Menafsir Ulang Pemikiran Sang Putri Jepara | suaramerdeka.com

Kamis , 25 Mei 2017

Home » SmCetak » Berita Utama » Menafsir Ulang Pemikiran Sang Putri Jepara

Menafsir Ulang Pemikiran Sang Putri Jepara

21 April 2017 4:04 WIB Category: Berita Utama, Nasional, SmCetak A+ / A-

APAKAH Raden Ayu bahagia dengan pernikahannya? Sejauh ini, pertanyaan tersebut masih menjadi salah satu misteri terbesar dalam hidup Kartini. Dalam surat-suratnya kepada beberapa sahabat pena, ia tak putus-putus mengungkapkan kegairahan hidup pascadipersunting Bupati Rembang Raden Mas Adipati Ario Djojoadiningrat pada 8 November 1903.

Kartini mengaku bersyukur dipertemukan dengan lelaki progresif yang dapat menjadi kawan seiring dalam mewujudkan cita-citanya. Kepada Tuan dan Nyonya Abendanon, ia menulis, ”Segala yang indah dan agung yang pernah saya bayangkan, di sini menjadi kenyataan. Apa yang baru saya impikan, bertahun-tahun lalu telah dilaksanakan olehnya.”

Tapi apakah untaian kata penuh puja dan syukur dalam surat-suratnya itu tulus? Sitisoemandari Soeroto, penulis biografi Kartini, melihat ada yang janggal dari ungkapan-ungkapan perempuan yang ditahbiskan sebagai pelopor emansipasi wanita Indonesia itu.

Pertama, tak lazim perempuan Jawa pada masa itu membeberkan hubungan dengan pasangannya secara terbuka, sekalipun kepada sahabat dekat. Kedua, terdapat beberapa penggal kalimat yang jika dicermati justru menegasi penggambaran perasaan Kartini.

Mengapa di tengah ungkapan kebahagiaan itu, ia justru merindukan masa silam? Mengapa pula ia melangitkan harapan kepada bayi yang dikandungnya dengan nada ironi? Jika bayi itu perempuan, tulis Kartini, ia tidak akan pernah memaksa berbuat sesuatu yang bertentangan dengan perasaannya.

Pendek kata, puja-puji Kartini terhadap sosok suami yang disebutnya mijn hartekoning (raja hatiku), serta penggambaran terhadap kesempurnaan hidup barunya di Rembang, tak lebih sebagai ikhtiar menyembunyikan kepedihan. Ia kecewa, mimpinya bersekolah di Belanda dan Batavia yang dirajut selama bertahun-tahun putus di tengah jalan. Ia sedih, usahanya memajukan harkat perempuan bumiputra tak berjalan sesuai harapan.

Kartini tak ingin kepedihannya diketahui oleh sahabat-sahabat terkasihnya, Tuan dan Nyonya Abendanon, Nyonya Marie Ovink-Soer, Nyonya Nellie van Kol, Annie Glaser, dan terutama Estelle Zeehandelaar. Kartini pun menyembunyikan fakta sebagai objek poligami, sesuatu yang selama ini ia tentang dengan keras.

Gagasan Besar

Lahir dari keluarga bangsawan pada akhir abad ke-19, Kartini dikaruniai kemudahan sekaligus kesukaran. Ayahnya, Bupati Jepara Kanjeng Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, seorang berpikiran maju. Ia memberikan anak-anak gadisnya pendidikan modern dan bahan bacaan bermutu. Kartini pun tumbuh menjadi gadis remaja yang cerdas.

Ia fasih menulis dan bercakapcakap dalam bahasa Belanda, serta kritis terhadap situasi di sekitarnya. Pikirannya terus bergejolak, meletupkan gagasan-gagasan besar. Tapi pemikiran-pemikiran adik kandung Raden Mas Sosrokartono ini melesat melampaui zamannya. Kartini ingin memajukan kehidupan masyarakat bumiputra, khususnya kaum perempuan, melalui jalan pendidikan.

