Minggu , 25 Juni 2017

Home » Liputan Khusus » Mereguk Nikmat di Jalur Lawas Kereta Api

Mereguk Nikmat di Jalur Lawas Kereta Api

- Dari Suasana Mistis Hingga Dicurigai Masyarakat

15 Juni 2017 9:36 WIB Category: Liputan Khusus Dikunjungi: kali A+ / A-
Intrias Herlistiarto (Foto suaramerdeka.com/Setiady Dwi)

Intrias Herlistiarto (Foto suaramerdeka.com/Setiady Dwi)

KALAU memang sudah senang akan satu hal, apa pun memang bakal dijabanin. Hal ini pula yang berlaku bagi Intrias Herlistiarto (45). Warga Bandung itu tergila-gila dengan jejak kereta api peninggalan kolonial yang kemudian membuatnya terlibat dalam sejumlah perjalanan napak tilas dan pencarian tanpa henti mengingat eksistensi jalur baja itu yang sudah banyak tergerus zaman.

“Sebenarnya tak hanya peninggalan Belanda, kereta api pun sempat dibangun Jepang di Indonesia. Hanya saja, jalur-jalur buatan Belanda lebih menantang dan dibangun berdasar kajian yang komprehensif dan begitu terasa visioner-nya, berguna sampai ratusan tahun ke depan, kalau di luar itu bangunnya cenderung asal-asalan,” tandasnya belum lama ini.

Pria yang berkerja sebagai konsultan teknik itu menyebut bahwa penjejakan pertamanya dengan “kereta masa lalu” itu adalah pada saat menelusuri bekas petak jalan rel antara Stasiun Dayeuhkolot-Ciparay-Majalaya di Kabupaten Bandung.

Ini dilakukannya saat kelas tiga SMP pada pertengahan tahun 1980-an. Tak ada rasa takut sedikit pun selain kepenasaran akan kebesaran masa lalu. Hanya saja, tak banyak hal yang digalinya ketika itu selain sebatas membayangkan kereta melintas ke kawasan selatan Bandung itu dengan gagahnya di masanya.

Belum terpikirkan pula untuk merekontruksinya melalui pencatatan yang detail setiap temuannya.

“Saat itu belum kepikiran mengumpulkan data-data yang ditemukan di lapangan. Pokoknya susur jalan saja. Sekadar senang senang. Kesadaran untuk mengolah data itu baru mulai dilakukan saat saya sudah masuk kuliah,” jelasnya.

Petualangan lebih besar pun mulai lebih banyak dilakukan. Jalur-jalur non aktif di Jabar seperti Rancaekek-Tanjungsari, Bandung-Ciwidey, Cibatu-Cikajang, Banjar-Pangandaran, sekitar Ambarawa, hingga sejumlah trek di Sumatera, pernah dicicipinya. Tak sekali tapi bisa berkali-kali.

Saat blusukan itu, penggemar musik cadas tersebut kerap melakukannya seorang diri, mau pun dengan rekan-rekannya yang sealiran. Tak peduli bekas trek itu melintasi hutan dan jarang dijamah manusia, Intrias tetap melakukan tapak tilas itu dengan gairah tinggi demi mereguk sensasi dari zaman yang telah jauh meninggalkannya.

“Memang kadang ada aura yang terasa aneh, seperti mistis, kan rata-rata tua tuh peninggalannya, tak terawat, dan jarang disentuh. Seperti saat ngecek handle sinyal di bekas stasiun, kok hawanya lain meski siang hari, penampakan sih sejauh ini belum pernah, kalau sudah begitu, cuek saja, lagi pula saya tak ada niat ganggu, cuma lihat-lihat saja dan dicatat sebagai bukti pernah ada operasional KA di lintas ini,” katanya.

Selama perjalanan, artefak-artefak masa lalu berusaha ditemukannya. Bisa terkait dengan jejak persinyalan, trek, bekas menara air penunjang operasional lokomotif uap, bekas emplasemen stasiun yang tak jarang sudah berada di antara permukiman padat, hingga pengamatan jembatan termasuk sejarah pembangunannya dan desain yang digunakannya.

Temuan-temuan itu kemudian diselaraskan data-data lainnya yang di antaranya berasal dari percakapan dengan saksi hidup yang ditemuinya di sepanjang bekas trek kereta api. Kendati untuk mengoreknya, tak jarang pencinta mobil lawas itu mendapat respon tak menyenangkan dari penduduk setempat.

“Disangkanya saya dari pegawai KA, ada kecurigaan rutenya mau direaktivasi. Mereka yang sudah tinggal lama jadinya merasa terganggu kan. Lagi pula kan aktivitas saya agak aneh. Cari-cari jejak rel. Makanya begitu datang, saya langsung minta izin, dan menjelaskan maksud dan tujuannya. Kalau sudah begini, mereka justru malah banyak membantu, banyak cerita,” katanya.

Selain testimoni, pengumpulan data-data itu berasal dari dokumen terkait, hasil diskusi bersama teman-temannya, hingga pencarian referensi yang dianggap bisa mewakili dinamika yang terjadi pada jalur yang tengah ditapakinya.

Persentuhannya dengan data-data itu mengantarkannya pula kepada kegemarannya yang lain yakni menguliti lokomotif lokomotif uap yang pernah beroperasi di jalur-jalur non-aktif yang sempat pula dinapaktilasinya. Jangan heran dia hafal spek teknis sang penarik rangakain gerbong itu.

Dia pun sempat menceritakan dilikuidasinya jalur lawas Cibatu-Cikajang pada awal 1980 yang di antaranya terkait kondisi lokomotif uap yang tak prima lagi. Banyaknya uap yang bocor dari tubuh lokomotif dikarenakan ketel yang rusak, otomatis power berkurang, tanpa mendapat sokongan suku cadang membuat jalur itu semakin merana.

“Terlebih, keterjalan tanjakan di jalur itu bisa mencapai 36 meter dalam satu kilometer,” katanya.

Sejauh ini, kompilasi data perkeretaapian peninggalan kolonial itu cukup memadai. Namun, dia menyakini data-data tentang kereta kolonial itu akan terus berkembang. Karenanya, Intrias sebenarnya menyimpan hasrat untuk mengobrak-abrik segala informasi perkeretaapian di masa lalu itu dengan cara menyambangi langsung negeri Belanda yang sejauh ini berusaha diwujudkannya.

“Tapi di luar keinginan itu, saya dan teman-teman tengah menyusun data-data yang di antaranya hasil blusukan itu ke dalam sebuah laporan lengkap, seolah menghadirkan masa lalu, yang mudah-mudahan berguna bagi khazanah perkeretaapian kita, karena akan gampang diakses publik,” jelasnya.

(Setiady Dwi/CN19/SMNetwork)

Mereguk Nikmat di Jalur Lawas Kereta Api Reviewed by on . [caption id="attachment_1075281" align="alignleft" width="241"] Intrias Herlistiarto (Foto suaramerdeka.com/Setiady Dwi)[/caption] KALAU memang sudah senang aka [caption id="attachment_1075281" align="alignleft" width="241"] Intrias Herlistiarto (Foto suaramerdeka.com/Setiady Dwi)[/caption] KALAU memang sudah senang aka Rating: 0