Selasa , 27 Juni 2017

Home » Liputan Khusus » Inovasi Pendidikan Vokasi Lewat Teaching Factory

Inovasi Pendidikan Vokasi Lewat Teaching Factory

20 April 2017 13:12 WIB Category: Liputan Khusus, Solo Metro Dikunjungi: kali A+ / A-
MENGOPERASIKAN MESIN : Siswa mengoperasikan mesin bubut di Bengkel Teaching Factory SMK Muhammadiyah 1 Sukoharjo, di Jalan Rajawali, Kelurahan Joho, Kecamatan/Kabupaten Sukoharjo. (Foto suaramerdeka.com/Asep Abdullah)

MENGOPERASIKAN MESIN : Siswa mengoperasikan mesin bubut di Bengkel Teaching Factory SMK Muhammadiyah 1 Sukoharjo, di Jalan Rajawali, Kelurahan Joho, Kecamatan/Kabupaten Sukoharjo. (Foto suaramerdeka.com/Asep Abdullah)

PERLAHAN tapi pasti, pendidikan vokasi terangkat. Koreksi dan inovasi pun diterjemahkan oleh setiap institusi pendidikan. Baik oleh negeri, maupun milik swasta yang konsen terhadap bidang kejuruan itu.

Tidak hanya bangunan fisik yang terus dipoles, target kuantitas siswa yang dikejar, atau pelengkapan fasilitas pendukung. Serta promosi dan branding terhadap institusi di mata publik. Tetapi kualitas sumber daya manusia (SDM) pada diri siswa menjadi perihal serius yang seakan wajib untuk terus dibenahi. Sebagaimana keseriusan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada era pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla yang menaruh perhatian lebih pada pendidikan vokasi di pelosok negeri.

Maka tepat jika akhirnya memasukkan revitalisasi pendidikan vokasi pada program prioritas. Bahkan tahun lalu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah menerbitkan Naskah Akademik Pendidikan Vokasi yang diiniasi Menteri Muhadjir Effendy. Adapun visi dalam rangka meningkatkan mutu itu, diterjemahkan oleh setiap sekolah dengan melalui inovasi. Diantaranya yang dilakukan oleh Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Muhammadiyah 1 Sukoharjo atau biasa dikenal dengan SMK Mutuharjo.

Sekolah yang terletak di Jalan Anggrek Nomor 02 itu, 25 Maret 2017 me-lounching workshop Teaching Factory & Bisnis Center M-One. Spesial, karena dihadiri Kepala Sub Direktorat Jenderal Kurikulum Direktorat Pembinaan SMK Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, M Bakrun. Adapun letak Teaching Factory atau biasa disebut “bengkel” penggemblengan oleh siswa, berada di Jalan Rajawali, Kelurahan Joho, Kecamatan/Kabupaten Sukoharjo atau sekitar 15 kilometer sebelah selatan Kota Solo.

Pendirian Teaching Factory pada sekolah yang saat ini memiliki 1.300 siswa itu, menurut Humas SMK Mutuharjo, Mustafa, sebagai bentuk kreatifitas lembaga demi menjawab upaya revitalisasi terhadap pendidikan vokasi. Bahkan karya besar yang diinisiasi oleh Kepala Sekolah, Mustadjab itu, dapat mensingkronkan visi lintas intansi. Diantaranya sekolah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, industri dan Kementerian Perindustrian. “Biar match. Lulusan SMK benar-benar siap kerja. Kemampua juga mumpuni,” terang dia.

Budaya Industri

MEMPERBAIKI BAD : Siswa memperbaiki bad rumah sakit di Bengkel Teaching Factory milik SMK Muhammadiyah 1 Sukoharjo, di Jalan Rajawali, Kelurahan Joho, Kecamatan/Kabupaten Sukoharjo. (Foto suaramerdeka.com/Asep Abdullah)

MEMPERBAIKI BAD : Siswa memperbaiki bad rumah sakit di Bengkel Teaching Factory milik SMK Muhammadiyah 1 Sukoharjo, di Jalan Rajawali, Kelurahan Joho, Kecamatan/Kabupaten Sukoharjo. (Foto suaramerdeka.com/Asep Abdullah)

Dikatakan, laboratorium yang pada umumnya dimiliki sekolah kejuruan, tidaklah cukup. Pasalnya laboratorium dinilai sebagai pembelajaran murni. Sementara Teaching Factory, membawa budaya industri ke dalam sekolah, sehingga tidak hanya pelatihan. Tetapi ada kegiatan berupa produksi barang tertentu sesuai pesanan industri. “Siswa diajak menapak pada profesionalitas. Seperti motto SMK Bisa, SMK Hebat, kami menuju ke arah itu. Inilah salah satu bentuk revitalisasi vokasi yang kami terjemahkan secara nyata,” tuturnya.

