Sanksi Berjamaah bagi Televisi SSJ | SM BlogJurnalis

Rabu , 28 Juni 2017

Sanksi Berjamaah bagi Televisi SSJ

31 Desember 2015 15:44 WIB by: Category: Artikel, Blog Jurnalis A+ / A-

APA jadinya jika potensi, konten, dan kearifan lokal diabaikan oleh para pengelola lembaga penyiaran (LP) berjaringan yang ada di Indonesia? Sudah bisa dipastikan geliat perekonomian di daerah pada sektor yang berkonsentrasi di bidang penyiaran akan turut terkena imbasnya. Jika tidak ingin dikatakan mati suri, setidaknya rumah produksi lokal, orang-orang kreatif, dan berbagai sektor di daerah terkait dunia penyiaran akan jalan di tempat atau susah berkembang.

Undang-Undang 32 Tahun 2002 mengamanatkan televisi Sistem Stasiun Jaringan (SSJ)—masyarakat awam sering menyebut televisi nasional–memberikan porsi minimal 10 persen untuk siaran lokal dari total siaran setiap hari. Kewajiban itu juga dikuatkan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2005, Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 43 Tahun 2009, serta Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) yang dikelurkan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) agar kewajiban bersiaran lokal itu bisa memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat sekitar. Namun dalam kenyataannya
implementasi dari kebijakan itu belum dipenuhi secara maksimal dan optimal, termasuk oleh televisi SSJ yang bersiaran di Jawa Tengah.

Tentunya bukan hal yang muluk-muluk ketika televisi SSJ dituntut untuk bersiaran lokal. Sebab diharapkan bisa menggerakkan seluruh potensi lokal yang ada, mulai dari mengoptimalkan seluruh sumber daya lokal sampai pada materi yang bersifat lokal.
Dengan demikian daerah bisa memetik keuntungan dari materi siaran tersebut. Di Jawa Tengah ada banyak televisi SSJ yang bisa diakses masyarakat secara langsung, antara lain Trans TV, Trans 7, RCTI, Global TV, MNC TV, SCTV, Indosiar, ANTV, TV One, MetroTV, dan Kompas TV.

Berdasarkan pemantauan di Jawa Tengah, siaran lokal televisi SSJ belum maksimal. Jika televisi SSJ bersiaran 24 jam sehari, seharusnya mengalokasikan waktu minimal 2 jam 24 menit untuk bersiaran lokal. Namun pada kenyataannya banyak yang masih kurang dari itu. Pilihan jam tayangnya pun juga disaat banyak orang sedang tidak menonton televisi, yakni dini hari atau
menjelang subuh. Orang sering menyebut sebagai “jam tahajud” atau sebagian lagi menamakannya dengan “jam hantu”. Selain itu masih ada siaran lokal yang kedaluwarsa.

Atas ketidakmaksimalan siaran lokal tersebut, Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Tengah pun tak henti untuk terus mengingatkan dan mengundang para pengelola televisi SSJ yang bersiaran di provinsi ini. Mereka diingatkan untuk mematuhi
kewajiban 10 persen siaran lokal. Menjelang akhir 2014 dan awal 2015 sudah mulai nampak sedikit perubahan, meski masih tetap belum maksimal sampai akhir tahun ini. Beberapa sudah bersiaran di siang hari, namun masih ada juga yangbersiaran pada “jam tahajud”.

Siaran Lokal Jawa Tengah

Pada 1-7 Oktober 2015, KPID Jawa Tengah secara intensif melakukan pemantauan terhadap televisi SSJ yang bersiaran di provinsi ini. Hasilnya, ada yang bersiaran kurang dari setengah jam, satu jam, dan dua jam atau lebih. Namun yang bersiaran lebih dari dua jam ternyata juga tidak konsisten setiap hari atau bersiaran pada “jam tahajud”. Metro TV misalnya, pada 1 Oktober 2015 menayangkan program acara Seputar Jateng-Oasis pada pukul 13.00-14.00 dan 2 Oktober 2015 menayangkan Archipelago Expedition pada pukul 13.00-14.00 juga. Namun pada 3 dan 4 Oktober 2015 kosong, dan baru ada tayangan lokal lagi pada 6 dan 7 Oktober 2015 dengan jam yang sama. Secara keseluruhan, mata acara itu hanya berdurasi satu jam.

