Minggu , 26 Maret 2017

Home » Suara Banyumas » Puskesmas Diminta Sediakan Alat Deteksi Leptospirosis

Puskesmas Diminta Sediakan Alat Deteksi Leptospirosis

17 Maret 2017 22:52 WIB Category: Suara Banyumas Dikunjungi: kali A+ / A-
Ilustrasi Istimewa

Ilustrasi Istimewa

PURWOKERTO,suaramerdeka.com – Seluruh Puskesmas di Kabupaten Banyumas diminta segera membeli alat untuk menguji secara cepat (rapid test) penyakit Leptospirosis. Hal ini dilakukan untuk mencegah agar penyakit yang ditularkan dari urine atau kotoran binatang tikus tidak makin merebak.

”Saya sudah minta agar semua Puskesmas punya alat deteksi cepat (rapid test). Instruksi ini sudah saya sampaikan lewat Dinas Kesehatan supaya melakukan pengadaan bagi yang belum punya alatnya,” kata Bupati Achmad Husein, dimintai tanggapan terkait meningkatnya penderita kasus Leptospirosis di Banyumas, Jumat (17/3).

Husein menyebutkan, selama beberapa tahun terakhir, pihaknya memang mendapat laporan mengenai banyaknya temuan kasus Leptospirosis. Bahkan dia mendapayt laporan tersebut, sejak tahun 2010 ada sebanyak 6 pasien yang meninggal dunia akibat penyakit tersebut.

Menurutnya, untuk mengatasi penyakit ini memang cukup sulit. Ini karena binatang penyebarnya adalah tikus melalui urine/kotoran yang hidup bersembunyi di berbagai tempat. Tidak hanya di rumah-rumah, selokan atau tempat-tempat kumuh lainnya, namun juga ada di sawah-sawah.

“Ini berbeda dengan penyakit DBD (Demam Berdarah Dengue) yang penyeberannya melalui nyamuk aides aegipty. Kalau nyamuk relatif lebih mudah diberantas. Asal kita rajin melakukan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) dan sekali-kali melakukan fogging, biasanya nyamuk akan hilang,” katanya membandingkan.

Namun untuk kasus dari binatang tikus, diakui, pemberantasannya lebih sulit karena bersarang di tempat-tempat yang tersembunyi. Selain itu, perkembanganbiakan tikus juga sangat cepat.

”Seperti kalau kita memberantas hama tikus sawah, melakukan gropyokan seperti apa pun masih sulit diberantas,” jelasnya.

Menurutnya, yang bisa dilakukan adalah hanya dengan menjaga kebersihan rumah dan lingkungan agar tidak menjadi sarang tikus. ”Itu yang paling penting. Jangan membuang sampah sembarangan, yang kemudian menjadi makanan tikus,” sarannya.

Sesuai data di Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas sejak awal tahun hingga Februari lalu, tercatat sudah 14 warga yang terjangkit penyakit tersebut.

Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Banyumas, R Dian Andiyono mengatakan, kasus leptospirosis belakangan memang sering ditemukan di wilayah Jateng, termasuk juga di Banyumas.

Hal ini diketahui setelah digencarkannya penggunaan alat tes cepat untuk mendetaksi penyakit ini. Temuan penyakit ini, katanya, menjadi makin banyak terdeteksi setelah digunakan alat deteksi cepat.

Untuk itu, dia meminta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit leptospirosis. Terutama dengan menjaga kebersihan rumah dan lingkungan, serta jangan sampai ada makanan yang dibiarkan berada di atas meja kemudian didatangi tikus.

”Penyakit ini disebabkan bakteri leptospira yang berasal dari urine dan kotoran tikus. Tikus yang membawa bakteri ini, kemungkinan ikut memakan makanan di rumah, dan kemudian makanan tersebut dikonsumsi pemilik rumah,” katanya.

(Agus Wahyudi/CN19/SMNetwork)

Puskesmas Diminta Sediakan Alat Deteksi Leptospirosis Reviewed by on . [caption id="attachment_979107" align="alignleft" width="340"] Ilustrasi Istimewa[/caption] PURWOKERTO,suaramerdeka.com - Seluruh Puskesmas di Kabupaten Banyuma [caption id="attachment_979107" align="alignleft" width="340"] Ilustrasi Istimewa[/caption] PURWOKERTO,suaramerdeka.com - Seluruh Puskesmas di Kabupaten Banyuma Rating: 0