Menata Hati di Bulan Suci | suaramerdeka.com

Minggu , 28 Mei 2017

Home » SmCetak » Menata Hati di Bulan Suci

Menata Hati di Bulan Suci

OASE - Oleh M Islahul Umam

19 Mei 2017 0:07 WIB Category: SmCetak, Suara Muria A+ / A-
SM/Muhammadun S

SM/Muhammadun S

TAK lama lagi, kita akan memasuki Ramadan. Umat Islam perlu menata hati, agar dalam melaksanakan ibadah puasa nanti, tidak sekadar melakukan ritual tahunan tanpa mendapatkan pahala dan berkah dari bulan suci ini. Puasa Ramadan merupakan ibadah yang merupakan kewajiban bagi setiap muslim untuk menunaikannya.

Ini sebagaimana ditegaskan dalam Alquran,”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orangorang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183) Agar ibadah ini tidak ternodai oleh perbuatan-perbuatan yang bisa merusak pahala puasa, maka menata hati menjadi penting kemudian.

Rasulullah Saw mengingatkan, ”Banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan apaapa kecuali lapar saja.” (HR Ahmad) Seorang muslim tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya, kecuali lapar dan dahaga saja, karena melakukan perbuatan yang bisa merusak pahala ibadah ini. Salah satunya adalah ghibah (menggunjing).

Ghibah adalah perbuatan yang sangat dilarang dalam Islam. Ghibah adalah menyebut kekurangan orang lain, baik terkait dengan fisik, ibadah, harta benda, perilaku, anak, orang tua, pasangan hidup, pembantu, pakaian, rumah atau sejenisnya, yang berkaitan dengan orang tersebut.

Imam an-Nawawi (wafat 676 H) menjelaskan dalam al-Adzkar (hal 300- 301), bahwa semua hal, baik berupa ucapan, tulisan, gerakan maupun isyarat, yang menunjukkan aib orang lain, adalah ghibah yang diharamkan. Bagaimana jika aib yang diceritakan sesuai dengan kenyataan? Justru inilah yang disebut ghibah. Jika tidak sesuai kenyataan, disebut kebohongan.

Dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan Imam Muslim, Nabi Muhammad berkata kepada para sahabat,” Tahukah kalian tentang ghibah?” Mereka menjawab,”Allah dan Rasul- Nya lebih mengetahui.” Beliau berkata,” Ghibah adalah menyebutkan apa (kekurangan) yang tidak disukai oleh saudaramu.” Lalu ada yang bertanya,”Bagaimana jika kekurangan yang aku sebutkan, memang ada pada saudaraku?” Beliau berkata,”Jika kekurangan itu memang ada padanya, maka kamu telah melakukan ghibah, dan jika tidak ada padanya, maka kamu telah memfitnahnya.”

Hukum ghibah sendiri, sangat tegas dijelaskan dalam Alquran sebagai perbuatan yang diharamkan. ”Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain.” (QS. Al-Hujurat : 12) Namun, ada juga ghibah yang diperbolehkan.

Pertama, untuk melaporkan kezaliman. Orang yang dizalimi atau dianiaya, boleh mengadukan orang yang menzalimi dia kepada pihak yang bisa menghentikan kezaliman tersebut. Kedua, meminta bantuan untuk menghilangkan kemungkaran. Ketika seseorang melihat kemungkaran dan tidak mampu menghentikannya, dia diperbolehkan, bahkan diwajibkan melaporkan pelaku kemungkaran kepada pihak yang memiliki kekuatan (kekuasaan) agar menghentikan kemungkaran tersebut. Ketiga, meminta fatwa atau kejelasan hukum agama.

Keempat, memeringatkan kaum muslimin dari kejelekan dan keburukan. Kelima, ketika seseorang melakukan kemaksiatan di depan umum tanpa rasa malu, maka kita boleh menceritakan kemaksiatan tersebut, dengan tujuan agar masyarakat menjauhinya, sehingga selamat dari pengaruh buruk yang ditimbulkannya. Keenam, jika seseorang telah dikenal dengan julukan tertentu terkait dengan kekurangannya, misalnya si pincang, si bisu dan lainnya, maka kita boleh menyebutnya dengan julukan itu, untuk memperjelas informasi, tanpa ada niat mencelanya.

Semoga penjelasan singkat ini, bisa memberikan sedikit pemahaman kepada kita, untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin dalam menyambut Ramadan, dengan menata hati agar selama puasa, benar-benar bisa mendapatkan ridla Allah swt.

Salah satu cara menata hati itu, dengan menghindari perbuatan ghibah yang diharamkan oleh Islam. Wallahu Aílam. (* Penulis adalah imam Masjid Darul Ilmi Universitas Muria Kudus (UMK) dan ketua Rijalul Ansor Kabupaten Kudus/H15-61)

Comments

comments

Menata Hati di Bulan Suci Reviewed by on . [caption id="attachment_601153" align="alignleft" width="300"] SM/Muhammadun S[/caption] TAK lama lagi, kita akan memasuki Ramadan. Umat Islam perlu menata hati [caption id="attachment_601153" align="alignleft" width="300"] SM/Muhammadun S[/caption] TAK lama lagi, kita akan memasuki Ramadan. Umat Islam perlu menata hati Rating: 0
scroll to top