Minggu , 25 Juni 2017

Home » Liputan Khusus » Fenomena » Jangan Titipkan Anak ke Sekolah

Jangan Titipkan Anak ke Sekolah

17 Juni 2017 22:00 WIB Category: Fenomena, Liputan Khusus Dikunjungi: kali A+ / A-
Raka M Syafiie SPsi (suaramerdeka.com/dok)

Raka M Syafiie SPsi (suaramerdeka.com/dok)

BERDASARKAN data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), sepanjang periode 2011-2016, tercatat 4.294 pengaduan kasus anak korban pengasuhan keluarga dan pengasuhan alternatif. Pada awal 2017 lalu, KPAI kemudian menyimpulkan, salah satu pemicu utama anak bisa berhadapan dengan kasus hukum ialah kerentanan ketahanan keluarga. Dia berpendapat bahwa kasus itu semua bermula dari tidak hadirnya pengasuhan optimal pada level keluarga, terutama orang tua. Inilah kenyataan jika kita menilik kondisi keluarga Indonesia, peran keluarga ternyata tidak optimal.

Diperjelas oleh Ketua KPAI, Asrorun Niam Sholeh, dalam rilis website resminya, minimnya peran keluarga dalam pengasuhan anak bisa meningkatkan kemungkinan terjadinya kasus pelanggaran hak anak atau kenakalan anak. Faktanya ketika keluarga tidak hadir untuk mengoptimasi peran pengasuhan itu berkorelasi dengan peningkatan kasus-kasus pelanggaran hak anak, kasus-kasus kenakalan remaja, kasus narkotika, seks bebas, termasuk juga rokok.

Durasi seorang anak berada di keluarganya secara umum jauh melebihi durasi waktunya di tempat lain. Waktu yang dihabiskan anak rata-rata adalah seputar rumah, sekolah dan lingkungan bermainnya. Pakar pendidikan dari Universitas King Abdul Aziz, DR Khalid Ahmad Asy-Syantut mengatakan, jika peran keluarga, sekolah dan lingkungan dibagi dengan prosentase, keluarga dalam hal ini orangtua memiliki peran 60 persen, sekolah 20 persen dan lingkungan 20 persen. Ketiga lingkungan itu disebut Ki Hajar Dewantara sebagai tripusat pendidikan atau lingkungan pendidikan.

Dengan akumulasi waktu serta porsi pengaruh yang dihabiskan anak-anak di tiga tempat tersebut, maka sebenarnya yang terjadi di sekolah dan lingkungan tidak akan berpengaruh besar pada anak, jika rumah mampu memberikan peran secara penuh. Namun jika yang terjadi sebaliknya, peran rumah tidak optimal, maka anak akan mudah terpengaruh oleh lingkungan di luar rumah.

Secara teoretis, pola asuh seperti ini cukup berbahaya. Eleanor Maccoby dan John Martin menyebutkan, salah satu jenis pola asuh orang tua kepada anak yaitu neglectful atau involved. Pada pola asuh ini, orang tua lebih fokus pada kebutuhannya sendiri dibanding kebutuhan anak-anaknya. Neglectful parenting ini nantinya pada saat anak remaja sering menimbulkan gangguan perilaku.

Jurang Perbedaan

Rentetan data di atas menunjukkan kepada kita bahwa antara teori porsi peran keluarga dan fakta di lapangan masih menunjukkan jurang perbedaan. Jurang ini semestinya dihindari jika ingin menciptakan bangsa hebat yang dimulai dari keluarga.

Mengembalikan pendidikan utama dan pertama kepada keluarga merupakan salah satu jawaban penting atas masalah porsi peran ini. Upaya mengembalikan pendidikan utama meliputi, pertama, membongkar mindset pihak orang tua dan pihak sekolah, bahwa yang bertanggungjawab mendidik anak pada usia sekolah dasar adalah orangtuanya sendiri, sekolah adalah lembaga yang membantu orangtua.

Sejatinya tidak ada sekolah yang mampu mendidik anak usia sekolah dasar menjadi lebih baik jika orangtuanya sendiri tidak mendidiknya dirumah. Jika cara berpikirya sudah berubah maka segala bahasa persuasi sekolah, sistem pendampingan orang tua, pola komunikasi sekolah dan orang tua akan mengikuti.

Peran Sekolah

Kedua, orang tua tidak seharusnya merasa menitipkan anak ke sekolah. Yang terjadi sebenarnya adalah orang tua mendidik anak, dibantu oleh sekolah. Hal ini bukan berarti menghilangkan peran sekolah. Namun jika cara berpikirnya telah terbangun maka pihak sekolah membantu menyiapkan sistem agar orang tua terlibat bersama-sama pihak sekolah mendidik anak.

Orang tua tidak berarti menghabiskan seluruh waktunya untuk mendidik anak, namun orang tua selayaknya berkemauan keras memiliki anak-anak yang gemilang. Sehingga pola komunikasi orangtua dan sekolah tidak hanya berupa buku penghubung. Namun kongkrit dalam bentuk program belajar bersama orangtua (BBO) yang memiliki siklus umpan balik.

