Kamis , 29 Juni 2017

Home » Pringgitan » Budaya jawa » Gereja Ganjuran, Wadah Kontemplasi Sarat Tradisi

Gereja Ganjuran, Wadah Kontemplasi Sarat Tradisi

17 April 2017 14:41 WIB Category: Budaya jawa, Pringgitan, Tradisional Dikunjungi: kali A+ / A-
Foto: thewetfeet.wordpress.com

Foto: thewetfeet.wordpress.com

PULAU JAWA menyimpan perpaduan budaya yang unik dan cantik. Antara agama dengan kearifan lokal bisa berbaur dengan apik tanpa meninggikan ego masing-masing. Jika umat Muslim Jawa memiliki Menara Kudus yang secara arsitektur kental dengan arsitektur Hindu, maka umat Katholik memiliki Gereja Hati Kudus Yesus di Ganjuran.

Gereja Ganjuran didirkan pada tanggal 16 April 1924 oleh keluarga Schmutzer, yang memiliki sebuah pabrik gula di wilayah itu. Gereja ini sekaligus merupakan gereja tertua di Bantul.

Gedung gereja dibuat dengan gaya joglo dan dihiasi dengan ukiran gaya Jawa. Altarnya dihiasi dengan malaikat yang berbusana tokoh wayang orang.

Di gereja ini pengunjung bisa menikmati kemegahan candi setinggi 10 meter yang mirip dengan candi di Prambanan. Bahkan patung Maria dan Yesus yang diletakkan di sana menggambarkan mereka sebagai penguasa dan guru Jawa. Patung ini diukir dengan motif batik, lengkap dengan Altar Sang Maha Prabu Jesus Kristus dan Altar Dyah Marijah Iboe Ganjuran.

Altar Sang Maha Prabu Jesus Kristus. (Foto: Wikipedia)

Altar Sang Maha Prabu Jesus Kristus. (Foto: Wikipedia)

Batu yang dipahat diambil dari kaki Gunung Merapi di bagian utara. Sementara itu pintu masuk diarahkan ke Selatan yang mencerminkan kepercayaan orang Jawa pada harmoni utara dan selatan. Candi ini diresmikan pada tanggal 11 Februari 1930 oleh Uskup Batavia Antonius van Velsen. Gereja ini makin lengkap dengan 15 relief yang menggambarkan Jalan Salib.

Air Perwitasari

Candi Tyas Dalem Sri Yesus di kawasan gereja Ganjuran menghadap ke Selatan. Untuk masuk ke tempat persemadian yang didiami arca Tyas Dalem, peziarah harus melewati sembilan anak tangga sebagai simbolisasi ‘nutupi babahan hawa sanga’.

Lokasinya diteduhi banyak pohon cemara, sawo kecik dan keben. Di dekatnya, mengalir sumber mata air yang ditemukan pada tahun 1998.

Penelitian di laboratorium menunjukkan, air di bawah candi ini mengandung mineral tinggi. Oleh karenanya air ini kemudian dinaikkan agar bermanfaat. Sumber mata air ini kemudian disebut dengan nama Tirta Perwitasari.

Penamaan ini tak terlepas dari kesembuhan yang didapat Perwita usai merasakan khasiat air tersebut. Secara kebetulan di dalam dunia pewayangan disebut pula air suci Perwitasari yang diburu oleh Wijasena sebagai air kehidupan.

Kini, Tirta Perwitasari menjadi primadona para pencari kesembuhan. Mereka datang dari berbagai kota di tanah air. Pada hari-hari tertentu, seperti Jumat Kliwon atau pun Jumat pertama tiap bulan, candi itu banyak dikunjungi peziarah. Pada malam sebelumnya, biasanya diselenggarakan misa dengan iringan gamelan dan tradisi Jawa yang kental.

Ketika pulang, para peziarah biasanya membawa air Perwitasari dengan keyakinan air ini memberi banyak manfaat dalam kehidupannya. Kesaksian tentang mukjizatnya bisa disimak dari buku tamu.
(Fadhil-dari berbagai sumber/CN41)

 

Gereja Ganjuran, Wadah Kontemplasi Sarat Tradisi Reviewed by on . [caption id="attachment_1012524" align="alignnone" width="400"] Foto: thewetfeet.wordpress.com[/caption] PULAU JAWA menyimpan perpaduan budaya yang unik dan can [caption id="attachment_1012524" align="alignnone" width="400"] Foto: thewetfeet.wordpress.com[/caption] PULAU JAWA menyimpan perpaduan budaya yang unik dan can Rating: 0