Rabu , 28 Juni 2017

Home » Pringgitan » Budaya jawa » Menyantap Filosofi Bubur Sura

Menyantap Filosofi Bubur Sura

7 Oktober 2016 18:46 WIB Category: Budaya jawa, Pringgitan, Tradisional Dikunjungi: kali A+ / A-
Foto: Istimewa

Foto: Istimewa

BELUM lengkap rasanya memasuki bulan Muharram (dikenal sebagai bulan Sura oleh masyarakat Jawa) jika belum mencicipi hidangan khasnya. “Bubur Sura”, demikian sajian ini biasa disebut.

Bubur sura dibuat dari bahan-bahan seperti beras, santan, garam, jahe, dan serai. Di atas bubur ini ditaburi irisan jeruk bali dan buah delima, dpadu dengan tujuh jenis kacang. Ada kacang tanah, kacang mede, kacang hijau, kedelai, kacang merah, kacang tholo, dan kacang bogor. Tak lupa irisan ketimun dan beberapa lembar daun kemangi yang menjadikannya makin mengundang selera.

Biasanya, bubur sura disajikan dengan opor ayam yang dan sambal goreng labu siam (sambal goreng jipang). Turut pula disertakan uba rampe seperti sirih lengkap, kembar mayang, dan sekeranjang buah-buahan.

Ubarampe tersebut tak berdiri sendiri. Ada sejumlah filosofi yang terkandung di dalamnya.

Sirih lengkap, melambangkan asal-usul dan penghormatan kepada orang tua dan para leluhur. Sirih lengkap biasa diletakkan dalam bokor kuningan atau tembaga.

Sementara kembar mayang hadir dalam wadah dua vas bunga. Masing-masing vas berisi tujuh kuntum mawar merah, tujuh kuntum mawar putih, tujuh ronce melati, dan tujuh lembar daun pandan. Penyertaan tujuh jenis bunga ini melambangkan jumlah hari dalam seminggu.

Dalam hidup itulah seseorang harus selalu mempunyai tekad dan keberanian untuk bertindak (dilambangkan dengan mawar merah). Seluruh tindakan itu harus dilandasi dengan niat yang bersih dan benar, seperti dilambangkan oleh mawar putih. Dan akhirnya, semua tindakan itu harus mampu mengharumkan dunia, seperti rangkaian bunga melati dan daun pandan.

Sementara itu sekeranjang buah-buahan yang juga diisi dengan tujuh jenis buah, melambangkan agar semua pekerjaan dan tindakan menghasilkan buah yang manis dan bermanfaat bagi sesama.

Bubur Abang Putih

Bubur Abang Putih. (Foto: cookpad.com)

Bubur Abang Putih. (Foto: cookpad.com)

Selain bubur sura yang melegenda dengan gurihnya, ada pula kisah yang menerangkan jika bubur pada tanggal 10 Sura (Asyura) disajikan dalam dua warna, yakni merah (abang) dan putih. Konon, tradisi bubur Asyura berkait erat dengan peristiwa surutnya banjir pada masa kenabian Nuh as.

Ketika Nabi Nuh AS turun dari kapal setelah berlayar dari banjir bah yang maha dahsyat, dan pada saat itu Nuh AS menanyakan pada umatnya yang berada di kapal, apakah masih ada bekal pelayaran yang bisa dimakan. Lantaran masih ada sisa makanan, maka Nabi Nuh AS memerintahkan mereka untuk mengaduk sisa makanan menjadi bubur, dan disedekahkan kepada semua orang sebagai tanda syukur kepada Allah SWT.

Dalam tradisi masyarakat Jawa, biasanya bubur ini disajikan dalam dua warna, yakni merah dan putih. Putih melambangkan kebersihan dan kesucian hati, sedangkan bubur merah (abang) pertanda dalam kehidupan ini setiap hal diciptakan secara berpasang-pasangan, ada baik ada buruk, ada laki-laki ada perempuan, ada langit ada bumi, dan banyak hal lainnya.
(Fadhil Nugroho/CN41/SMNetwork)

Menyantap Filosofi Bubur Sura Reviewed by on . [caption id="attachment_797912" align="alignnone" width="316"] Foto: Istimewa[/caption] BELUM lengkap rasanya memasuki bulan Muharram (dikenal sebagai bulan Sur [caption id="attachment_797912" align="alignnone" width="316"] Foto: Istimewa[/caption] BELUM lengkap rasanya memasuki bulan Muharram (dikenal sebagai bulan Sur Rating: 0