Ia bercita-cita membangun sekolah lanjutan berasrama (kostschool) untuk gadis-gadis dari keluarga bangsawan, dan kemudian sekolah untuk perempuan kebanyakan. Sebagai langkah awal, Kartini bersama kedua adiknya, Roekmini dan Kardinah, berupaya meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Selain melalui surat dan tulisan di media, ia secara lebih lengkap menyampaikan gagasangagasannya dalam sebuah nota berjudul ”Berilah Pendidikan kepada Bangsa Jawa”.

Sesuai hukum alam, sesuatu yang berjalan terlalu cepat akan mendapat daya tolak yang sepadan. Pun dengan pemikiran dan langkah-langkah Kartini. Gagasannya membentuk sekolah lanjutan untuk putri-putri bangsawan ditentang oleh hampir seluruh residen, asisten residen, serta bupati di Tanah Jawa dan Madura.

Usaha keras Kartini melanjutkan pendidikan ke Belanda gagal justru akibat diserimpung oleh kekuatan politik besar yang meminjam tangan orang terdekat sekaligus penyokong utamanya, keluarga Abendanon. Kartini hidup pada masa, ketika progresivitas dianggap sebagai ancaman. Gagasangagasan besarnya tampak seperti tombak bermata dua, yang selain dapat merobek kekuatan feodalisme juga menusuk sendisendi kolonialisme.

Para pemegang otoritas tradisional merasa perlu menghentikan langkah Kartini karena tak rela tatanan lama yang menjadi sumber kekuasaan mereka dihancurkan. Hal serupa dilakukan oleh penyokong kekuasaan kolonial, tak terkecuali sebagian kaum etisi, yang memperjuangkan nasib rakyat bumiputra dalam koridor pemerintahan Hindia Belanda. Pukulan itu membuat Kartini letih dan sempat putus asa.

”Sekarang saya tidak mau memikirkan apa-apa. Tidak memikirkan perjuangan, penderitaan, kesulitan atau percobaan.” Tapi untunglah, nyala api Kartini yang sempat redup itu tak benar-benar padam. Penerbitan surat-surat Kartini dalam buku Door Duisternis tot Lich, enam tahun setelah kematiannya, yang diikuti pembangunan Sekolah Kartini dan Sekolah Van Deventer di seantero Jawa, mampu menjaga api Kartini tetap menyala.

Pemikiran-pemikiran progresif Prinsessen van Japara tersebut juga menginspirasi kaum muda bumiputra, antara lain pelajar sekolah pendidikan dokter Hindia (STOVIA) di Batavia dan mahasiswa di Belanda yang berhimpun dalam Indische Vereeniging.

Anggota Indische Vereeniging yang kelak berganti nama menjadi Perhimpunan Indonesia dan mencetuskan Manifesto Politik 1925 itu bahkan sepakat menjadikan pemikiran-pemikiran Kartini sebagai pedoman organisasi. Kartini, mengutip Pramoedya Ananta Toer, memang pemikir modern Indonesia pertama-tama. Dialah yang merumuskan aspirasiaspirasi kemajuan, memerinci, memperjuangkan, untuk kemudian menjadikannya sebagai milik seluruh Hindia Belanda, cikal-bakal Indonesia.

Lalu kini, ketika kolonialisme dan feodalisme bukan lagi menjadi musuh utama, tugas kita tak sekadar menjaga pemikiran Kartini tetap menyala. Tugas kita saat ini adalah menafsir ulang pemikiranpemikiran itu dan menggunakannya untuk memecahkan persoalan-persoalan bangsa yang lebih aktual.(Rukardi-33)

Comments

comments

Menafsir Ulang Pemikiran Sang Putri Jepara Reviewed by on . APAKAH Raden Ayu bahagia dengan pernikahannya? Sejauh ini, pertanyaan tersebut masih menjadi salah satu misteri terbesar dalam hidup Kartini. Dalam surat-suratn APAKAH Raden Ayu bahagia dengan pernikahannya? Sejauh ini, pertanyaan tersebut masih menjadi salah satu misteri terbesar dalam hidup Kartini. Dalam surat-suratn Rating: 0
scroll to top