Budidaya Daun Kelor Dilirik | suaramerdeka.com

Kamis , 30 Maret 2017

Home » SmCetak » Semarang Metro » Budidaya Daun Kelor Dilirik

Budidaya Daun Kelor Dilirik

Jadi Peluang Usaha

21 Maret 2017 2:32 WIB Category: Semarang Metro, SmCetak A+ / A-
SM/Dok  OLAH DAUN KELOR : Warga mengolah daun kelor yang sudah dikeringkan, di Kalipepe Pudakpayung, Kecamatan Banyumanik, belum lama ini. (51)

SM/Dok
OLAH DAUN KELOR : Warga mengolah daun kelor yang sudah dikeringkan, di Kalipepe Pudakpayung, Kecamatan Banyumanik, belum lama ini. (51)

Nama daun kelor tak dapat dilepaskan dari pengobatan tradisional. Bukan hanya daun, kulit, batang, buah, hingga bijinya, ternyata dapat dimanfaatkan untuk obat. Inilah yang mendorong warga untuk membudidayakannya.

TANAMAN kelor (Moringa oleifera), adalah sejenis tumbuhan dari suku Moringaceae. Tumbuhan ini dapat tumbuh hingga setinggi 11 meter. Batangnya berkayu, tegak, berwarna putih kotor, kulit tipis, dan permukaannya kasar.

Banyaknya manfaat yang bisa diperoleh, membuat sejumlah orang melirik untuk membudidayakan tanaman tersebut. Selain diambil batangnya, daun berbentuk bulat dari tanaman ini, juga dikenal dapat digunakan sebagai sayur atau obat. Bunga kelor yang putih kekuning-kuningan dan tudung pelepah bunganya berwarna hijau, juga dapat keluar sepanjang tahun.

Adapun buah kelor berbentuk segitiga memanjang yang disebut kelentang, juga dapat disayur. Lantaran menfaatnya yang beragam tersebut, sejumlah warga di Kalipepe Pudak Payung Banyumanik, berusaha membudidayakannya. Salah satu dari mereka adalah Yadimin (49), yang memanfaatkan pekarangan rumahnya untuk ditanami kelor.

Menurut dia, dari berbagai informasi yang diperoleh, diketahui bahwa kelor ini dapat digunakan untuk membantu penderita diabetes, peluruh kolesterol, dan meningkatkan kekebalan tubuh, serta mengandung nutrisi yang diperlukan tubuh. Kelor mengandung mineral dan vitamin, dua kali lebih tinggi dari bayam dan tigapuluh kali lebih tinggi dari buncis. Pohon kelor juga banyak ditanam sebagai batas atau pagar di halaman rumah atau ladang.

Dia mengatakan sudah setahun menanam kelor untuk tanaman pagar saja. Tetapi karena ternyata memiliki potensi bisnis, dia kemudian menaman kelor di lahan yang lebih luas, yaitu 100 meter persegi. Tanaman kelor yang dia tanam adalah jenis Moringa. Dia menanam dengan dua cara, dengan cara setek dan biji. Kalau setek untuk kebutuhan daun, adapun biji untuk kebutuhan bibit. Jika ditanam dengan cara setek, akan panen sekitar 4 bulan sampai 6 bulan. Tetapi budidaya dengan cara menyemai biji, membutuhkan waktu sampai 1 tahun. Dia bisa memanen secara rutin, karena jaraknya diatur sehingga bisa panen setiap dua bulan sekali.

Saat panen, Yadimin bisa menjual sekitar 30-50 kilogram daun kelor kering, seharga Rp 40.000-60.000 per kilogram. Selain Yadimin, sebagian besar warga Bangetayu Wetan juga membudidayakan tanaman kelor. Hampir seluruh pekarangan warga ditanami pohon tersebut. Beberapa tanaman kelor tumbuh subur di pekarangan milik warga. Ratarata dengan ketinggian sekitar 7- 10 meter. Ditanamnya pohon kelor sejalan dengan komitmen warga Bangetayu Wetan untuk menjadikan kampung tersebut sebagai kampung daun kelor. Penanaman tumbuhan kelor dibantu oleh mahasiswa Universitas Semarang (USM) yang mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) di daerah tersebut.

Mahasiswa memberikan sosialisasi dan edukasi mengenai banyaknya manfaat yang bisa diperoleh dari tanaman daun kelor. Ketua Panitia Koordinator Kecamatan Genuk, Wahid Ikhsanudin mengatakan, masyarakat bisa memanfaatkan potensi daun kelor untuk dijual kembali. Mereka bisa menanam, memanen dan mengolah daun kelor untuk dikonsumsi masyarakat.

Benih langsung ditanam dengan jarak tanam sekitar 1 meter x 1 meter di dalam lubang. Lubang memiliki kedalaman sekitar 30 cm-50 cm dengan lebar 20 cm-40 cm. Sebelumnya, tanah dicampur pupuk kandang atau kompos. Setelah satu atau dua minggu, daun kecil mulai bermunculan. Untuk mendapatkan panen pertama diperlukan waktu sekitar tiga bulan. Setelah itu, setiap bulan sekali kelor akan panen. Untuk satu pohon kelor bisa menghasilkan sekitar 0,5 kilogram daun.

Daun yang sudah dipanen kemudian melalui proses pengeringan. Daun dijemur di bawah sinar matahari maksimal selama sehari dan hari berikutnya dianginkan saja. Setelah itu daun kelor kering sudah bisa dikemas dan dijual. Untuk satu bungkus daun kelor dijual mulai Rp 10.000-20.000. Pemasaran sejauh ini masih melalui mulut ke mulut dan situs online. (Fista Novianti-51)

Comments

comments

Budidaya Daun Kelor Dilirik Reviewed by on . [caption id="attachment_563278" align="alignleft" width="300"] SM/DokOLAH DAUN KELOR : Warga mengolah daun kelor yang sudah dikeringkan, di Kalipepe Pudakpayung [caption id="attachment_563278" align="alignleft" width="300"] SM/DokOLAH DAUN KELOR : Warga mengolah daun kelor yang sudah dikeringkan, di Kalipepe Pudakpayung Rating: 0
scroll to top