Tak Sekadar Cerdas dalam Memilih | SM BlogJurnalis

Senin , 26 Juni 2017

Tak Sekadar Cerdas dalam Memilih

(Catatan untuk Pilkada Kabupaten Semarang)

8 Desember 2015 14:05 WIB by: Category: Artikel, Blog Jurnalis A+ / A-

PILKADA serentak di delapan provinsi, 170 kabupaten dan 26 kota yang termasuk gelombang pertama akan digelar Rabu (9/12). Termasuk salahsatunya Kabupaten Semarang yang akan memilih dua pasangan calon bupati dan wakil bupati.

Adapun kandidat yang telah resmi ditetapkan oleh KPU adalah pasangan
Nurjatmiko-Mas’ud Ridwan (Jati Mas) yang diusung PKB, Golkar, Hanura, dan
PKS serta duet Mundjirin-Ngesti Nugraha (Mukti) yang diusung PDI-P, PAN,
dan Gerindra.
Masyarakat tentu melihat dan menyaksikan pemberitaan di berbagai media,
salah satunya media sosial yang intens membahas rekam jejak kedua pasangan
calon, kehidupan pribadi hingga persiapan KPU, PPK, PPS dan KPPS. Meski
tidak banyak.
Sementara di media massa, baik cetak maupun online, ada pertanyaan
mendasar, apakah pemberitaan terkait Pilkada Kabupaten Semarang sudah cukup
memberikan pencerdasan kepada masyarakat? Bagaimana caranya menjadi pemilih
cerdas dalam Pilkada kali ini? Banjir informasi melalui pemberitaan yang
tidak hanya dalam hitungan hari, tetapi sudah masuk ke hitungan menit
hingga melewati kapasitas atau  overload.
Masyarakat pun cenderung enggan atau kesusahan menerima ide dan gagasan
dari masing-masing pasangan Bupati dan Wakil Bupati.
Di sisi yang lain, pemberitaan yang tidak berimbang karena afiliasi
perusahaan media membawa dampak kerancuan informasi yang diterima
masyarakat. Peran media dalam mencerdaskan masyarakat pun tidak terjadi
dengan baik. Karena, pemberitaan yang disajikan porsinya tidak berimbang,
meski dengan narasumber dua pasangan calon. Pemberitaannya pun hanya
membahas bagian luar dan kurang memiliki relevansi dengan konsep, ide dan
gagasan yang dibawa kandidat calon pemimpin di Bumi Serasi ini.
Sempitnya eksplorasi visi misi dari para calon Bupati dan Wakil Bupati ini
juga menyebabkan masyarakat sampai hari ini masih terjebak oleh figuritas
dan belum memiliki kesadaran yang utuh tentang sejauh mana gagasan dan
komitmen yang dimiliki oleh pasangan calon. Inilah yang menyebabkan
masyarakat belum tercerdaskan dan belum terdidik menjadi masyarakat yang
objektif dalam menentukan pilihan.
Komunitas Pemilih Objektif dan Rasional pun memberikan enam kriteria untuk
menjadi pemilih yang cerdas. Karena, pemilih cerdas tentunya tidak sekadar
cerdas dalam menentukan pilihannya, tetapi memilih berdasarkan upayanya
dalam menelusuri jejak rekam para pasangan calon. Bukan dalam
primordialitas, tetapi integritas, kapasitas, kapabilitas dan prospeknya.
Enam kriteria itu pertama, pemilih cerdas artinya pemilih yang rasional.
Obyektif, memilih berdasarkan penilaian dirinya. Bukan atas dorongan uang,
faktor saudara, suku. Kedua, dengan menetapkan diri sebagai pemilih cerdas
tentu memilih tidak sekedar asal memilih. Tapi berdasarkan kriteria
pilihan. Seperti bagaimana intregritasnya, komitmennya, dedikasinya, dan
menguasai berbagai masalah rakyat serta bertanggungjawab pada daerah
pemilihannya dan aspiratif terhadap usulan pemilihnya.
Ketiga, pemilih cerdas, rasional dan obyektif adalah pemilih yang memiliki
hubungan emosional, bukan hubungan transaksional, dengan calon pilihannya
dan yakin betul bahwa yang dipilihnya itu bakal menang. Maka pemilih cerdas
itu pasti akan melindungi, memelihara, menyayangi serta senantiasa akan
mengampanyekan pilihannya kepada orang lain. Pemilih cerdas juga tidak akan
merepotkan calon yang akan dipilihnya tetapi malah meringankan beban calon.
Keempat, untuk menjadi pemilih cerdas, obyektif dan rasional, pemilih
tentunya harus tahu dan memahami kiat-kiat apa yang akan dibuat ketika
calon pilihannya itu menang. Apa dan bagaimana visi misinya, apa logis dan
realistis bisa dilaksanakan atau tidak?
