Mudik Lebaran : Ritus Budaya yang Tak Bisa Tergantikan Teknologi | SM BlogJurnalis

Kamis , 25 Mei 2017

Mudik Lebaran : Ritus Budaya yang Tak Bisa Tergantikan Teknologi

4 Juli 2016 14:50 WIB by: Category: Blog Jurnalis A+ / A-

TRADISI mudik Lebaran melekat erat dengan Idul Fitri. Kerinduan pulang kampung menetralisasi kerepotan, bahkan jadi pemanis kemenangan. Dan, mudik merupakan potret dialektika budaya yang sudah berlangsung berabad-abad.

Said Aqiel Siradj menempatkannya dalam konteks keberagamaan, kembali ke fitrah sebagai upaya kesalehan yang bersifat spiritual-vertikal yang konkret, dimaknai lewat jalan kesalehan sosio-horizontal. Silaturahim menjadi sarana sekaligus hasil.

Dalam konteks sosio-horizontal, tradisi mudik bisa menjadi cermin pasang-surutnya kehidupan. Jumlah pemudik bisa dijadikan salah satu faktor walaupun tidak otomatis. Membesarnya jumlah pemudik tidak selalu menjadi cermin kemajuan, bahkan bisa sebaliknya.

Lewat televisi maupun media cetak kita menyaksikan kerepotan tahunan. Kita menyaksikan ritus rutin tahunan tersebut berlangsung serupa dari tahun ke tahun. Kedodoran dan grubyak-grubyuk yang selalu berulang.

Tradisi mudik Lebaran menyampaikan pesan konkret. Kita masih perlu terus belajar menangani masalah-masalah yang berkaitan dengan kepentingan umum. Sekali ini, karena sifatnya berkelitan menyatu keberagamaan dan sosial
budaya, penanganan yang baik bagi pemudik pun membawa berkah berlimpah.

Antropolog kelahiran Belanda tahun 1935, Niels Mulder, memberi makna mudik dengan simbol aktifitas migrasi. Menurut dia, mudik adalah sebuah kebiasaan ketika bus dan kereta api sarat penumpang dan kemacetan lalu lintas terjadi di mana-mana di seluruh Jawa.

Orang bergerak dari Jakarta menuju daerah-daerah di Jawa pada akhir Ramadhan. Penggambaran ini tentu saja sangat sempit karena mudik berlaku pula bagi penduduk di kota-kota besar di Jawa menuju ke Sumatra, Kalimatan,
dan daerah lainnya.

Di balik hasrat berlebaran bersama keluarga di kampung halaman ini, kita bisa menemukan aneka cerita menarik dan pernak-pernik lainnya yang menyertai peristiwa mudik ini. Bagi Anda yang mendapatkan jodoh (pasangan
hidup) yang kebetulan masih berasal dari satu daerah yang berdekatan pastinya tidak akan banyak mengalami kesulitan untuk menentukan dimana harus mudik lebaran, tetapi bagi mereka yang mendapat jodoh dengan orang
yang berasal dari tempat yang berbeda dan jaraknya sangat berjauhan mungkin harus ada konsensus tertentu terlebih dahulu. Untuk kepentingan efisiensi, biasanya dipola dan diatur secara bergiliran, misalnya untuk tahun ini
berlebaran dengan orang tua dan keluarga dari pasangan kita, tahun berikutnya berlebaran dengan orangtua dan keluarga sendiri. Yang jelas, mungkin bisa dianggap tidak adil jika hanya berlebaran di salah satu
keluarga saja.

Kedua, mudik lebaran untuk menunjukkan kesuksesan. Secara disadari atau tidak disadari, pada sebagian orang tertentu menjadikan mudik lebaran sebagai ajang untuk menunjukkan diri bahwa dia adalah orang yang telah
sukses, melalui aneka ragam perilaku dan penampilannya, baik mereka yang tampil secara elegan sampai dengan mereka yang tampil norak. Coba saja Anda pancing cerita mereka, kemungkinan yang banyak dibicarakannya adalah
hal-hal positif, dan jarang atau sedikit mereka bercerita tentang penderitaan yang dialaminya selama berada di negeri rantau. Cerita dan penampilan positif inilah mungkin bisa dianggap sebagai salah satu pemicu
kenapa setiap habis lebaran Jakarta selalu disesaki oleh para pendatang baru, yang mungkin tergiur melihat saudara-saudaranya yang dianggap telah sukses merantau di Jakarta.

Ketiga, mudik lebaran menjadikan perputaran uang di kampung halaman semakin meningkat. Ketika seseorang memutuskan hendak mudik lebaran di kampung halaman, pada umumnya mereka telah mempersiapkan segala sesuatunya,
termasuk di dalamnya persiapan ekonomi. Berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun mengais rejeki di negeri rantau, sebagian dia sisihkan untuk kepentingan mudik lebaran. Diantaranya, ada yang berupaya untuk berbagi-bagi rejeki dengan saudara-saudara dan tetangganya di kampung halaman, (termasuk di dalamnya zakat, shadaqah dan infaq). Bahkan ada diantaranya yang sengaja secara royal berbelanja di kampung halaman, dengan nilai rupiah yang tidak sedikit. Tentunya, hal ini akan memicu terjadinya peningkatan perputaran roda ekonomi di kampung halaman.

Dan, tradisi mudik ke kampung halaman untuk merayakan Lebaran akan selalu ada dan terus berlangsung dalam kehidupan sosial budaya masyarakat Indonesia. Sosiolog dari Universitas Gadjah Mada, Arie Sudjito pun secara
tegas dan tentu tidak sedikit yang tidak mengamini bahwa bagi masyarakat Indonesia, mudik ke kampung halaman belum bisa digantikan dengan kemajuan teknologi.

Meski kita akui bersama, tradisi mengirim surat ucapan tersingkir oleh SMS, WhatsAap, atau BBM, kemajuan teknologi seperti telepon atau internet dapat mendekatkan jarak antar individu, tapi dalam tradisi mudik terdapat
beberapa aspek yang tidak bisa diwujudkan dengan teknologi. Selain itu, teknologi belum menjadi bagian budaya mendasar masyarakat Indonesia, terutama yang berada di pedesaan. Mudik akan selalu ada, meski ada
kemungkinan suatu saat akan hilang. Wallahu ‘Alam, Taqabbalallahu minna wa minkum, Shiyamana wa Shiyamakum, Wa Ja’alanallahu Minal ‘Aidin Wal Faizin.
(*)

Comments

comments

Mudik Lebaran : Ritus Budaya yang Tak Bisa Tergantikan Teknologi Reviewed by on . TRADISI mudik Lebaran melekat erat dengan Idul Fitri. Kerinduan pulang kampung menetralisasi kerepotan, bahkan jadi pemanis kemenangan. Dan, mudik merupakan pot TRADISI mudik Lebaran melekat erat dengan Idul Fitri. Kerinduan pulang kampung menetralisasi kerepotan, bahkan jadi pemanis kemenangan. Dan, mudik merupakan pot Rating: 0
scroll to top