Melanglang Buana ke Mana-Mana | suaramerdeka.com

Sabtu , 25 Maret 2017

Home » SmCetak » Berita Utama » Melanglang Buana ke Mana-Mana

Melanglang Buana ke Mana-Mana

Fajar Satriadi, Peraih Hennessyy Award

21 Maret 2017 3:28 WIB Category: Berita Utama, SmCetak A+ / A-
SM/Arif M Iqbal

SM/Arif M Iqbal

Nama Fajar Satriadi sudah tak asing di dunia tari Indonesia. Ia sering membuat pementasan dari satu daerah ke daerah lain. Selain itu, ia juga sering ”manggung” di berbagai acara internasional.

FAJAR menekuni seni tari semenjak usia sepuluh tahun. Ia tak mengikuti jejak sang ayah, Tunggal Tarunadi, yang berprofesi sebagai tentara. Namun, sang ayahlah yang menceburkan Fajar sehingga kelak menjadi penari profesional. Keinginan Tunggal kini menjadi kenyataan.

Fajar malang melintang di berbagai pementasan, baik di dalam maupun luar negeri. Pada 1990, ia menjadi penari utama drama tari Surapati garapan Retno Maruti dan Sentot Sudiharto. Empat tahun kemudian, Fajar dipercaya Sardono W Kusumo memerankan tokoh Diponegoro dalam Opera Diponegoro. Tahun 2000 boleh dibilang menjadi masa keemasan Fajar. Lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta ini makin sering tampil.

Pada 2012, ia mendapat kepercayaan dari Atilah Soeryadjaya untuk memerankan RM Said dalam drama kolosal Matah Ati. Drama ini terbilang sukses dengan hadirnya ribuan penonton di Pamedan Pura Mangkunegaran, Solo, kala itu. Meski namanya melambung di dunia tari, Fajar tetap rendah hati. Ia tak henti berkreasi. Pada 2013, ia tampil dalam sendratari kolosal Ariah. Pada 2015, kiprah Fajar mendapatkan pengakuan.

Ia menerima anugerah Hennessy Award untuk kategori koreografi. Penghargaan ternama bidang seni itu membuat dirinya sejajar dengan para profesional seni serta koreografer ternama negeri ini. Pada 16-17 Maret lalu, ia diundang menyukseskan pentas Arka Suta di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Fajar berkolaborasi dengan tujuh penari wanita dalam rangka memperingati 41 tahun Padnacwara tersebut.

Selain berkiprah di negeri sendiri, pria kelahiran Jakarta, 16 Oktober 1968 tersebut juga mempersiapkan diri untuk tampil di Inggris. Pada Selasa (21/3) ini, ia akan berangkat memenuhi undangan Pemerintah Inggris dalam acara ”Indonesia Regal Heritage” yang digelar di Victoria & Albert Museum, London, 25 Maret 2017. Bersama rekan-rekannya, Fajar bakal menunjukkan keahlian menari di hadapan Royal Family.

Psikologi Sama

Menurut Fajar, London memiliki kesamaan internal psikologi dengan orang-orang Jawa karena sama-sama monarki. ”Tentu ini menjadi sebuah kebanggaan tersendiri untuk saya dan yang lain, karena acara itu (Indonesia Regal Heritage) adalah malam Indonesia, bagaimana memamerkan heritage kita bagi khalayak,” kata Fajar.

Pada pementasan nanti, ia akan memerankan tokoh utama Matah Ati, yaitu Pangeran Sambernyawa atau Mangkunegara I. Pertunjukan London akan dibuka dengan wayang beber atau wayang yang digambarkan pada selembar kain, kemudian keluarlah Panji dari kain itu dengan menari topeng. Ia ingin menunjukkan keunikan topeng Jawa di Negeri Ratu Elizabeth.

Menurut dia, topeng kreasinya berbeda dengan daerah lain di Indonesia, bahkan luar negeri. ”Kalau Bali (topeng) diikat, Eropa diikat, hanya di Jawa topeng digigit. Ini unik sekali dan mungkin di dunia hanya satu-satunya. Menjadi sulit ketika topeng digigit sembari bernafas dan menari. Di Thailand, orang kaget bagaimana topeng bias menempel di muka begitu selesai menyanyi. Itu karena mereka tidak memiliki teknik menggigit Ini yang saya pikir unik,” terangnya.

Dalam Indonesia Regal Heritage, Fajar berharap bisa lebih mengenalkan kebudayaan Indonesia di mata dunia. Ia tidak ingin kebudayaan Ibu Pertiwi kalah populer dari negara-negara tetangga seperti Malaysia. Ia mengaku sedih lantaran banyak kebudayaan Indonesia yang identik negara tetangga. Salah satunya adalah reog. Eropa lebih mengenal tradisi itu berasal dari Malaysia. ”Nusantara luar biasa kaya.

Kebudayaan Indonesia itu luar biasa tetapi kenapa jarang dikenal di Eropa? Saya pernah mengikuti International Festival di Inggris, dan saya sedih, di sana lebih dikenal Malaysia dengan kesenian yang sama, seperti reog, angklung, serampang dua belas, dan jaranan. Menurut saya, Malaysia cerdas menangkap pasar global, kenapa Indonesia yang kaya tidak mau punya pergerakan ke sana untuk mengabarkan khasanah kekayaan kita?” tuturnya.

Agar kebudayaan Indonesia dikenal dunia, dibutuhkan kesadaran dari generasi muda bahwa seni tradisi bukan sesuatu yang kuno atau usang. Salah satu contoh adalah drama kolosal Matah Ati oleh Atilah Soeryadjaya, yang dikemas secara modern dan kekinian dengan bantuan teknologi. Selain itu, pemerintah harus turun tangan untuk belajar bersama agar generasi muda turut mencintai tradisi yang mereka punya. ”Akan bahaya jika budaya sendiri tidak dikenal, tidak mengenal dirinya dan akhirnya tubuhnya migrasi ke (kebudayaan) Eropa,” katanya. (Arif M Iqbal-39)

Comments

comments

Melanglang Buana ke Mana-Mana Reviewed by on . [caption id="attachment_563543" align="alignleft" width="300"] SM/Arif M Iqbal[/caption] Nama Fajar Satriadi sudah tak asing di dunia tari Indonesia. Ia sering [caption id="attachment_563543" align="alignleft" width="300"] SM/Arif M Iqbal[/caption] Nama Fajar Satriadi sudah tak asing di dunia tari Indonesia. Ia sering Rating: 0
scroll to top