Secara teknis sekolah harus menyiapkan wadah dinamis bagi orang tua siswa untuk mengembangkan sekolah anaknya sendiri. Forum rutin bulanan untuk pendidikan parenting yang diadakan pihak sekolah untuk orang tua siswa bersifat mengikat dan berkonsekuensi jika tidak hadir. Sekali lagi hal ini dalam rangka membangun pola pikir orangtua mendidik anak dan sekolah hanya membantu.

Mengaktualisasikan Ilmu

Ketiga, jika memungkinkan, para ibu lebih utama kembali ke rumah daripada berkarier di luar. Setiap keluarga tentu berbeda kondisi, dengan beragam alasan tentu tidak ada salahnya ibu yang bekerja membantu ekonomi keluarga dan untuk mengaktualisasikan ilmunya. Namun, kini telah banyak jalan lain mengaktualisasi diri sekaligus membantu ekonomi keluarga tanpa harus berkarier di luar rumah.

Tren menunjukkan adanya peningkatan tajam usaha rumah tangga yang diprakarsai oleh wanita dan ibu-ibu. Terkonfirmasi dalam data BPS upaya perempuan mengelola usaha kelas mikro ini nampak pada pertumbuhan secara kuantitatif jumlah pelaku usaha kecil di Indonesia yakni 99,86 persen dari total jumlah pelaku usaha. Sementara pelaku usaha mikro mencapai 97,6 persen dari jumlah pelaku usaha kecil.

Selain dunia usaha, sangat mungkin lewat dunia pendidikan, kesehatan, bahkan tulis menulis seorang ibu dapat beraktualisasi dan mendapatkan penghasilan tambahan tanpa meninggalkan keluarga dirumah. Telah banyak contoh yang bisa menginspirasi, tentunya sama sekali tidak bersebrangan dengan prinsip emansipasi wanita, hanya memindahkan lokus beraktualisasi bagi ibu yang memiliki anak.

Peran Ayah

Keempat, tidak hanya ibu sebagaimana disebutkan di poin sebelumnya, peran ayah juga sangat vital. Selama ini seolah pemakluman umum bahwa tugas seorang ayah adalah mencari nafkah untuk keluarga. Sementara urusan pendidikan diserahkan sepenuhnya pada ibu. Namun pada banyak penelitian dan kajian menunjukan bahwa ayah yang ikut melibatkan diri secara aktif dalam mendidik anak akan membawa keuntungan positif yang tidak dapat dilakukan orang lain.

Misalnya hasil studi yang diadakan oleh Kyle D. Pruett dalam bukunya ‘Fatherneed: Why Father Care is as Essential as Mother Care for Your Child’, menunjukkan manfaat keikutsertaan ayah dalam mendidik anak. Hasil pendidikan anak menjadi lebih baik, anak akan lebih siap secara mental untuk menghadapi suasana sekolah, lebih stabil secara emosional, dan anak laki-laki lebih cenderung tidak nakal, anak perempuan cenderung memiliki rasa percaya diri yang lebih kuat serta sederet keuntungan lainnya.

Lembaga PAUD

Kelima, orangtua selayaknya meluruskan orientasi dalam memasukan anak ke lembaga PAUD. Lembaga PAUD mampu menjawab kebutuhan anak untuk bersosialisasi, yang juga merupakan pilar dasar dalam pendidikan di usia dini. Namun dalam aspek pendidikan lainnya, tidak ada yang mampu mengalahkan ketulusan orangtua dalam mendidik. Karena itu, memilih mendidik anak usia balitanya sendiri di rumah daripada menitipkan ke PAUD atau penitipan anak bukan merupakan sesuatu kesalahan.

Jika selama ini kita memiliki cara berpikir keluarga sebagai pendidikan pertama, perlu kita kembangkan menjadi pendidikan yang utama. Agar selaras dengan konsepsi Ki Hajar Dewantara bahwa suasana kehidupan keluarga merupakan tempat yang sebaik-baiknya untuk melakukan pendidikan individual maupun pendidikan sosial.

Keluarga merupakan lembaga pendidikan tertua, bersifat informal, yang pertama dan utama dialami oleh anak serta lembaga pendidikan yang bersifat kodrati, artinya orang tua bertanggung jawab memelihara, merawat, melindungi, dan mendidik anak agar tumbuh dan berkembang dengan baik. Mari rubah pola pikir kita para orangtua, untuk generasi gemilang di kemudian hari.
(Penulis: Raka M Syafiie SPsi, aktif di Akademi Keluarga Semarang, Orang Tua Santri Kuttab Al-Fatih, Kota Semarang)

 

 

 

Jangan Titipkan Anak ke Sekolah Reviewed by on . [caption id="attachment_1078084" align="alignnone" width="400"] Raka M Syafiie SPsi (suaramerdeka.com/dok)[/caption] BERDASARKAN data Komisi Perlindungan Anak I [caption id="attachment_1078084" align="alignnone" width="400"] Raka M Syafiie SPsi (suaramerdeka.com/dok)[/caption] BERDASARKAN data Komisi Perlindungan Anak I Rating: 0