Kamis , 27 April 2017

Home » Liputan Khusus » Laporan » Sekolah Gratis bagi Anak Miskin

Sekolah Gratis bagi Anak Miskin

Menabur Asa Menggapai Cita-cita

7 April 2017 20:00 WIB Category: Laporan, Liputan Khusus Dikunjungi: kali A+ / A-
Foto: suaramerdeka.com/Puji Purwanto

Foto: suaramerdeka.com/Puji Purwanto

Keprihatinannya terhadap anak putus sekolah di Banyumas, Jawa Tengah, memantik Achmad Sujanto untuk mendirikan sekolah gratis bagi anak miskin. Tujuannya, supaya anak memperoleh hak pendidikan yang setara sehingga dapat mencetak generasi berkualitas.

UDARA Senin pagi (3/4) pada pukul 06.00 terasa sejuk. Matahari belum menunjukkan pesonanya untuk menyapa semesta. Namun, Sinta (13), warga Karanglewas, telah berbegas berangkat ke sekolah karena takut ketinggalan bus sekolah.

Siswi kelas VIII SMP Maarif NU 1 Patikraja itu bersama teman-temannya menunggu bus sekolah di tepi jalan raya. Ia dijemput oleh bus yang disediakan pengelola sekolah setiap pagi. Saya bersama teman-teman setiap pagi dijemput dan pulangnya juga diantar ke rumah masing-masing dengan bus milik sekolah secara gratis,” tuturnya.

Antar jemput gratis menggunakan bus sekolah ini sangat meringankan biaya operasional para siswa yang berasal dari keluarga tidak mampu. “Saya senang sekolah di sini. Saya berharap bisa belajar sampai lulus sekolah,” imbuh siswi lain, Tri Oktavia (13).

SMP Maarif NU 1 Patikraja yang beralamat di Jl Bahagia, Desa Kedungwringin, Kecamatan Patikraja, memang untuk menampung anak-anak dari keluarga tidak mampu. Di sekolah itu, para siswa mendapat pelayanan pendidikan gratis sampai anak lulus sekolah, mulai dari seragam sekolah, perlengkapan alat tulis, sepatu hingga antar jemput menggunakan mikrobus.

Pendiri SMP Maarif NU 1 Patikraja, Achmad Sujanto, menceritakan, pendirian sekolah untuk anak miskin bermula saat dirinya yang berprofesi sebagai polisi ditugaskan di Polwil Banyumas (1993). Saat bertugas di Banyumas, ia tinggal di Desa Kedungwringin.

Di desa itu, ia melihat banyak anak-anak yang kehidupan sehari-harinya kurang terarah. Atas dasar itu, pada 1996 ia mendirikan rumah ibadah dan taman bacaan Alquran untuk masyarakat dan remaja. Pria kelahiran Surabaya, Jawa Timur juga menjadi bapak asuh dari anak-anak usia sekolah dasar dari keluarga tidak mampu dan anak putus sekolah.

Melalui proses itu, ia mendedikasikan diri pada dunia pendidikan. Pada 1998 hingga 2000, ia menyisihkan uang gajinya guna mendirikan bangunan untuk pendidikan, meliputi gedung sekolah, kantor, pondok pesantren dan rumah yatim piatu.

Pada 2003, ditindaklanjuti dengan mendirikan SMP. Namun, pendirian sekolah harus melalui jalan terjal. “Saya mengalami banyak pertentangan karena pada saat itu banyak sekolah dasar dimerger karena tidak ada murid. Bahkan, kepala Dinas
Pendidikan Banyumas, kurang yakin dengan rencana pendirian SMP ini,” kata Achmad Sujanto, saat ditemui di rumahnya belum lama ini.

Tantangan tersebut tak lantas membuat semangatnya kendur. Ia tetap bertekad mendirikan sekolah gratis bagi warga miskin, karena saat itu biaya sekolah semakin mahal, sedangkan masyarakat di pedesaan ekonominya pas-pasan, hanya cukup untuk konsumsi kehidupan sehari-hari saja.

