Sabtu , 25 Maret 2017

Home » Pringgitan » Budaya jawa » Jamasan Bende Becak, Ritual Bersejarah 10 Dzulhijjah

Jamasan Bende Becak, Ritual Bersejarah 10 Dzulhijjah

12 September 2016 14:45 WIB Category: Budaya jawa, Pringgitan, Tradisional Dikunjungi: kali A+ / A-
Foto: yayasansunanbonang.blogspot.com

Foto: yayasansunanbonang.blogspot.com

KABUPATEN Rembang kian berseri setiap 10 Dzulhijjah tiba. Bagi umat Islam pada umumnya, 10 Dzulhijjah merupakan momen peringatan Idul Adha, sekaligus meneladani ketaaatan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail kepada Allah SWT.

Namun bagi warga Kabupaten Rembang, 10 Dzulhijjah sekaligus menjadi rutinitas penjamasan Bende Becak. Bende Becak merupakan gong kecil yang berasal dari abad ke-16. Sunan Bonang membunyikan bende tersebut untuk mengumpulkan masyarakat mendengarkan syiar Islam, menjalin kerukunan, dan peringatan akan tanda bahaya.

Konon, bende tersebut merupakan jelmaan seorang utusan Brawijaya V. Pada sekitar tahun 1510 Masehi, Sunan Bonang pernah mengirim surat kepada Raja Majapahit Brawijaya V.

Sunan Bonang meminta Brawijaya V untuk memeluk Islam. Namu Brawijaya menolak dan mengirim seorang utusan bernama Becak untuk menyampaikan surat penolakan itu kepada Sunan Bonang.

Sang utusan Majapahit itu pun tiba di kediaman Sunan Bonang yang berada di Hutan Kemuning (sekarang dikenal dengan Desa Bonang, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang). Becak tiba menjelang maghrib sebelum hari raya Idul Adha.

Setelah menyerahkan surat itu, Becak beristirahat dan menembang lagu-lagu Jawa. Alunan tembang itu mengganggu Sunan Bonang yang sedang mengaji bersama sejumlah muridnya.

Sunan Bonang pun menanyakan kepada santrinya, suara siapakah yang mengalunkan tembang tersebut. Para santri menjawab, suara itu adalah suara Becak, utusan Brawijaya V.

Namun Sunan Bonang mengatakan, suara itu bukan suara Becak, tetapi bende atau gong kecil. Setelah santri itu mengecek ke asal suara, si Becak sudah tidak ada lagi dan berubah wujud menjadi bende. Bende tersebut kemudian digunakan sebagai sarana syiar Islam dan dirawat hingga sekarang.

Dalam penjamasan Bende Becak, juru kunci menyediakan air bunga jamasan di lima tempat serta ketan kuning dengan unti atau parutan kelapa bercampur gula jawa. Juru kunci menaruh ketan kuning itu di atas rakitan potongan bambu.

Ritual diawali dengan mencuci Bende Becak dengan menggunakan air bunga. Selain itu, ada pula tumpeng-tumpeng kecil ketan dan nasi kuning sebagai wujud rasa syukur serta potongan kecil kain mori yang digunakan untuk ritual penjamasan.

Setelah tokoh agama dan masyarakat menjamas Bende Becak serta batu penabuhnya, ketan kuning beserta unti, wadah ketan kuning, dan air bekas jamasan, dibagikan ke masyarakat. Dalam upacara tersebut, para ulama selalu mengingatkan agar masyarakat tidak menjadikan piranti upacara sebagai jalan menuju kemusyrikan.
(Fadhil Nugroho/CN41/SMNetwork)

Jamasan Bende Becak, Ritual Bersejarah 10 Dzulhijjah Reviewed by on . [caption id="attachment_769197" align="alignnone" width="400"] Foto: yayasansunanbonang.blogspot.com[/caption] KABUPATEN Rembang kian berseri setiap 10 Dzulhijj [caption id="attachment_769197" align="alignnone" width="400"] Foto: yayasansunanbonang.blogspot.com[/caption] KABUPATEN Rembang kian berseri setiap 10 Dzulhijj Rating: 0