Apalagi sejak dibuka 23 Maret, pihaknya tengah menjalin kerjasama dengan 39 rumah sakit PKU Muhammadiyah di Jawa Tengah. Paling tidak ditergetkan sejumlah rumah sakit yang bisa mengorder perlengkapan atau alat kesehatan (alkes) seperti bad atau tempat tidur pasien. Dilain sisi, RSUD Dr Moewardi Solo baru mempercayakan perbaikan alkes padanya. “Siswa yang mengerjakan. Tetap ada mentor dari tim ahli industri yang ngecek setiap tahapan, agar produknya sesuai standar yang ada. Karena prinsip pengerjaan profesional,” jelas dia.

Dia melanjutkan, agar siswa tanggap terhadap persaingan global yang begitu ketat, pihaknya juga bekerja sama dengan luar negeri. Di antaranya untuk Jurusan Mesin dengan Akademi Kosen Jepang dan Teknik Komputer dengan Androit NIIT India. Selain itu, kerjasama lain sudah dijalin dengan PT Yamaha, PT Diametral Involute, PT Nasmoco, CISCO Akademi, PT Fun World dan PT Telkomsel. “Makanya kami kemudian berpikir membuat barang keperluan industri dan menerima jasa, sehingga siswa bisa menikmati atmosfir di dunia kerja secara riil,” akunya.

Manfaat Bagi Siswa
Adanya Teaching Factory, mendapat apresiasi positif dari siswa. Seperti yang dialami oleh Redwan Cahyo Putro (18). Siswa kelas 11 Jurusan Teknik Permesinan itu, mengaku beruntung menikmati fasilitas itu. Dia ingin membuktikan pada orang tuanya, Agus Suyadi (50) dan Pujiastuti (49) yang merantau ke Bandung demi berjualan bubur, bisa menjadi ahli permesinan. “Tempatnya luas ada 800-1.000 meter persegi. Fasilitas juga komplit. Seperti bekerja di industri saja. Jadi kami lebih percaya diri lagi mengembangkan keahlian,” kata warga Kecamatan Polokarto itu.

Dengan inovasi yang dilakukan setiap sekolah kejuruan, diantaranya memasukkan budaya industri menurut Pengamat Pendidikan Univesitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Prof. Dr. M. Furqon Hidayatullah, M.Pd, langkah yang tepat. Dia menilai hal itu menjadi salah satu bentuk implementasi dari upaya revitalisasi terhadap pendidikan vokasi. Pasalnya menilik sejarah pendidikan di dunia internasional, sekolah yang dibawa ke industri tidak efektif. Seperti yang dilakukan di Jerman pada 1990. Sementara China mengembangkan industri yang dibawa ke sekolah pada tahun 2000, efektiv.

“Hasilnya ponsel Evercross, terkenal di mana-mana. Kemudian di negara maju, seperti Korea juga mengembangkannya. Prinsip itu layak diterapkan di sekolah vokasi di Indonesia. Agar siswa setelah lulus, benar-benar siap bekerja. Jadi kemampuannya memadai secara maksimal,” jelas dia yang juga menjabat sebagai Direktur Pasca Sarjana UNS itu.

(Asep Abdullah Rowi/CN19/SMNetwork)

Inovasi Pendidikan Vokasi Lewat Teaching Factory Reviewed by on . [caption id="attachment_1016503" align="alignleft" width="333"] MENGOPERASIKAN MESIN : Siswa mengoperasikan mesin bubut di Bengkel Teaching Factory SMK Muhammad [caption id="attachment_1016503" align="alignleft" width="333"] MENGOPERASIKAN MESIN : Siswa mengoperasikan mesin bubut di Bengkel Teaching Factory SMK Muhammad Rating: 0