Agama | suaramerdeka.com

Minggu , 28 Mei 2017

Agama

GAYENG SEMARANG

14 Mei 2017 3:22 WIB Category: Bincang-Bincang, SmCetak A+ / A-

15Oleh Mudjahirin Thohir

MELIHAT gemuruh pemilihan kepala daerah (pilkada) Jakarta seperti melihat bagaimana agama ditawarkan dalam wujud menu seperti apa? Seperti di medan perangkah? Di medan perang, seorang prajurit dengan pedang terhunus hanya ingat satu pikiran: to kill or to be killed. Membunuh atau terbunuh. Namun karena agama, bisa saja seorang prajurit tidak jadi menghunjamkan pedang ke tubuh musuh.

Itulah yang dicontohkan oleh Ali, menantu Nabi. Di medan laga itu, dia berduel satu lawan satu dengan Amr bin Wad — tokoh kafir Quraisy yang sangat ditakuti banyak orang. Namun tidak bagi Ali Radhiallahu anhu. Dalam duel maut itu, to be or not to be, hidup atau mati. Amr bin Wad terpental. Pedangnya terlempar. Paha sebelahnya terluka. Sempoyongan.

Melihat keadaan itu, Ali dapat dengan mudah mengayunkan pedang, memenggal kepala sang mulut besar. Namun tidak. Ali tidak melakukan. Mengapa?

Karena panglima perang yang terpental itu meludah tepat ke wajah Ali. “Mengapa engkau tidak membunuhku, Ali?” tanya Amr bin Wad, penuh tanda tanya. “Tidak,” jawab Ali. “Mengapa?” “Aku membunuhmu harus karena Allah. Bukan karena nafsu amarah. Karena kamu meludahi mukaku, aku jadi marah. Kalau aku membunuhmu lantaran rasa marah, tidak karena Allah, itu bukan ajaran agama.” Sang panglima perang terperangah. Dia tak mampu lagi berkata-kata, selain mengagumi ajaran agama yang dipraktikkan Ali.

Dalam kasus berbeda, agama bisa diekspresikan dalam suasana berbeda. Agama menjadi dan dijadikan alat permusuhan bagi orang-orang yang berbeda. Itu ketika mereka hanya tahu kulitnya.

Agama bisa menjadi petaka bagi yang lain. Apalagi ketika mengidap prasangka. Agama lantas tidak dibaca sebagai ajaran cinta, tetapi ajaran perlawanan. Ada orang, bahkan sejumlah orang, membunuh orang semau hati. Itulah teroris yang menyebut diri kaum jihadis. Orang yang mengaku jihadis, membunuh orang tidak berdosa, tetapi menganggap perbuatan membunuh itu sebagai perintah agama.

***

AGAMA ketika sudah turun ke bumi, memang sering mengalami tumpang-tindih. Tumpang-tindih antara kepentingan Tuhan dan kepentingan orang-orang yang mengaku bertuhan. Akibatnya, pesan suci agama terabaikan.

Bahkan bisa saja digantikan oleh para penganutnya. Pesan agama untuk saling mencinta dan menjaga alam semesta bisa diubah menjadi menista dan merusak. Itu berarti yang mengaku punya agama, tidak selamanya menjadi lembut, menenteramkan. Namun bertingkah laku mirip malaikat penjaga neraka. Melihat orang lain yang berbeda, mirip dalil klasik: homo homini lupus, serigala bagi sesama. Ganas dan tajam, lebih tajam daripada mata pedang.

Kita bertanya-tanya, benarkah ajaran agama sebagaimana yang mereka kumandangkan dalam suara-suara yang memekakkan? Benarkah agama mengajarkan para pemeluk untuk menistakan dengan mengafir-ngafirkan orang yang tidak sepaham? Benarkah agama sah untuk menindas kaum yang berbeda paham? Jangankan kita, malaikat pun mempertanyakan, “Mengapa Tuhan mau menciptakan makhluk manusia yang suka berkelahi dan menumpahkan darah seperti ini?” Tuhan pun tetap melanjutkan hajat: menciptakan manusia dengan menyertakan bekal pengetahuan dan kewahyuan.

Dari sudut itulah manusia berbekal dan diberi bekal untuk mampu menjaga amanah Tuhan. Pada saat yang sama, Tuhan pun mengizinkan iblis turun bersama manusia. Tuhan mempersilakan iblis menggoda keimanan manusia. Iblis paling suka menggoda saat manusia berebut kekuasaan. Pada saat seperti itu, manusia akan terbelah menjadi dua. Satu menjadikan agama sebagai sumber etika sekaligus moralitas berpolitik. Satu lagi justru memanfaatkan nama agama sebagai alat propaganda dan pemilahan sosial untuk memperoleh keuntungan sebesarbesarnya. Jika massa belum percaya, mereka pun mengajak Tuhan berkampanye. Itukah etika keagamaan yang mau dipamerkan? Saya geleng-geleng kepala.

***

SEJUMLAH orang tiba-tiba buka warung kuliner. Mereka menawarkan menu yang mirip: menu solikhin, menu muslimin, menu kafirin, dan menu munafikin. Setiap kali saya lewat, terdengar suara dari mulut mereka. “Kamu harus memilih menu muslimin atau menu munafikin?!” gertak mereka. “Neg!” tegas saya.

***

PELAJARAN apa yang bisa kita petik dari pilkada DKI yang gemuruh itu? Apakah model dari proses perjalanannya atau bagaimana cara memperoleh kemenangan ataukah kemenangan itu yang jadi perhatian kita? Apakah antara proses dan hasil berkaitan atau tidak perlu dikaitkan karena tujuan inti dari kontestasi politik adalah kemenangan? Tentu ada variasi pilihan jawaban. (44)

Comments

comments

Agama Reviewed by on . Oleh Mudjahirin Thohir MELIHAT gemuruh pemilihan kepala daerah (pilkada) Jakarta seperti melihat bagaimana agama ditawarkan dalam wujud menu seperti apa? Sepert Oleh Mudjahirin Thohir MELIHAT gemuruh pemilihan kepala daerah (pilkada) Jakarta seperti melihat bagaimana agama ditawarkan dalam wujud menu seperti apa? Sepert Rating: 0
scroll to top