Minggu , 25 Juni 2017

Home » Solo Metro » Presiden Diminta Tidak Batalkan Lima Hari Sekolah

Presiden Diminta Tidak Batalkan Lima Hari Sekolah

19 Juni 2017 22:46 WIB Category: Solo Metro Dikunjungi: kali A+ / A-
MEMBERIKAN KETERANGAN PERS: Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, memberikan keterangan pers didampingi sejumlah petinggi organisasinya di gedung Siti Walidah UMS, Jalan Ahmad Yani, Kabupaten Sukoharjo, Senin (19/6). (suaramerdeka.com/Asep Abdullah)

MEMBERIKAN KETERANGAN PERS: Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, memberikan keterangan pers didampingi sejumlah petinggi organisasinya di gedung Siti Walidah UMS, Jalan Ahmad Yani, Kabupaten Sukoharjo, Senin (19/6). (suaramerdeka.com/Asep Abdullah)

SUKOHARJO, suaramerdeka.com – Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah mengambil sikap terkait program lima hari sekolah. Bahkan PP Muhammadiyah pasang badan untuk Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy.

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir berharap, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memperkuat usulan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan terkait program lima hari sekolah yang bertujuan meningkatkan pendidikan karakter dan kebudayaan bagi anak. Apalagi program itu, sudah dilaporkan terlebih dahulu oleh Menteri Muhadjir saat rapat terbatas Februari lalu.

“Ini untuk meningkatkan daya saing bangsa. Makanya kami bersikap,” terangnya saat jumpa pers didampingi sejumlah petinggi organisasinya itu di gedung Siti Walidah UMS, Jalan Ahmad Yani, Kabupaten Sukoharjo, Senin (19/6).

Menurut Haedar, sikap yang disampaikan PP Muhammadiyah sengaja dilakukan, karena wacana program lima hari sekolah yang tertuang dalam Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017 itu, terus menggelinding. Sehingga dikhawatirkan dipolitisasi. Padahal menurut dia, lima hari sekolah bertujuan memperkuat daya saing bangsa yang ketinggalan dengan sejumlah negara lain. Seperti Malaysia, Thailand dan Singapura.

“Ada yang mewacanakan menteri harus dicopot. Itu kan tidak benar. Harusnya kritik konseptual untuk program itu yang membangun bukan mewanacanakan pencopotan. Jangan dipolitisasilah,” jelasnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, lima hari sekolah justru tidak hanya menguatkan karakter dan kebudayaan anak. Tetapi juga mendongkrak Human Development Index (HDI). Pasalnya saat ini, daya saing Indonesia masih bertengger pada angka 47, sementara Malaysia sudah 18, Thailand 32 dan bahkan Singapura urutan nomor 2. Oleh karena itu, lima hari sekolah menjadi lompatan bagi pendidikan Indonesia.

“Marilah sudahi kebingungan di masyarakat. Jadi tinggal penguatan kontens dan perapian program,” kata dia.

Hadir dalam jumpa pers pernyataan sikap PP Muhammadiah di antaranya, Ketua Bidang Hukum dan HAM, Busyro Muqoddas, Ketua Bidang Tabligh Tarjih, Yanuar Ilyas, Bendara Marpuji Ali dan Rektor UMS, Sofyan Anif. Dalam kesempatannya, mantan Ketua KPK, Busyro menyampaikan, presiden jangan sampai membatalkan program yang sudah terukur dan masuk dalam pengkajian mendalam oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan itu. Bahkan timbul kekhawatirkan akan menenggelamkan pendidikan agama atau masrasah diniah, hal tersebut tidak akan terjadi.

“Tinggal menyempurnakan. Bahkan akan menguatkan karakter. Muhammadiyah justru memiliki 24 ribu TK dan 15.500 sekolah dasar hingga menengah. Kami yakin lima hari sekolah akan menguatkan pendidikan di Indonesia,” tandasnya.
(Asep Abdullah/CN40/SM Network)

Presiden Diminta Tidak Batalkan Lima Hari Sekolah Reviewed by on . [caption id="attachment_1080006" align="alignnone" width="400"] MEMBERIKAN KETERANGAN PERS: Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, memberikan keterangan per [caption id="attachment_1080006" align="alignnone" width="400"] MEMBERIKAN KETERANGAN PERS: Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, memberikan keterangan per Rating: 0