Dari keteguhan hati dan kerja kerasnya, akhirnya pendirian sekolah gratis dapat teralisasi. Sekolah ini bernaung di bawah Lembaga Pendidikan Maarif. Namun, biaya operasional pendidikan seluruhnya ditanggung Yayasan Arrochmat (yayasan milik Achmad Sujanto).

Setelah resmi berdiri, pria yang berprofesi sebagai dokter gigi itu mulai menjaring anak-anak yang tidak melanjutkan jenjang SMP/sederajat. Pada saat awal, ia hanya mampu menjaring 16 anak pupus sekolah dengan usia sudah menginjak 17 tahun. Jumlah guru yang mengajar di SMP Maarif saat itu hanya 8 orang.

“Kami harus mencari siswa di wilayah kantong-kantong yang terdapat anak tidak sekolah, seperti Desa Sikapat Kecamatan Sumbang, Desa Sunyalangu Kecamatan Karanglewas, Desa Notog Kecamatan Patikraja dan Baturraden,” kata dia.

Anak-anak putus sekolah tersebut dirayu supaya bersedia bersekolah gratis, makan gratis, seragam gratis, tempat tinggal gratis karena Achmad Sujanto menyediakan rumah untuk tempat tinggal anak.

Masyarakat Kurang Yakin

Namun, program sekolah gratis pun tak langsung mendapat respons positif dari masyarakat. Masyarakat menilai sekolah gratis itu hanya papan nama saja, orang tua nantinya akan ditarik pembayaran uang operasional sekolah untuk anaknya. Selain itu, ada rasa khawatir dari orang tua bahwa anak-anak yang direkrut bukan untuk bersekolah, tetapi untuk diberangkatkan ke luar negeri menjadi tenaga kerja Indonesia.

“Ternyata tidak mudah menyakinkan orang tua untuk mendapat pelayanan pendidikan gratis,” tuturnya.

Kepala SMP NU 1 Parikraja, Nurhadi, menambahkan, anggapan negatif dari masyarakat juga sekolah gratis dinilai tidak dikelola secara profesional. Apalagi, saat itu sarana dan prasarananya masih terbatas.

“Mereka menilai sekolah ini asal-asalan dan fasilitasnya kurang. Bahkan, warga tidak mampu pun enggan sekolah di sini karena tidak yakin karena waktu itu baru ada satu ruang kelas saja,” katanya.

Respons negatif masyarakat menjadi semangat pendiri dan pengelola sekolah. Mereka bekerja keras untuk menyakinkan masyarakat, bahwa pendirian sekolah untuk mencerdaskan anak bangsa yang berakhlakul karimah dengan memberikan pelayanan pendidikan gratis sampai anak lulus.

“Kami meminta para orang tua yang tidak percaya untuk datang ke sekolah melihat aktivitas belajar mengajar dan mengaji. Saya juga menunjukkan bahwa ini rumahnya dokter dan polisi, sehingga orang tua siswa percaya,” timpal Achmad Sujanto.

Pada angkatan tahun pelajaran berikutnya, jumlah siswa yang mendaftar bertambah menjadi 24 anak, kemudian meningkat lagi pada tahun berikutnya menjadi 30 anak, hingga saat ini jumlah siswa yang bersekolah mencapai 465 anak.

Pengelola sekolah sudah tidak lagi bersusah payah mencari siswa. Bahkan, kerap kali menolak, karena bangunan sekolah yang disediakan terbatas. Untuk memenuhi sarana dan prasarana, Achmad Sujanto memanfaatkan pondok pesantren menjadi ruang lokal kelas untuk menampung siswa.

Membeli Bus Bekas

Sementara itu, untuk menjaga motivasi para siswa agar mereka dapat menyelesaikan proses belajar mengajarnya hingga lulus, pendiri sekolah berinisiatif membeli bus bekas untuk antar jemput anak. Inisiatif itu dilakukan lantaran jarak tempat tinggal siswa kurang mampu dari rumah sampai sekolah sekitar 15 hingga 20 kilometer. Siswa yang sekolah di sekolah itu, berasal dari beberapa desa di Kecamatan Cilongok, Patikraja, Karanglewas, Sumbang dan Baturraden.

