksi sekaligus jangan sampai merusak horizon positif Indonesia. Bukan hanya Saudi dan Iran saja yang menjadi rival. Demikian juga antara Irak dan Qatar, hubungan mereka tidak sinkron. Itu sebenarnya menjadi peluang realistis bagi Indonesia untuk memediasi.

Bagaimana prospek hubungan antara Indonesia dengan Saudi?

Ada keinginan Saudi lebih serius terhadap Indonesia, terutama karena mereka melihat Iran makin dekat dengan Indonesia. Hal itu membuat mereka terlecut dan sepetinya tidak akan mainmain dengan Indonesia.

Bagaimanapun Indonesia harus tetap realistis. Nilai investasi Saudi yang dikatakan ratusan triliun itu tidak mungkin direalisasikan dalam waktu dekat. Angka itu juga tidak serta-merta dikucurkan secara langsung ke Indonesia. Karena, investasi itu harus didistribusikan ke beberapa negara Asia Tenggara.

Mendistribusikan kerja sama ekonomi juga berarti mendistribusikan benih hubungan bilateral. Bila realisasi kerja sama sudah terpenuhi, bisa melangkah ke sektor-sektor lain nonmigas. Misalnya, pariwisata.(44)

Comments

comments

Muhammad Ja’far: Indonesia bak Gadis Cantik yang Sedang Dipinang Reviewed by on . Oleh Saktia Andri Susilo [caption id="attachment_551797" align="alignleft" width="300"] SM/Pradita Utama[/caption] KUNJUNGAN kenegaraan Raja Arab Saudi Salman b Oleh Saktia Andri Susilo [caption id="attachment_551797" align="alignleft" width="300"] SM/Pradita Utama[/caption] KUNJUNGAN kenegaraan Raja Arab Saudi Salman b Rating: 0
scroll to top