Karena, seorang calon Bupati dan Wakil Bupati sebelum mencalonkan atau
dicalonkan parpol tentunya harus sudah memiliki rancangan dan program. Akan
kemana, akan berbuat apa ketika terpilih, apa yang perlu dibenahi, apa yang
perlu disegerakan untuk ditangani.
Kemudian, kelima, pemilih cerdas, rasional dan obyektif, tentunya sudah
bisa membaca, rekam jejak si calon selama ini. Apakah ia berwawasan dan
pantas untuk menjadi pemimpin? Bukan karena alasan suka atau tidak suka,
atau alasan saudara kelompok, suku dan lainnya, apalagi alasan “memberi apa
dan berapa?” Melihat track record calon bisa dilakukan melalui media,
pernyataan-pernyataannya ketika tatap muka dengan masyarakat, atau
pengalaman jasa baktinya kepada masyarakat selama ini.
Terakhir, pandangan pemilih cerdas tentunya rasional dan obyektif. Bisa
membedakan mana calon yang visioner, berwawasan, tidak mengandalkan
popularitas semu, dikenal karena kemampuan ekonominya, karena “taburannya”.
Pemilih rasional tentu akan dapat membedakan mana calon yang memiliki visi
mana calon yang ambisi.
Karena, calon yang lebih baik perkataannya, perbuatannya, dan memiliki
intregritas niscaya dia akan lebih bertanggungjawab terhadap pekerjaannya.
Yang dalam bahasa agamanya, calon pemimpin yang kita cari adalah yang
<I>sidiq (benar) <I>amanah(bisa dipercaya), <I>fathonah(cerdas),
dan <I>tabligh (komunikatif). Pemilih cerdas itu tak akan mudah terbius
oleh oleh mantra-mantra politik yang kosong, poster-poster yang tidak masuk
akal, atau lagu-lagak yang sok tahu dan sok berwibawa dari para calon
pemimpin.
Menjadi pemilih tentunya tak sekadar cerdas, tetapi memiliki pedoman
memilih dalam menentukan penilaian semua calon pemimpin. Seseorang yang
pernah memiliki reputasi buruk, maka dalam konteks apakah iya? Misalnya,
seorang bekas narapidana, apakah setelah menjalani hukuman, ia pantas
dicurigai terus sebagai seseorang yang bertabiat buruk? Bukankah mantan
ustad yang jadi maling itu tak lebih baik ketimbang mantan maling yang
menjadi ustad?
Peran pemilih dalam hal ini rakyat, tentunya sangat besar dalam memberikan
upaya perubahan dan perbaikan ke depan. Untuk itu, mari bersama kenali
mereka, pilahlah baru dipilih. Mari bersama menjadi pemilih yang cerdas dan
memang menjadi pemilih cerdas adalah pilihan kita semua untuk perubahan
Kabupaten Semarang yang lebih baik dan sejahtera.
Kepada Calon Bupati dan Wakil Bupati yang terpilih nantinya, seperti yang
tertuang dalam Kitab Ahkamus Sulthaniyah, ada beberapa tugas yang harus
dilakukan. Diantaranya, memelihara kerukunan beragama berdasarkan
undang-undang. Menerapkan hukum terhadap yang berselisih, dan menyelesaikan
sangketa diantara yang bersangketa sehingga keadilan terwujud dengan nyata.
Menjaga keamanan umum agar masyarakat bebas berusaha bebas mencari
penghidupan dan dapat melakukan perjalanan dengan aman, tidak terancam jiwa
dan hartanya. Menegakkan hukum agar terjaga apa yang diharamkan Allah dan
hak-hak rakyat. Menguatkan ketahanan negara, dan menyiapkan kekuatan yang
dapat menolak musuh. Menetapkan pengeluaran dan hak-hak pada kas negara,
mengangkat orang-orang yang dipercaya untuk memangku jabatan dan untuk
menyerahkan hak pengelolaan keuangan negara kepada yang mampu. Serta mampu
mengendalikan langsung dan memeriksa urusan-urusan pemerintahan. Semoga. ***
-Muhammad Syukron, wartawan Suara Merdeka, warga Dusun Jambu Lor,
Desa Jambu, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang.

Comments

comments

Tak Sekadar Cerdas dalam Memilih Reviewed by on . PILKADA serentak di delapan provinsi, 170 kabupaten dan 26 kota yang termasuk gelombang pertama akan digelar Rabu (9/12). Termasuk salahsatunya Kabupaten Semara PILKADA serentak di delapan provinsi, 170 kabupaten dan 26 kota yang termasuk gelombang pertama akan digelar Rabu (9/12). Termasuk salahsatunya Kabupaten Semara Rating: 0
scroll to top