Indosiar pada 1 Oktober tidak menayangkan siaran lokal Jawa Tengah, sedangkan 2 Oktober 2015 hanya mengudara 23 menit lewat acara Bike to Nature pada “jam tahajud” yaitu pukul 03.30-03.53. Satu hari setelahnya lebih parah, hanya 17 menit pada pukul 04.00-04.17 melalui acara Jelajah Masjid. Pada 4 Oktober 2015 juga tak menunjukkan hal yang menggembirakan karena hanya berdurasi 36 menit pada “jam tahajud’ yaitu pukul 03.10-03.46 dengan program acara Teropong dan Bike to Nature. Baru pada 6 dan 7 Oktober 2015 cukup lumayan meskipun masih di bawah batas minimal.  Yaitu pada 6 Oktober menayangkan Catatan Harian Santri (03.28-04.00), Jelajah Masjid (04.01-04.21), dan Fokus Pagi (05.00-05.55) dengan total durasi 107 menit. Sehari setelahnya ada Kisi-kisi (03.10-03.31), Catatan Harian Santri (03.32-03.45), dan Fokus Pagi (05.00-05.55) dengan total durasi 97 menit.

Durasi siaran lokal di bawah satu jam juga masih dilakukan oleh SCTV. Pada 1 Oktober 2015 tidak ada siaran lokal Jawa Tengah, sedangkan pada 2 Oktober 2015 hanya bersiaran 34 menit (05.15-05.49) melalui program Liputan 6. Sehari setelahnya ada acara Lorong Waktu (04.00-04.30) dan Mata Air (04.35-05.00) dengan total durasi 55 menit. Pada 4 Oktober, masih dengan acara dan waktu yang hampir sama dengan sehari sebelumnya, SCTV hanya menghadirkan siaran lokal dengan total durasi 58 menit. Begitu juga dengan 5-7 Oktober, hanya menampilkan Liputan 6 di pagi hari dengan durasi mendekati satu jam.

RCTI tak jauh beda dengan lainnya, masih di bawah minimal. Pada 1 Oktober 2015 hanya menayangkan Seputar Jateng dengan durasi 30 menit (04.30-05.00), dan sehari setelahnya juga sama, 30 menit melalui Seputar Jateng (04.15-04.45). Pada 3 dan 4 Oktober kosong, dan baru ada lagi siaran lokal pada 5-7 Oktober melalui progam dan durasi yang sama. Tak jauh beda dengan RCTI, MNC TV juga demikian. Pada kurun waktu 1-7 Oktober 2015, televisi itu hanya menyiarkan program lokal Jateng pada 3-6 Oktober, sedangkan 1, 2, dan 7 Oktober nihil. Pada 3 Oktober, MNC TV menayangkan Pelesir (Kota Lama) dengan durasi hanya 25 menit pada “jam hantu” yaitu pukul 00.30-00.55. Sehari setelahnya mengudara dengan acara Jendela (DIY) selama 30 menit (00.30-01.00) dan Pelesir (Purbalingga) berdurasi 25 menit (01.00-01.25). Pada 5 Oktober juga tak beranjak membaik karena hanya menayangkan Ayo Main (Magelang) berdurasi 21 menit (00.48-01.09) dan Jendela (DIY) selama 43 menit (01.09-01.52). Sehari setelahnya juga tak jauh beda, yaitu mengudara selama 30 menit dengan program Jendela (01.03-01.33) dan Harmoni Tionghoa Semarang berdurasi 25 menit (01.33-01.58).

