Menggagas Wisata Kretek | SM BlogJurnalis

Sabtu , 25 Maret 2017

Menggagas Wisata Kretek

7 September 2016 11:47 WIB by: Category: Artikel, Blog Jurnalis A+ / A-

ISU harga jual rokok akan dipatok oleh pemerintah menjadi Rp 50 ribu per bungkus/kemasan, menguncang industri dan konsumen rokok kretek. Dengan harga tersebut adalah pertanda lonceng kematian akan didentangkan. Tetapi bagi kelompok antitembakau, itu adalah target yang diharapkan dan disambut dengan gegap gempita.
Sesungguhnya, hantaman terhadap rokok (baca: kretek) sudah belasan tahun diancangkan dalam road map pemerintah. Tiap berganti tahun tekanan tersebut semakin lebih keras. Tidak hanya tarif cukainya yang terus naik dari tahun ke tahun, yang selalu sejajar dengan besaran penerimaan yang melebihi target bagi negara dari cukai hasil tembakau itu.
Perlawanan dari kalangan industri kretek mulai produsen, buruh, petani tembakau lokal, serta kelompok masyarakat pembela kretek sepertinya selalu terperangkap dalam ruang hampa. Baik perlawanan yang dilakukan lewat akses politik, ekonomi, sosial, maupun budaya, selalu saja mentok. Dan, ujung-ujungnya, mendapat pukulan balik yang jauh lebih keras serta mengejutkan.
Simbol-simbol yang berlatar belakang kisah kretek sebagai sebuah warisan budaya asli Indonesia telah dibangun oleh produsen, namun selama ini berkesan hanya berhenti sebagai bentukan arsitektural. Tak mampu memengaruhi para pengambil kebijakan publik untuk tidak terseret arus besar gerakan membunuh kretek.
Tak ada apresiasi signifikan dari para penyelenggara negara secara politis maupun yuridis. Sejumlah penyelenggara negara secara personal bersuara melakukan pembelaan kepada kretek, tetapi selalu kandas dalam mencapai tujuannya secara kelembagaan formal negara.
Rupanya diperlukan ikhtiar lain, jika berlebihan disebut sebagai langkah cerdas, dalam memperjuangkan kretek agar tak hanya diposisikan secara terhormat pada soal kontribusi bagi negara dari pungutan cukainya. Namun juga agar eksistensinya secara utuh kemudian diakui pula oleh negara.

Dahsyatnya Folklor
Di Kudus, yang diyakini menjadi tempat kretek lahir, sudah lama berdiri Museum Kretek. Ada pun di Surabaya terdapat House of Sampoerna, yang juga berisi tentang kisah kretek, meski kepemilikan Sampoerna telah cukup lama jatuh ke pangkuan Philip Morris — raksasa produsen rokok putih.
Di Kota Kretek itu pula, berdiri megah Gerbang Kudus Kota Kretek di jalur Pantura tapal batas Kudus dan Demak senilai Rp 16,1 miliar sumbangan PT Djarum. Simbol yang menjadi ruang publik baru yang favorit tersebut, menyusul patung kontemporer yang dibangun di Alun-alun Simpang Tujuh dan Pertigaan Pentol Rendeng.
Berbelas tahun sebelumnya telah ada Tari Kretek, yang sepertinya sudah menjadi kewajiban ditampilkan dalam acara-acara resmi pemerintah. Disusul kemudian film dokumenter Kudus Kota Kretek, belum terhitung belasan buku populer yang mengangkat tentang kretek pula.
Tetapi perjuangan untuk mendapatkan pengakuan resmi dari otoritas bahwa kretek adalah warisan asli bangsa Indonesia yang dilakukan oleh pemerhati dan pembela kretek, hingga kini menemui jalan buntu. Adakah jalan lain, ysng damai dan tanpa menimbulkan kegaduhan, bagi kretek agar kebal dari berbagai upaya pelumpuhan yang dilakukan secara bertubi-tubi?
Sekaranglah saatnya menggarap kretek sebagai sebuah destinasi wisata. Objek wisata budaya dan edukasi, di tengah keyakinan dan semangat Jakarta bahwa pariwisata merupakan andalan sektor ekonomi kreatif. Yang memiliki multiplier efect ekonomi yang sangat signifikan.
Tingkat keberhasilan wisata kretek dari secara kuantitas maupun kualitas, otomotis akan menghasilkan gerakan bawah sadar dalam konteks kampanye bahwa kretek adalah budaya asli Indonesia. Pada gilirannya, alam bawah sadar juga menghasilkan gelombang folklor (berita dari mulut ke mulut), bahwa menghabisi kretek sama dengan menghapus budaya asli Indonesia.
Kesan dan kenangan adalah dua dari unsur Sapta Pesona Pariwisata, dan itu niscaya tak lain adalah kretek yang dilihat/dikunjunginya. Potensi dan daya tarik tersebut tersaji lengkap di Kudus. Tinggal bagaimana cara menyentuh kretek agar memesona tak hanya bagi wisatawan nusantara, sehingga gaungnya menyadarkan warga dunia bahwa kretek memang beda dari rokok putih. Kretek lahir dari nenek moyang warga Nusantara. (***)

Prayitno
Wartawan Harian Suara Merdeka
Tinggal di Kudus

Comments

comments

Menggagas Wisata Kretek Reviewed by on . ISU harga jual rokok akan dipatok oleh pemerintah menjadi Rp 50 ribu per bungkus/kemasan, menguncang industri dan konsumen rokok kretek. Dengan harga tersebut a ISU harga jual rokok akan dipatok oleh pemerintah menjadi Rp 50 ribu per bungkus/kemasan, menguncang industri dan konsumen rokok kretek. Dengan harga tersebut a Rating: 0
scroll to top