Kamis , 27 April 2017

Home » Suara Banyumas » Sarana Prasarana Publik Pro Difabel Masih Minim

Sarana Prasarana Publik Pro Difabel Masih Minim

20 April 2017 21:20 WIB Category: Suara Banyumas Dikunjungi: kali A+ / A-
BERIKAN MOTIVASI: Shinta Utami penyandang disabilitas yang melakukan perjalanan dari Yogyakarta ke Jakarta memotivasi siswa penyandang disabilitas yang ditemuinya di MTs Ar Ridho Pekuncen tiga hari lalu. (suaramerdeka.com/Susanto)

BERIKAN MOTIVASI: Shinta Utami penyandang disabilitas yang melakukan perjalanan dari Yogyakarta ke Jakarta memotivasi siswa penyandang disabilitas yang ditemuinya di MTs Ar Ridho Pekuncen tiga hari lalu. (suaramerdeka.com/Susanto)

BANYUMAS, suaramerdeka.com - Sarana dan prasarana ruang publik yang mendukung keberadaan penyandang disabilitas atau difabel hingga kini masih terbilang minim. Akibatnya aktivitas dan mobilitas penyandang disabilitas masih sangat terbatas.

Guru MI Maarif NU 1 Kranggan, Falinda Rakhmawati mengakui sejak lembaga pendidikan dasar sekalipun, ruang publik yang menyediakan sarana prasarana yang pro kaum difabel masih minim. Akibatnya para penyandang disabilitas harus selalu mengandalkan bantuan orang lain untuk bisa melakukan aktivitasnya. Padahal para penyandang disabilitas juga ingin hidup mandiri sebagaimana warga lain, dengan dukungan ruang publik yang pro terhadap dirinya.

“Jadi mau tidak mau, penyandang disabilitas ini harus dibantu oleh keluarganya terutama saat berangkat ke sekolah dan saat berada di sekolah. Namun memang karena penyandang disabilitas ini jumlahnya sedikit maka kebijakan yang dibuat belum seluruhnya peka dan menyentuh kaum disabilitas,” jelas Falinda yang pernah mempunyai siswa dari penyandang disabilitas, Kamis (20/4).

Sebagai pegiat pendidikan, Falinda berharap ke depan regulasi hingga kebijakan dari pengelola, pelaksana pendidikan dapat lebih peka dan pro terhadap penyandang disabilitas. Pasalnya tidak sedikit penyandang disabilitas ini yang berkebutuhan khusus ini mempunyai kelebihan akademis hingga lainnya dibandingkan siswa lainnya. “Siswa difabel yang dulu pernah sekolah di sini juga mempunyai prestasi akademik yang cukup bagus. Setiap hari orang tuanya dengan sangat perhatian mengantar jemput anaknya tersebut bahkan hingga sekarang duduk di tingkat SMP,” katanya.

Shinta Utami, penyandang disabilitas yang melakukan perjalanan dengan kursi roda dari Yogyakarta menuju Istana Kepresidenan Jakarta juga mengungkapkan hal yang sama. Sampai saat ini ruang pubik dengan sarana prasarananya yang pro terhadap kaum difabel masih minim. Jikapun ada, maka pemeliharaannya kurang maksimal.

“Padahal kami sebagai minoritas yang berkebutuhan khusus juga mempunyai kebutuhan yang sama untuk bisa mengakses ruang publik, baik itu di lembaga pendidikan, kantor pelayanan dan sebagainya,” katanya yang sering kesulitan menemukan ruang publik berupa jalan hingga kamar kecil yang pro difabel.

Terkait hal itulah, Shinta Utami mendorong kepada pemerintah sebagai pengambil kebijakan untuk bisa memperhatikan keberadaan kaum difabel. Keberadaan penyandang disabilitas hendaknya tidak hanya patut dikasihani dan dibantu saja, melainkan harus diberikan ruang khusus sehingga mereka bisa hidup mandiri dan setara dengan warga umum lainnya.

(Susanto/CN38/SM Network)

Sarana Prasarana Publik Pro Difabel Masih Minim Reviewed by on . [caption id="attachment_1016675" align="alignnone" width="400"] BERIKAN MOTIVASI: Shinta Utami penyandang disabilitas yang melakukan perjalanan dari Yogyakarta [caption id="attachment_1016675" align="alignnone" width="400"] BERIKAN MOTIVASI: Shinta Utami penyandang disabilitas yang melakukan perjalanan dari Yogyakarta Rating: 0