Global TV setali tiga uang. Sepanjang 2-8 Oktober 2015, terpantau hanya menayangkan siaran lokal selama 30 menit per hari, dan semuanya pada “jam tahajud”. Pada 2 Oktober bersiaran lokal melalui program acara Hand Made edisi Jalan-jalan ke Kotalama (03.30-04.00). Jam tayang dan durasi yang sama juga terjadi pada tayangan GPS-Dieng Wonosobo, Hand Made-Berkunjung ke Akpol, Tamu Gokil-Wayang Orang Oleh-oleh Irfan Hakim, Hand Made-Jalan-jalan ke Kabupaten Semarang, Tamu Gokil-Jalan-jalan di Keraton Solo, dan Hand Made-Telaga Sarangan, mulai 3-8 Oktober.

Kompas TV, meskipun sudah secara rutin menayangkan program berita Kompas Jateng Sore berdurasi 30 menit mulai pukul 16.00 setiap Senin-Jumat, dan Kuthane Dewe dengan durasi yang sama mulai pukul 04.00 setiap hari, tampaknya masih perlu memaksimalkan porsi siaran lokalnya. Pada 1 Oktober 2015, Kompas TV juga terpantau menayangkan Campursarinan berdurasi 60 menit mulai pukul 15.00, sedangkan 3 Oktober menayangkan Insan Inspiratif berdurasi 30 menit mulai pukul 08.00. Pada 4 Oktober ada program Advontur selama 60 menit mulai pukul 09.00 dan sehari sesudahnya ada acara Uenak Tenan pukul 15.00 selama 60 menit. Pada 7 Oktober, menayangkan Embun Pagi selama 30 menit mulai pukul 03.30.

TV One pada 2-7 Oktober 2015 terpantau menayangkan siaran lokal berdurasi 75-90 menit per hari namun semuanya pada “jam tahajud’. Pada 2-5 Oktober mulai pukul 02.00 menayangkan Indonesia Berzikir selama 15 menit dan dilanjutkan Kamus Kuliner selama 60 menit. Pada 6 Oktober siaran lokal selama 90 menit diawali dengan Bunga Rampai mulai pukul 01.30, dilanjutkan Indonesia Berdzikir, Kisahku, dan Indonesia Berdzikir yang kesemuanya berakhir pada 03.15. Begitu pula pada 7 Oktober, dengan durasi 90 menit, TV One mengawali program acara Riwajatmoe Doeloe pada pukul 01.30, dilanjutkan Indonesia Berdzikir, Riwajatmoe Doeloe, dan Indonesia Berdzikir, berakhir pukul 03.15.

Tayangan lokal pada “jam tahajud” juga dilakukan ANTV. Bahkan hanya mengulang materi sama pada hari yang berbeda. Pada 2 Oktober, tiga program acara lokal ditayangkan televisi tersebut dengan durasi total 90 menit, mulai pukul 02.00-04.00, yakni Panorama Semarang (Eksotisme Karimunjawa), Cahaya Hati Semarang, dan Panorama Semarang (Konservasi Magrove). Pada 3 Oktober, dengan durasi yang sama, juga ditayangkan mata acara yang sama. Pada 4 Oktober diawali dengan Panorama Semarang (Tito Alba Sang Predator), disusul Cahaya Hati Semarang, dan diakhiri Panorama Semarang (Konservasi Mangrove) dengan total durasi 90 menit. Bahkan mata acara Konservasi Mangrove masih diulang pada tayangan 5-7 Oktober. Progam acara Eksotisme Karimunjawa kembali diulang pada 5 Oktober. Pada 6 Oktober untuk mata acara Panorama Semarang menampilkan Menggapai Asa di Betah Walang, sedangkan 7 Oktober menampilkan edisi Legenda Goa Kreo. Secara umum, mata acara tersebut berpotensi diulang-ulang.

