Rabu , 28 Juni 2017

Home » Pringgitan » Budaya jawa » Mengabadikan Wedhatama

Mengabadikan Wedhatama

31 Oktober 2016 14:20 WIB Category: Budaya jawa, Pringgitan, Tradisional Dikunjungi: kali A+ / A-
Foto: Istimewa

Foto: Istimewa

KHAZANAH JAWA selalu menghasilkan banyak tulisan yang abadi. Puluhan pujangga kerajaan telah berlomba-lomba menghasilkan karya terbaiknya untuk Sang Raja. Kondisi ini pun berlangsung hingga pecahnya Mataram Islam pascaperjanjian Giyanti menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Dari kedua pecahan ini, masih terbentuk pula kadipaten-kadipaten yang memiliki pengaruh besar di masing-masing wilayah. Yakni Kadipaten Mangkunegaran di Surakarta dan Paku Alaman di Yogyakarta.

Kadipaten Mangkunegaran

Kadipaten Mangkunegaran merupakan kerajaan otonom yang pernah berkuasa di wilayah Surakarta sejak 1757 sampai dengan 1946. Penguasanya disebut dengan Wangsa Mangkunegaran, yang dimulai dari Mangkunegara I (Raden Mas Said). Meskipun berstatus otonom yang sama dengan tiga kerajaan pecahan Mataram lainnya, penguasa Mangkunegaran tidak memiliki otoritas yang sama tingginya dengan Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta.

Wedhatama yang Melegenda

Salah satu hasil karya yang abadi dari Kadipaten Mangkunegaran adalah Serat Wedhatama yang ditulis oleh KGPAA Mangkunegara IV. Penamaan “Wedhatama” (bahasa Jawa: Wredhatama) berasal dari dua kata yakni “wedha” yang berarti ajaran dan “tama” yang berarti utama. Serat ini secara keseluruhan berbentuk tembang dan berisi tentang ajaran-ajaran kebaikan, budi pekerti, dan moralitas yang masih tepat untuk diajarkan pada era modern.

Konon, Serat Wedhatama dianggap sebagai salah satu puncak estetika sastra Jawa abad ke-19 dan memiliki karakter mistik yang kuat. Sebab, Serat Wedhatama dianggap sebagai dasar penghayatan bagi siapapun yang ingin menjalankan lelaku secara spiritual tanpa melihat kepercayaan apapun. Puncak dari lelaku spiritual yang diajarkan dalam serat ini adalah menemukan kehidupan yang sejati, memahami diri sendiri, dan manunggaling kawula-Gusti.

Serat ini terdiri atas 100 pupuh tembang macapat, yang dibagi ke dalam lima lagu, yaitu,

  • Pangkur (14 pupuh, I – XIV))
  • Sinom (18 pupuh, XV – XXXII)
  • Pocung (15 pupuh, XXXIII – XLVII)
  • Gambuh (35 pupuh, XLVIII – LXXXII)
  • Kinanthi (18 pupuh, LXXXIII – C)

Berikut dikutipkan Serat Wedhatama dalam tembang Pangkur dan Sinom.

Pangkur
Pupuh 1

Mingkar mingkuring angkara,
Akarana karanan mardi siwi,
Sinawung resmining kidung,
Sinuba sinukarta,
Mrih kretarta pakartining ngelmu luhung
Kang tumrap neng tanah Jawa,
Agama ageming aji.

Menahan diri dari nafsu angkara,
karena berkenan mendidik putra
disertai indahnya tembang,
dihias penuh variasi,
agar menjiwai tujuan ilmu luhur,
yang berlaku di tanah Jawa
agama sebagai “pakaian”nya perbuatan.

Sinom
Pupuh 16

Samangsane pasamuan, mamangun marta martani,
Sinambi ing saben mangsa,
Kala kalaning asepi,
Lelana teki-teki,
Nggayuh geyonganing kayun,
Kayungyun eninging tyas,
Sanityasa pinrihatin,
Puguh panggah cegah dhahar lawan nendra.

Dalam setiap pergaulan,
membangun sikap tahu diri.
Setiap ada kesempatan,
Di saat waktu longgar,
mengembara untuk bertapa,
menggapai cita-cita hati,
hanyut dalam keheningan kalbu.
Senantiasa menjaga hati untuk prihatin (menahan hawa nafsu),
dengan tekad kuat, membatasi  makan dan tidur.

(Fadhil Nugroho/CN41/SMNetwork)

Mengabadikan Wedhatama Reviewed by on . [caption id="attachment_179178" align="alignnone" width="241"] Foto: Istimewa[/caption] KHAZANAH JAWA selalu menghasilkan banyak tulisan yang abadi. Puluhan puj [caption id="attachment_179178" align="alignnone" width="241"] Foto: Istimewa[/caption] KHAZANAH JAWA selalu menghasilkan banyak tulisan yang abadi. Puluhan puj Rating: 0