Sampai saat ini, sekolah memiliki empat unit kendaraan yang siap untuk antarjemput anak mulai dari berangkat hingga pulang sekolah. Selain itu, anak-anak kelas VIII direkreasikan ke objek wisata di wilayah Banyumas Raya. Strategi ini sukses untuk memotivasi siswa agar mereka dapat belajar sampai lulus.

Achmad Sujanto mengatakan, seluruh operasional sekolah mulai dari 2003 sampai awal 2007 dibiayai sendiri. Baru pada 2007, sekolah mendapat Biaya Operasional Sekolah (BOS) dari pemerintah. BOS ini cukup membantu operasional siswa. Ia menilai betapa pentingnya anak-anak harus sekolah, karena dengan sekolah akan menambah wawasan dan ilmu pengetahuan, sehingga dapat mencetak generasi yang lebih baik.

Nurhadi kembali mengatakan, pengelola sekolah tidak hanya bertanggung jawab memberi pelayanan pendidikan sampai siswa lulus, namun menjembatani mereka supaya melanjutkan ke jenjang berikutnya dengan menjalin kerja sama keringanan biaya masuk sekolah dengan SMK di Yogyakarta, SMK 75 Purwokerto, SMK Swagaya Purwokerto, SMK Muhammadiyah 1 Purwokerto, dan SMK Teknologi Nasional Purwokerto.

“Dulu yang melanjutkan ke sekolah kejuruan hanya 20 persen dari total angka kelulusan, tapi sekarang sudah naik menjadi 40 persen. Bahkan, ada beberapa alumnus yang melanjutkan sampai perguruan tinggi dengan beasiswa,” katanya.

Achmad Sujanto juga terus mendedikasikan diri dalam dunia pendidikan. Tak hanya melayani pendidikan gratis untuk SMP, tapi ia bersama isteri kembali mendirikan Madrasah Aliyah (setara SMA) gratis. Saat ini sudah ada 22 anak. “Kami mendirikan sekolah supaya anak memperoleh hak pendidikan. Apalagi keterlibatan dalam dunia pendidikan menjadi tanggung jawab bersama,” kata Achmad Sujanto.

Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Banyumas, Purwadi Santoso, mengatakan, saat ini jumlah siswa lulusan SD yang tidak melanjutkan ke jenjang SMP berkurang. Pada 2015 tercatat 230 siswa SD tidak melanjutkan SMP, kemudian pada 2016 turun menjadi 40 anak. “Pada tahun ini diharapkan seluruh lulusan sekolah dasar dapat melanjutkan ke jenjang SMP sederajat,” katanya.

Adapun langkah yang dilakukan dengan mengajak agar kepala SD bertanggung jawab untuk mendorong anaknya melanjutkan ke jenjeng selanjutnya, kemudian bagi kepala SMP mencari atau menjaring para lulusan SD yang ada di desa-desa untuk melanjutkan SMP.

“Kami juga melibatkan sejumlah komponen yang berperan di tingkat kecamatan hingga desa/kelurahan mulai dari camat, kepala UPK (Unit Pendidikan Kecamatan, red) hingga kepala desa untuk mendorong anaknya bersekolah,” katanya.

(Puji Purwanto/CN38/SM Network)

Sekolah Gratis bagi Anak Miskin Reviewed by on . [caption id="attachment_1003174" align="alignnone" width="400"] Foto: suaramerdeka.com/Puji Purwanto[/caption] Keprihatinannya terhadap anak putus sekolah di Ba [caption id="attachment_1003174" align="alignnone" width="400"] Foto: suaramerdeka.com/Puji Purwanto[/caption] Keprihatinannya terhadap anak putus sekolah di Ba Rating: 0