Trans TV juga belum maksimal dalam menayangkan siaran lokal. Hasil pengamatan 1-7 Oktober 2015, hanya terpantau ada siaran lokal pada 2, 5, 6, dan 7 Oktober. Durasi rata-rata dua jam, tapi sayangnya tayang pada “jam tahajud” yaitu mulai pukul 03.00. Selain kemungkinan kecil ditonton, beberapa mata acaranya juga sebenarnya untuk anak-anak. Sebut saja pada 2 Oktober yang menayangkan Pesona Semarang (Selebriti on Vacation) dan Sibolang. Pada 5, 6, dan 7 Oktober, selain menayangkan Sibolang, juga Laptop Si Unyil yang secara konten lebih tepat untuk anak-anak. Pada 5 Oktober, juga terpantau menayangkan Pesona Semarang (Termehek-mehek regligi), 6 Oktober Pesona Semarang (kuliner), dan 7 Oktober Pesona Semarang (Selebriti on Vacation).

Pemberian Sanksi

Jika diamati dari durasi, materi siaran, dan jam tayang, ternyata masih jauh dari harapan dan belum sepenuhnya taat pada aturan yang sudah dikeluarkan Pemerintah maupun KPI. Ada yang durasinya cukup panjang, namun tayang pada “jam tahajud’ atau “jam hantu” dan acara diulang-ulang. Ada yang sudah tayang pada jam yang layak, namun durasi masih relatif pendek. Dengan demikian, secara umum, kewajiban untuk bersiaran lokal minimal 10 persen untuk televisi SSJ belum dilakukan sacara maksimal dan optimal.

Sebenarnya Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) baik di pusat maupun provinsi
telah memberikan kesempatan pada televisi SSJ untuk secara bertahap bersiaran
lokal, tidak harus langsung 10 persen. Waktu yang cukup panjang, mulai
dikeluarkannya Permen Kominfo Nomor 43 Tahun 2009 hingga saat ini sudah menjelang  berakhirnya 2015, tentunya bukan pemberian waktu yang singkat untuk menapaki tahapan itu. Berbagai upaya mulai dari sosialisasi, diskusi, sampai dikeluarkannya surat edaran KPI juga sudah dilakukan. Untuk itu, penting kiranya penegakan atas aturan itu mulai dilakukan
secara tegas dan konsisten oleh KPI dan didukung KPID seluruh Indonesia.

Dalam catatan akhir tahun KPI, ada 10 televisi swasta eksisting yang akan habis izinnya pada 2016. Ini kesempatan baik untuk memberikan penekanan pada televisi SSJ tersebut untuk memenuhi kewajiban minimal 10 persen program lokal. Dari hasil pantauan, kesepuluhan televisi SSJ itu bersiaran lokal hanya 30-120 menit per hari. Padahal jika bersiaran 24 jam per hari, seharusnya minimal menyiarkan konten lokal 144 menit (2 jam 24 menit). Persentase itu harus menjadi salah satu dasar penilaian untuk mempertimbangkan pemberian perpanjangan izin. Persyaratan minimal 10 persen konten lokal juga bisa menjadi syarat kelulusan bagi SSJ yang melakukan Evaluasi Uji Coba Siaran (EUCS).

KPI dan KPID tampaknya perlu melakukan terapi kejut dalam penegakan regulasi siaran lokal. Sudah saatnya sanksi kepada lembaga penyiaran yang tidak taat diberikan sebagai pembelajaran agar ke depan bisa memperbaiki konten siarannya. Jika ternyata semua televisi SSJ belum bisa maksimal dan optimal dalam menayangkan siaran lokal, sudah selayaknya sanksi berjamaah diberikan pada mereka sesuai dengan tingkat pelanggarannya. (*)

Penulis adalah wartawan Suara Merdeka di Semarang dan Komisioner KPID Jawa Tengah

 

Comments

comments

Sanksi Berjamaah bagi Televisi SSJ Reviewed by on . APA jadinya jika potensi, konten, dan kearifan lokal diabaikan oleh para pengelola lembaga penyiaran (LP) berjaringan yang ada di Indonesia? Sudah bisa dipastik APA jadinya jika potensi, konten, dan kearifan lokal diabaikan oleh para pengelola lembaga penyiaran (LP) berjaringan yang ada di Indonesia? Sudah bisa dipastik Rating: 0
scroll to top