Pengalaman Meliput Gerhana Matahari 1983 | SM BlogJurnalis

Selasa , 28 Maret 2017

Pengalaman Meliput Gerhana Matahari 1983

7 Maret 2016 23:54 WIB by: Category: Artikel A+ / A-

MENGAPA fenomena Gerhana Matahari (GMT) 2015 ini adem-adem saja, dan jauh dari heboh seperti pada tahun 1983 silam?

Rupanya ada banyak perbedaan masyarakat dalam menyikapi datangnya fenomena alam langka seperti gerhana matahari total (total eclipse) atau GMT antara yang pernah terjadi pada 1983 dengan yang akan terjadi 9 Maret 2016 nanti.

Perbedaan itu terjadi setidaknya dari segi kehebohannya, terutama dalam bentuk sosialisasi pemerintah. Dimana pada GMT 1983 pemerintah sangat masiv melakukan sosialisasi ke masyarakat, bahkan beberapa bulan sebelum GMT berlangsung pada hari Sabtu, 11 Juni 1983, sudah gegap gempita oleh berbagai peringatan.

Gerhana matahari waktu itu melewati sejumlah daerah di Yogyakarta, Semarang, Solo, Kudus, Madiun, Kediri, Surabaya, Makassar, Kendari, dan Papua. Peristiwa alam saat itu berlangsung pukul 11.00 WIB selama enam menit.

Karena satu-satunya media elektronik saat itu yang tersedia hanya televisi pemerintah yakni TVRI, selebihnya adalah media massa cetak yang juga
jumlahnya masih terbatas. Sehingga sosialisasi berupa peringatan akan bahaya melihat langsung matahari hanya ada di spanduk-spanduk di jalan jalan raya, bahkan dari kota sampai ke desa-desa.

Tak terlupakan

Saat itu, saya yang masih menjadi wartawan cetak, memilih meliput fenomena alam itu di Pantai Bandengan, Jepara, adalah pengalaman yang tidak terlupakan.

Spanduk-spanduk soal total eclipse, berisi tidak banyak terkait dengan paket wisata GMT, lebih banyak berisi peringatan akan bahaya melihat langsung matahari. Misalnya ditulis “Dilarang Melihat matahari sangat GMT karena bisa menyebabkan kebutaan”. Spanduk itu tersebar di pelosok-pelok desa.

Pemerintah saat itu melarang masyarakat menatap langsung gerhana matahari. Stasiun TVRI waktu itu menayangkan berulang-ulang menganai bahaya melihat GMT secara langsung. “Hanya satu cara melihat gerhana dengan aman, lihatlah melalui layar TVRI Anda,” begitu TVRI menyerukan dengan tujuan beriklan diri.

Pemerintah membentuk Tim Evaluasi Panitia Gerhana Matahari Total. Setiap berkunjung ke daerah yang terlewati GMT, tim mengkampanyekan larangan
menatap langsung GMT. “Jangan sekali-sekali menatap gerhana. Kebutaan oleh gerhana matahari tak bisa disembuhkan,” begitu kata dokter ahli penyakit mata Tim Evaluasi Panitia Gerhana Matahari Total, seperti dirilis TEMPO.Co.

GMT yang terjadi pada pukul 11 dan berlangsung lebih dari satu jam, subhanallah, sangat fantastik! Karena baru beberapa jam kita menikmati udara pagi dan siang hari di Kota Jepara, tiba-tiba langit sudah gelap gulita. Ya, gelap gulita karena saat itu memang tidak ada penerangan seperti layaknya malam hari.

Hal ini sangat berpengaruh dengan perilaku hewan malam, sehingga saat itu terdengar suara-suara hewan seperti cengkerik, atau burung-burung malam berbunyi bersahutan. Ini sungguh fenomena alam yang meruapakan wujud dari kebesaran dari Tuhan Semesta Alam.

Jika total eclipse tahun 2016 ini ribuan ilmuwan dunia menggeruduk beberapa provinsi yang terlintasi, maka hal yang sama juga terjadi pada GMT 1983. Adalah Tanjung Kodok di pantura timur di Jawa Timur yang menjadi tempat pengamatan favorit para ilmuwan saat itu.

Comments

comments

Pengalaman Meliput Gerhana Matahari 1983 Reviewed by on . MENGAPA fenomena Gerhana Matahari (GMT) 2015 ini adem-adem saja, dan jauh dari heboh seperti pada tahun 1983 silam? Rupanya ada banyak perbedaan masyarakat dala MENGAPA fenomena Gerhana Matahari (GMT) 2015 ini adem-adem saja, dan jauh dari heboh seperti pada tahun 1983 silam? Rupanya ada banyak perbedaan masyarakat dala Rating: 0
scroll to top