Kamis , 29 Juni 2017

Home » Pringgitan » Budaya jawa » Nyadran: Tradisi Ziarah yang Menyejarah

Nyadran: Tradisi Ziarah yang Menyejarah

3 April 2017 17:00 WIB Category: Budaya jawa, Pringgitan, Tradisional Dikunjungi: kali A+ / A-
Tradisi makan bersama dalam nyadran. (Foto: Istimewa)

Tradisi makan bersama dalam nyadran.
(Foto: Istimewa)

Menjelang bulan suci Ramadhan, sebagian besar para pendukung kebudayaan Jawa, melakukan tradisi pembersihan makam leluhur atau yang populer disebut nyadran. Dalam tradisi Nyadran, keluarga leluhur membersihkan makam leluhurnya, menaburinya dengan bunda, dan melakukan selamatan di makam.

Biasanya, Nyadran dilakukan setiap hari ke-10 bulan Rajab atau tanggal 15, 20, dan 23 Ruwah atau Sya’ban. Dalam ziarah kubur, biasanya peziarah membawa bunga telasih. Bunga telasih melambangkan kedekatan hubungan antara peziarah dengan arwah yang diziarahi. Kemudian usai berdoa, peziarah menggelar kenduri atau makan bersama di sepanjang jalan yang telah digelari tikar dan daun pisang. Makanan yang dibawa harus berupa makanan tradisional, seperti apem, ayam ingkung, sambal goreng ati, urap sayur dengan lauk rempah, perkedel, tempe dan tahu bacem, dan lain sebagainya.

Spirit nyadran inilah yang kehadirannya selalu dirindukan. Bagaikan ajang silaturahmi sebuah keluarga besar dengan penduduk sekitar makam leluhur, nyadran terbukti mampu merekatkan hubungan sosial. Tak ada yang merasa terkotak-kotak atau dipandang sebelah mata, sebab mereka punya misi yang sama. Dari sini, terbukti jika nyadran yang merupakan satu bentuk akulturasi budaya ini mampu menjadi salah satu daya perekat sosial.

Nyadran: Ajang Meraup Berkah

Tak hanya nyadran ke makam leluhur. Pelaku nyadran juga kerap melakukannya di makam-makam keramat yang dipercaya mampu mendatangkan berkah. Sebagai contoh, di Kabupaten Banyumas, masyarakat melaksanakan nyadran di makam Syekh Muchorodin atau Mbah Agung Mulyo.

Di Kadilangu Kabupaten Demak, nyadran dilakukan di makam Sunan Kalijaga. Di Dusun Panjang Lor, Kelurahan Panjang, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, ritual nyadran dilakukan di makam Nyi Tirto Tinoyo atau lebih dikenal sebagai Nyi Panjang. Sementara warga Dusun Gesingan, Desa Bulakan, Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Sukoharjo, menyelenggarakan ritual nyadran di Pemakaman Gesingan.

Dibumikannya nyadran oleh Walisongo dalam mendakwahkan Islam, memang telah mengubah wajah nyadran yang dahulu merupakan tradisi Hindu-Buddha. Nyadran diselaraskan dengan ajaran Islam, yakni dengan pembacaan ayat Al-Quran, tahlil, dan doa. Pada akhirnya, nyadran pun menjadi satu bentuk simpul hubungan antara leluhur dengan sesama manusia dan Tuhan.
(Fadhil Nugroho/CN41/SMNetwork)

Nyadran: Tradisi Ziarah yang Menyejarah Reviewed by on . [caption id="attachment_268592" align="alignnone" width="400"] Tradisi makan bersama dalam nyadran.(Foto: Istimewa)[/caption] Menjelang bulan suci Ramadhan, seb [caption id="attachment_268592" align="alignnone" width="400"] Tradisi makan bersama dalam nyadran.(Foto: Istimewa)[/caption] Menjelang bulan suci Ramadhan, seb Rating: 0